5 langkah transformasi diri menjadi “wali Allah” melalui puasa Ramadhan

Suaramuslim.net – Kekasih Allah dalam bahasa arab biasa disebut dengan waliyullah. Waliyyun (ولي) yang jamaknya adalah awliya’ (اولياء) memiliki arti; mencintai, sahabat, penolong.

Jadi kalimat waliyullah adalah orang yang mencintai Allah, penolong agama Allah dan selalu bersahabat dengan agama Allah. Bahasa yang sederhana adalah ‘Kekasih Allah’ atau ‘PecintaNya’, inilah waliyullah.

Ramadhan adalah bulan yang sangat spesial bagi umat Islam. Bulan yang dapat menjadi pintu yang menuju pada pembentukan pribadi-pribadi yang mencintai Allah. Inilah kesempatan emas untuk menjadi waliyyullah!

A. Puasa sebulan Ramadhan itu membentuk pribadi yang bertakwa

Puasa Ramadhan selama sebulan dapat mendidik kepatuhan terhadap perintah Allah. Karena dalam puasa seorang tidak makan dan minum dalam kurun waktu tertentu yang membuatnya taat kepada batasan waktu itu.

Puasa Ramadhan melahirkan perasaan kesabaran akan apa yang akan terjadi dan yang sedang terjadi. Bukankah ketika sesorang berpuasa dia sabar untuk tidak melakukan apa yang boleh dilakukan di luar puasa? Apalagi terhadap sesuatu yang terlarang.

B. Puasa selama sebulan melahirkan rasa empati dan simpati kepada kesusahan orang lain

Bahkan di saat susah tetap dianjurkan untuk berbagi kepada sesama muslim dan sesama manusia.

C. Puasa sebulan Ramadhan menghapus dosa di masa lalu dan yang akan datang

Bayangkan setiap hari dosa-dosa yang lalu dan yang akan datang terhapus dan itu selama sebulan, masyaAllah!

Dari tiga poin di atas pastilah kalau puasa yang benar itu akan melahirkan sosok-sosok waliyyullah.

Bandingkan dengan ciri-ciri waliyullah dalam Al-Qur’an dan hadis

a. Tidak pernah khawatir terhadap apa yang belum terjadi dan tidak sedih jika sudah tertimpa yang dikhawatirkan.

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS. Yunus: 62)

b. Beriman dan bertakwa

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

c. Bahagia dan istiqamah dalam iman dan amaliyah

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushshilat: 30)

d. Mencintai amalan sunnah Nabi Muhammad

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِيْ لَأُعِيْذَنَّهُ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya.

Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya. (Riwayat Al-Bukhari).

5 langkah transformasi agar puasa Ramadhan menjadikan kita waliyyullah

Puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan semata mata mengikuti perintah Allah.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Puasa dengan menjalankan kewajiban ibadah yang lainnya serta amalan sunnah lainnya. Seperti salat wajib dan rawatib ditambah salat malam dan tarawih. Membaca Al-Qur’an dan jika dapat mengkhatamkannya.

Mengetahui ilmu-ilmu terkait Fiqh Puasa agar puasanya sah dan diterima secara syari.

“Puasa 24 jam”, yaitu siang hari menahan diri tidak makan minum dan tidak berhubungan suami istri. Malam hari tetap lanjut puasa dengan menahan diri tidak berlebihan dalam hal yang dibolehkan.

Selama Ramadhan perbanyak munajat dan berdoa kepada Allah agar dibantu untuk meraih kemuliaan menjadi waliyyullah. Wallahu A’lam.

M Junaidi Sahal
Disampaikan di Radio Suara Muslim Surabaya
12 Februari 2026/24 Syaban 1447

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.