Gen Z, Teori Z, dan kerinduan pada etika kerja yang manusiawi

Suaramuslim.net – Pada suatu titik, kita barangkali perlu berhenti sejenak dan bercermin: mengapa begitu banyak anak muda hari ini enggan “berlama-lama” di tempat kerja, padahal akses pendidikan, teknologi, dan peluang terbuka jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya?

Apakah benar Gen Z bermasalah dengan etos kerja, atau justru dunia kerja yang pelan-pelan kehilangan jiwanya? Pertanyaan ini terasa tidak nyaman, tetapi justru di sanalah persoalan mendasarnya bersemayam.

Gen Z kerap dipotret sebagai generasi rapuh, mudah bosan, dan miskin loyalitas. Namun pembacaan yang serba menyederhanakan semacam ini justru menutup pintu refleksi yang lebih jujur.

Di balik fleksibilitas kerja dan kemajuan digital, tersembunyi kegelisahan yang lebih mendalam: krisis makna. Banyak anak muda bekerja keras, tetapi merasa kosong. Mereka produktif, namun terasing. Dunia kerja perlahan berubah menjadi ruang transaksi, bukan lagi ruang pertumbuhan manusia.

Kegelisahan semacam ini sejatinya bukan barang baru. Pada awal 1980-an, William Ouchi memperkenalkan Teori Z sebagai kritik atas manajemen modern Barat yang terlalu mekanistik dan dingin.

Ouchi melihat bahwa organisasi yang hanya bertumpu pada efisiensi, kontrol ketat, dan target jangka pendek justru rapuh dalam jangka panjang. Dari kegelisahan itulah Teori Z lahir—sebuah pendekatan yang menekankan kepercayaan, loyalitas jangka panjang, pengambilan keputusan kolektif, serta perhatian pada manusia secara utuh.

Menariknya, kegelisahan yang melahirkan Teori Z puluhan tahun lalu kini menemukan gaungnya kembali dalam sikap kritis Gen Z terhadap dunia kerja.

Di era Gen Z, Teori Z tidak cukup dipahami sebagai model manajemen, tetapi perlu dimaknai ulang sebagai etika kerja. Generasi ini tumbuh dalam dunia yang serba cepat, penuh pilihan, namun miskin kedalaman relasi.

Mereka bukan anti-kerja keras, melainkan alergi terhadap ketidakadilan, kepalsuan, dan relasi kerja yang semata-mata transaksional. Loyalitas, bagi Gen Z, bukan soal lamanya bertahan, melainkan seberapa besar rasa memiliki dan kebermaknaan yang mereka rasakan.

Di titik inilah banyak organisasi keliru membaca situasi. Loyalitas dituntut, tetapi kepercayaan diabaikan. Komitmen diminta, tetapi kebersamaan tak pernah sungguh-sungguh dibangun. Padahal, inti Teori Z menegaskan bahwa loyalitas tidak lahir dari kontrak dan pengawasan berlebihan, melainkan dari relasi yang manusiawi. Ketika pekerja dilibatkan, didengarkan, dan diperlakukan adil, komitmen tumbuh bukan karena takut, melainkan karena percaya.

Pandangan ini sejalan dengan khazanah tasawuf Islam yang sejak awal menempatkan kerja bukan sekadar aktivitas lahiriah, melainkan laku batin yang sarat makna.

Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, Imam Al-Ghazali menempatkan niat sebagai ruh setiap amal. Kerja yang tercerabut dari niat, amanah, dan kesadaran relasional berisiko berubah menjadi beban yang melelahkan jiwa; produktif secara lahir, namun hampa secara batin.

Nada serupa kita temukan dalam pemikiran Jalaluddin Rumi. Melalui syair-syairnya, Rumi kerap mengingatkan bahwa manusia bukan makhluk rutinitas, melainkan makhluk makna.

Ketika kerja direduksi menjadi angka, target, dan laporan, sementara ruang batin diabaikan, jiwa akan mencari jalan keluar; melalui kejenuhan, sikap apatis, atau keputusan meninggalkan sistem yang tak lagi memberi ruang hidup. Fenomena inilah yang banyak kita saksikan pada Gen Z hari ini.

Islam juga memandang kerja sebagai amanah sosial sekaligus spiritual. Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam berulang kali menegaskan bahwa nilai amal tidak semata ditentukan oleh bentuk lahiriahnya, melainkan oleh kesadaran manusia akan posisinya di hadapan Tuhan dan sesama.

Dalam perspektif ini, kerja bukan hanya sarana mencari nafkah, melainkan ruang pembentukan akhlak dan tanggung jawab kolektif. Teori Z, jika dimaknai secara etis, bergerak searah dengan pandangan ini.

Dalam konteks Indonesia, nilai kebersamaan sejatinya telah lama hidup dalam budaya gotong royong, pesantren, dan komunitas keagamaan. Ironisnya, banyak organisasi modern justru mengadopsi sistem kerja yang kaku, hierarkis, dan miskin empati.

Dunia kerja terasa dingin, sementara Gen Z tumbuh dalam budaya dialogis dan kolaboratif. Kesenjangan inilah yang melahirkan keterasingan.

Karena itu, tantangan hari ini bukanlah mendisiplinkan Gen Z agar tunduk pada sistem lama, melainkan menata ulang sistem agar kembali manusiawi. Teori Z di era Gen Z perlu diwujudkan dalam kepemimpinan partisipatif, budaya kerja berbasis kepercayaan, serta kebijakan yang menghargai keseimbangan hidup.

Fleksibilitas bukan ancaman, melainkan ekspresi kepercayaan. Teknologi bukan lawan kebersamaan, selama dibingkai dalam nilai.

Rekomendasinya tegas. Pertama, organisasi perlu menggeser paradigma dari kontrol menuju kepercayaan. Kedua, kepemimpinan harus hadir sebagai teladan moral, bukan sekadar pengawas kinerja. Ketiga, kerja perlu dikembalikan sebagai ruang tumbuh bersama, bukan arena saling menekan. Tanpa perubahan ini, jurang antara Gen Z dan dunia kerja akan terus melebar.

Pada akhirnya, persoalan terbesar dunia kerja hari ini bukanlah perbedaan generasi, melainkan hilangnya ruh kebersamaan. Teori Z mengingatkan bahwa organisasi yang berumur panjang bukan yang paling efisien, melainkan yang paling manusiawi. Dan bagi Gen Z, bekerja dengan hati bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan.

Semoga dunia kerja kita kembali menjadi ruang amanah; tempat manusia bekerja bukan hanya untuk hidup, tetapi untuk menumbuhkan makna, martabat, dan keberkahan.

Heri Cahyo Bagus Setiawan
Dosen Pengajar MSDM di FEB Universitas Negeri Surabaya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.