LGBT, Kisah Nabi Luth dan Kota Pompeii

Suaramuslim.net – Isu LGBT (lesbian, gay, biseksual dan trans gender) kembali menyeruak di muka publik dengan ditangkapnya 144 gay di Ruko Inkopal Jakarta Utara beberapa waktu lalu. Fenomena ini bukan hal baru, ribuan tahun lalu, semasa Nabi Luth sudah terjadi.

Perkembangan isu LGBT tergolong sangatlah cepat. Di Indonesia, di tahun 2009 populasi gay sekitar 800 ribu jiwa. Mereka berlindung di balik ratusan organisasi masyarakat yang mendukungnya. Namun, di penghujung 2013, terdapat dua jaringan nasional organisasi LGBT yang menaungi 119 organisasi di 28 provinsi. Pertama, yakni Jaringan Gay, Waria, dan Laki-Laki yang Berhubungan Seks dengan Laki laki Lain Indonesia (GWLINA) didirikan pada Februari 2007.

Beberapa data yang tersebutkan di atas sudah dapat mewakili bahwa saat ini Indonesia berada dalam krisis moral yang akut dan keberlangsungan hidup manusia terancam. Fenomena LGBT yang kembali mencuat saat ini, mengingatkan pada sebuah kisah di zaman Nabi Luth dan juga kisah serupa di sebuah kota bernama Pompeii.

Kisah Nabi Luth dan Pompeii

Adalah kota Sodom, kota tempat Nabi Luth As diutus untuk menjalankan misi dakwah. Masyarakat Sodom, dikenal sebagai masyarakat tidak mempunyai pegangan agama. Hal itu mengakibatkan kerusakan mental atau nilai kemanusiaan. Kemaksiaatan dan kemungkaran merajalela, menjadi menu keseharian masyarakat Sodom.

Maksiat yang paling menonjol adalah perbuatan homoseksual pada lelakinya dan lesbian pada perempuannya. Perilaku mereka seolah sudah mendarah daging dan menjadi sebuah kebiasaan. Begitu peliknya permasalahan gender dan seks yang terjadi di negeri sodom, hingga Nabi Luth As merasa sedih atas kaumnya.

Kemudian, turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Luth As, “Pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kalian yang tertinggal, kecuali istrimu Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka adalah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?” (QS. Hud: 81)

Nabi Luth keluar bersama anak-anak perempuannya dan istrinya. Mereka keluar di waktu malam. Dan tibalah waktu Subuh. Kemudian datanglah perintah Allah ta’ala,

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang lalim. ” (QS. Hud: 82-83).

Setelah memutar ingatan pada kisah Nabi Luth As di Kaum Sodom, mari kembali merefleksi sejarah serupa di kota Pompeii. Kota ini hampir dua millenium dianggap sebagai kota yang hilang. Kemudian pada tahun 1748 tak sengaja ditemukan, beberapa arkeolog mencari keberadaan artefak berharga dan harta karun di wilayah Campania, tenggara Napoli, Italia. Sejak itulah misteri hilangnya kota Pompeii terkuak. Penemuan  yang berupa artefak-artefak dalam keadaan yang mengerikan, dan jumlahnya mencapai puluhan jasad.

Dari penemuan jasad yang kondisinya utuh dan tidak rusak sama sekali, terungkaplah identistas kota Pompeii waktu itu. Pompei terbukti menjadi kota yang penuh perzinahan, hampir seluruh penjuru kota merupakan tempat prostitusi. Pada masanya, Pompei diyakini telah menjadi surga bagi para kaum homoseksual, bahkan hampir sangat sulit membedakan antara rumah prostitusi dan rumah penduduk biasa.

Dari jasad-jasad yang ditemukan dalam keadaan mengenaskan itu, terlihat berbagai macam ekspresi wajah masyarakat pompei yang ketakutan menghadapi mautnya. Mayat-mayat dengan berbagai pose yang tak lazim itu mengeras, membatu dan diawetkan oleh abu. (muf/smn)


Zaftikan Arin

Bagikan Kebaikan Artikel ini..Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *