3 April 1950: Hari NKRI yang terlupakan

Suaramuslim.net – Hari ini, 3 April, 75 tahun lalu, M. Natsir, Ketua Fraksi Masyumi, menyampaikan pidato fenomenal: “MOSI INTEGRAL.”

M. Natsir melalui pidato tersebut, mengimbau anggota parlemen agar mau berubah dari Republik Indonesia Serikat (RIS) ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). M. Natsir, sebelumnya, menghubungi para raja dan kepala negara bagian agar mau bergabung dalam NKRI.

Alasan pembentukan NKRI

“Mengapa Abah menolak masuk dalam kabinet Hatta,” tanyaku ketika pertemuan rutin Nasi Bungkus baru dimulai. Nasi Bungkus adalah nama forum diskusi, transfer pengalaman, dan penggodokan gagasan tokoh-tokoh Masyumi, sejak 1981-1984.

“Saudara Abdullah, Indonesia itu negara berdaulat, sejak diproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945.” Abah Natsir memulai penjelasannya.

Pertama, kata beliau, mengapa harus ada negara Indonesia-Belanda yang dipimpin Ratu Wilhelmina?

Kuperhatikan ekspresi pak Roem yang duduk di samping pak Syafruddin Perwiranegara. Sebab, pak Roem adalah salah seorang delegasi Indonesia yang hadir dalam Konferensi Meja Bundar (KMB), Denhaag, Belanda (1949). Pak Roem, hanya mengangguk pelan, ketika mendengar jawaban Abah Natsir.

Irian Barat dan Kesultanan Ternate

Abah Natsir menjelaskan alasan kedua, mengapa beliau menolak masuk dalam kabinet Hatta. Sebab, kabinet Hatta adalah pemerintahan Republik Indonesia dalam Negara Indonesia Serikat (RIS), hasil KMB. Republik Indonesia adalah salah satu dari 16 negara bagian, hasil KMB tersebut.

Saudara harus ingat, Irian Barat itu, salah satu wilayah kekuasaan dari Kesultanan Ternate. Bagaimana Belanda tidak menyerahkannya bersama wilayah Indonesia lainnya, tapi harus dilakukan jajak pendapat khusus di provinsi tersebut?

Sebagai Putera Maluku di mana ibuku, kelahiran Ternate, mengerti masalah ini. Sebab, ibu kota Irian Barat waktu itu di Soasiu, Halmahera. Wajar jika Abah Natsir menolak putusan KMB tersebut, khususnya mengenai status Irian Barat.

M. Natsir, arsitek NKRI

Mosi Integral M. Natsir, 3 April 1950 tersebut diterima secara aklamasi oleh parlemen: Indonesia menjadi NKRI. Bukan lagi RIS.

Presiden Soekarno, dalam pidato 17 Agustus 1950 secara resmi mengumumkan Indonesia menjadi NKRI. Rosihan Anwar, wartawan senior masa itu, di istana negara menanyakan, “Siapakah calon Perdana Menteri NKRI? Apakah Natsir?”

“Siapakah lagi kalau bukan Natsir,” jawab presiden Soekarno dengan tegas. Indonesia sejak itu masuk dalam babak baru, 3 April 1950 sebagai NKRI.

Prabowo, sebagai presiden Indonesia hari ini, jika mau membuat sejarah, menerbitkan ketetapan, 3 April 1950 sebagai Hari NKRI. Apalagi, ayah beliau, Soemitro juga salah seorang Menteri dalam Kabinet Natsir. Bahkan, atas rekomendasi abah Natsir, Prabowo mendapat jatah sekian ribu barel minyak setiap hari dari Arab Saudi ketika Prabowo “mengungsi” di Jordan.

Mencintai Indonesia sampai akhir hayat

Tiga aktivis mahasiswa Yogyakarta, tahun 1983, beraudiensi dengan abah Natsir di Kantor DDII.  Abah Natsir, seperti lazimnya, jika ada tamu mahasiswa, pemuda, atau pelajar, saya diminta untuk mendampinginya.

Jubir mahasiswa Yogyakarta tersebut, almarhum Fichiruddin mengajukan gagasan yang super dahsyat. Beliau minta agar abah Natsir mengeluarkan maklumat perang ke Soeharto. Saya terperanjat mendengar permintaan tersebut.

“Berapa divisi di belakang saudara?” Tanya abah Natsir, mengagetkan, tidak saja diriku, tapi juga para mahasiswa tersebut. Mereka terdiam.

“Saya dulu di Sumatera, berapa divisi di belakang kami. Namun, apa yang terjadi sesudah itu,” Abah Natsir menarik nafas.

“Saya waktu jadi pelajar di Bandung dulu, sendirian datang ke kafe-kafe, melemparinya dengan botol,” tandasnya. Masyaa Allah, saya terperangah.

Saya membatin: “Dulu ketika kuliah di Makassar, juga ikut menggeruduk night club, tapi berombongan. Ini Abah Natsir, sendirian.”

Ketiga mahasiswa tersebut sadar, mereka tidak bisa mendikte Abah Natsir, lalu mengajukan permintaan terakhir. Mereka mengajak Abah Natsir agar ikut hijrah bersama mereka ke Malaysia.

“Tidak. Saya sudah tua. Biar saya meninggal di Indonesia saja.” Masyaa Allah!!!. Cintanya ke tanah air mengalahkan keegoan lainnya.

NKRI harga hidup

Awal tahun 1984, saya memoderatori suatu diskusi terbatas yang diikuti para sarjana Keluarga Besar Bulan Bintang (pertemuan ini menjadi cikal bakal terbentuknya ICMI). Narasumber tunggal dalam diskusi yang berlangsung di kantor LIPPM tersebut adalah Abah Natsir.

Beliau menggagas pentingnya keterlibatan para sarjana Keluarga Besar Bulan Bintang dalam memajukan umat dan bangsa Indonesia. Diskusi menghangat.

Saya sebagai moderator lalu mengusulkan satu gagasan yang sedikit “nakal.” Kuusulkan agar kita membentuk negara federasi selama beberapa tahun terlebih dahulu baru kembali lagi ke NKRI.

Maksudku, bisa berlaku syariat Islam di Aceh, Sumbar, Banten, Jabar, Jatim, Kalsel, NTB, Sulsel, dan Maluku Utara. Dampak positifnya, provinsi-provinsi tetangga akan meneladani hal tersebut. Jika sudah dalam keadaan seperti itu, negara boleh kembali lagi ke bentuk NKRI.

Kulirik wajah Abah Natsir yang duduk di sampingku. Saya kaget. Sebab, wajah beliau merah, cemberut. Saya secepat kilat meralat ide “gila” saya tadi.

Ternyata, cintanya Abah Natsir terhadap NKRI, bukan hanya politik praktis, tetapi juga ideologis. Semoga beliau dan tokoh-tokoh Masyumi lainnya, tenang di alam sana dalam maghfirah dan kasih sayang Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

Abdullah Hehamahua
Kuala Lumpur, 3 April 2025

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.