NASIHAT ” BIL-HAQ”

Seorang muslim pastinya pernah bahkan sering membaca surat AL-‘ASHR yang terdiri dari 3 ayat ini pada akhir sebuah pertemuan. Kenapa demikian? Karena di dalam surat Al-’Ashr mengandung 3 unsur pokok penting diantaranya berbuat kebaikan atau amal shaleh, menasihati “Bil-Haq” dan bersabar. Lafadz yang berbunyi Watawaashaw bil-haq mempunyai arti “dan mereka saling berpesan tentang kebenaran”. Secara umum lafadz ini mengandung perintah kepada orang islam agar  beriman, beramal shaleh dan senantiasa saling mengingatkan antar sesama orang beriman untuk selalu mengamalkan kebenaran.

Menurut Imam Ibnu Rajab rahimahullah menukil ucapan Imam Khaththabi rahimahullah, Nasehat itu adalah suatu kata untuk menerangkan satu pengertian, yaitu keinginan kebaikan bagi yang dinasehati. Seperti halnya:  jika seorang bapak menyuruh anaknya untuk belajar tajwid maka pesan yang sebenarnya disampaikan adalah bahwa bapak menasehati anak tersebut agar anak tersebut membaca al-Qur’an dengan baik (menggunakan tajwid). Orang hidup adalah orang yang mau berubah menuju jalan kebaikan sedangkan apabila ada orang hidup yang melakukan keburukan/ keahatan maka sebenarnya orang tersebut mati. Salah satu tanda orang yang menuju kejalan kebaikan adalah orang yang mau mendengarkan nasehat serta menjalankan pesan yang terkandung didalamnya.

Seorang yang telah melakukan kebaiakan atau amal saleh sudah sewajarnya mendapatkan manfaat yang diturunkan Allah SWT kepadanya. Sehingga erat kaitannya antara amal shaleh dengan menasehati bil-haq, Muslim yang hidupnya sejahtera pastinya juga menginginkan saudara semuslim turut merasakan apa yang dia rasakan. Maka dari itu, orang yang menasehati sudah seharusnya telah melakukan terlebih dahulu apa yang dia sampaikan karena semua yang kita sampaikan nantinya akan dipertanggungjawabkan kebenaran dihadapn Allah SWT.

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Qiyamah: 36)

Hendaknya senantiasa menjaga lisan dari perkataan yang tidak diperlukan  begitu juga menjaga pendengaran, penglihatan dan hati.

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan & hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Isra’: 36)

Sebagai orang yang menasehati janganlah mudah marah apabila apa yang kita sampaikan tidak dilaksanakan atau mendapat respon yang buruk dari si penerima (orang yang dinasehati). Karena sesungguhnya tugas kita hanya menyampaikan sedangkan yang memberi hidayah hanyalah Allah SWT maka diperlukanlah kesabaran yang dapat melengkapi 2 hal tersebut. Berikut beberapa hal-hal yang dapat kita ambil dari surat Al-‘Ashr :

  1. Saling berpesan (menasehati) untuk mengamalkan kebenaran.

Nasehat adalah sebuah kebutuhan dan kewajiban bagi setiap orang beriman. Hal ini dilakukan karena setiap orang beriman memiliki sifat dinamis baik itu sifatnya ataupun hatinya sehingga diharapkan apabila seorang dalam keadaan drop atau jatuh dapat tertolong dengan rasa peduli kita yang berupa nasehat-nasehat yang kita berikan.

  1. Seorang pemberi nasehat perlu dan wajib untuk dinasehati dan menerima nasehat.

Orang yang memberi nasehat tidaklah selalu benar, maka dari itu seorang yang sering menasehati juga seharusnya setiap hari intropeksi diri agar apa yang disampaikan terhindar dari kesalahan, seperti: munculnya sifat sombong yang berpengaruh dengan apa yang disampaikan.

  1. Materi nasehat itu hanya sebuah kebenaran.

Semua yang kita sampaikan akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. sudah selayaknya materi nasehat yang kita berikan mengandung nilai kebenaran bukan ketenaran, pencitraan, guyonan ataupun oplosan. Tetapi tidak masalah apabila ada penceramah disekitar kita menggunakan guyonan untuk menghilangkan bosan orang yang mendengarkan nasehat kita asalkan dengan sewajarnya.

  1. Dimanapun kita berada, apabila kita melihat orang beriman berbuat dosa maka nasehatilah dengan cara bertahap, beradab dan bijaksana.

Sifat manusia yang tidak mau terkalahkan atau merasa diguruilah yang menjadi salah satu penyebab orang tidak menerima nasehat apa yag kita ucapkan. Maka dari itu, sangat penting sekali bagi kita sebagai orang yang menasehati untuk mengetahui adab-adab dalam memberi nasehat seperti : Menasehati dengan lembut, sopan, dan penuh kasih, Tidak dalam rangka mempermalukan orang yang dinasehati, dll.

  1. Biasakanlah diri untuk mencari nasehat, meminta nasehat, menyimak nasehat, mengamalkan nasehat, menyampaikan nasehat secara benar dan baik.

Orang yang selalu meng-upgrade atau mengubah dirinya dalam kebaikan insyaallah hidup yang dilaluinya juga dipermudah, ditolong olrh Allah SWT.

Akhirnya, Melatih dan mengistiqomahkan diri untuk mengamalkan isi kandungan surat Al-‘Ashr tersebut dapat membuat diri kita lebih dekat dengan Allah SWT. serta dapat dijadikan sebagai salah satu perjuangan harian kita. Perjuangan yang dilakukan dengan semangat kebaikan berpengaruh pada kehidupan kita yang terasa membahagiakan. Barakallah Waallahu ‘alam bi shawab

Refrensi : Ustad Muhammad Sholeh Drehem, Lc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *