ACEH (Suaramuslim.net) – Untuk mematangkan program pemulihan (recovery) pascabencana longsor dan banjir bandang di Aceh-Sumatra, Lembaga Amil Zakat dan Nadzir Wakaf Nasional Yayasan Dana Sosial al Falah (YDSF) melakukan silaturahmi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Pendidikan Dayah (Pesantren) Provinsi Aceh, Jumat (23/1/26).
Pertemuan yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh (DPDA), Muhsin dan beberapa kepala bidang itu mendiskusikan program recovery yang akan dilakukan YDSF pasca tanggap darurat bencana banjir dan longsor beberapa waktu lalu.
Kepada DPDA, Jauhari Sani selaku Direktur Utama YDSF menyampaikan beberapa kegiatan yang akan dilakukan selama recovery seperti program sanitasi dan air bersih, perbaikan sarana pendidikan serta Kampung Ramadhan.
“Kami mohon arahan dan informasi dari Dinas Pendidikan Dayah terkait kondisi di lapangan agar program yang akan kami jalankan sesuai kebutuhan,” kata Jauhari saat pertemuan di kantor DPDA.
Jauhari menjelaskan, program pemulihan yang akan dilakukan YDSF utamanya akan berfokus pada pembenahan sarana dan prasarana pendukung pendidikan, baik itu pendidikan dasar maupun pesantren.
Beberapa di antara yang harus segera ditangani adalah air bersih (MCK), perlengkapan alat sekolah hingga mebeler atau bangku kelas.
Plh. Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin menyampaikan, secara umum, total pesantren yang di Aceh ada 1.800, sekitar 600 di antaranya terdampak bencana dan 125 dayah belum bisa memulai kegiatan karena mengalami kerusakan parah.
Melihat kondisi tersebut, Muhsin sangat berharap program recovery dari YDSF nantinya akan mengutamakan daerah-daerah yang terdampak serius, seperti di Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan Kabupaten Pidie Jaya.
“Insya Allah nanti ada lima program yang akan dijalankan bersama, sanitasi air bersih, sarana prasarana, pemberdayaan santri, bantuan untuk anak yatim, dan trauma healing untuk anak-anak,” ujarnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murtala Mudin mengungkapkan, kondisi tingkat kehadiran siswa di sekolah pasca bencana di bawah 70 persen.
Menurut Murtala, kondisi itu disebabkan siswa berada di lokasi pengungsian dan orang tuanya sebagai korban bencana tidak memiliki penghasilan sekaligus kendaraan yang sebelumnya dipakai mengantar rusak dan hilang.
“Kami berharap, bantuan YDSF yang diberikan nanti fokus di permasalahan ini karena tidak banyak yang tahu, sehingga siswa bisa sekolah lagi dengan bantuan biaya transportasi,” harap Murtala.
Program recovery yang akan dijalankan itu nantinya akan berkolaborasi dengan mitra lokal Aceh Hijau, yang sudah lama menangani program-program sosial kemanusiaan dan pemberdayaan.
Sebagai tambahan, pada saat tanggap darurat lalu, YDSF telah mengirimkan empat tim Unit Aksi Cepat ke lokasi dengan beragam penanganan, mulai dari pembukaan dapur umum, bantuan sembako, hyegien kit, alat sekolah, droping air bersih hingga trauma healing.
Pewarta: Mutia Arifin
Editor: Muhammad Nashir

