JANGAN PERMAINKAN HUKUM!

Kasus penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bukan perkara kecil, maka jangan ada yang menganggapnya kecil. Ujaran kebencian yang ditebarnya dari Kepulauan Seribu September tahun lalu merupakan bentuk intoleransi dan anti kebinekaan yang nyata. Jika dibiarkan, hal itu akan berpotensial mengganggu kerukunan antarĀ  umat beragama dan antar etnik di Negara Pancasila yang berbineka tunggal ika. Maka, tindakan penistaan seperti itu harus diamputasi melalui penegakan hukum yang berkeadilan dan memenuhi rasa keadilan rakyat.

Tuntutan Jaksa Penuntut Umum dalam Pengadilan Kasus Penistaan Agama oleh Sdr. Basuki Tjahaja Purnama, secara kasat mata dirasakan mengabaikan rasa keadilan rakyat dan menunjukkan secara nyata keberpihakan pemerintah untuk melindungi tersangka. Penundaan pembacaan tuntutan dengan alasan yang mengada-ada dan penuntutan hukum sangat ringan yang bertentangan dengan jurisprudensi yang ada dirasakan sebagai kecenderungan untuk mempermainkan hukum. Hal ini jika dibiarkan maka akan menimbulkan ketidakpercayaan (distrust) kepada instansi penegakan hukum dan dapatĀ  menimbulkan ketidaktaatan (disobedience) terhadap hukum dan penegakan hukum.

Oleh karena itu, demi penegakan Negara Berdasarkan Hukum, kecenderungan mempermainkan hukum agar diberhentikan dan Sidang Kasus Penistaan Agama diluruskan. Saatnya rakyat warga negara, lintas agama, suku, golongan dan lapisan, bersatu padu untuk menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jangan usik rasa keadilan rakyat, karena rakyat akan bangkit berdaulat, dan Gusti Allah ora sare (tidak tidur).

Sumber : M. Din Syamsuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *