Industri Kebohongan

Industri Kebohongan

Industri Kebohongan
Ilustrasi kebohongan informasi yang disebarkan melalui surat kabar.

Suaramuslim.net – Belum lama ini ada buku berjudul Lies, Incorporated, (2016) yang membuka sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan, bahwa ternyata di tengah kehidupan masyarakat Amerika, ada industri yang memproduksi kebohongan yang terorganisir dan cukup rapi.

Kebohongan yang sudah jadi industri itu, di Amerika dapat melumpuhkan proses legislatif yang sedang membicarakan aturan undang-undang mengenai pertembakauan, layanan publik, perubahan iklim, gun control, imigrasi, aborsi,  alkohol, perkawinan sejenis kelamin (same-sex marriage) dan lain sebagainya.

Industri kebohongan ini ternyata didukung oleh sebagian politisi busuk, dan kelompok-kelompok kepentingan (interest groups) guna menghancurkan kebenaran. Saya kuatir, di Indonesia diam-diam juga sedang tumbuh industri kebohongan yang dapat menghancurkan kebenaran, yang pada gilirannya akan merusak cara berpikir sebagian besar rakyat yang umumnya malas berpikir, karena untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja harus berjuang jatuh bangun.

Tentang industri kebohongan di Indonesia sesungguhnya mudah kita kenali. Misalnya muncul beberapa orang tiba-tiba dari kegelapan, kemudian menghujat, melakukan misinformasi, bahkan disinformasi, dalam rangka melakukan penugasan politik dari kekuatan politik siluman. Di Indonesia gejala-gejala media massa mainstream, yang secara sadar atau tidak telah menjadi bagian dari industri kebohongan publik itu, memang harus kita hindari dan kita perangi.

Yang berkembang meluas pada 4 tahun terakhir ini, di samping budaya tipu-tipu, juga makin parah lagi, mengarah menjadi lying culture, budaya menipu, budaya pengibulan. Bagi-bagi sertifikat untuk rakyat kecil kita masih berlangsung. Tetapi tidak pernah berani menyentuh hak eksklusif, hak terlindungi, tapi sangat merugikan bagi Indonesia, yakni HPH oknum-oknum tertentu yang tidak masuk akal, tidak adil, tidak pantas, yang jumlahnya meliputi jutaan ha.

Pada awal 2015 Reformasi Agraria yang dijanjikan akan dilaksanakan untuk mengurangi ketimpangan kehidupan para petani, kini sudah senyap. Dari sekitar 27 juta petani, sekitar 57 persen adalah petani gurem. Sementara sekitar 10 korporasi besar menguasai hingga ribuan ha tanah.

Ada baiknya calon penguasa baru nanti memperhatikan nasihat wanita besi Inggris, Margaret Thatcher: “Watch your thoughts, for they become your words. Watch your words for they become your actions. Watch your actions, for they become your habits. Watch your habits for they become your character and watch your character, for it becomes your destiny.”

Ada kearifan nenek moyang kita yang lebih pendek dan lugas dibandingkan nasihat Thatcher di atas, dan juga gampang diingat: “Berkata sepatah pelihara lidah, berjalan selangkah pelihara kaki.”*

Dikutip dari e-book karya Prof. M. Amien Rais berjudul “Hijrah; Selamat Tinggal Revolusi Mental Selamat Datang Revolusi Moral.”

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment