Tiga santri dan satu kotak amal, mengapa lingkungan agama tidak otomatis melahirkan akhlak yang kokoh?

Al Ghaffar

Suaramuslim.net – Ada kabar yang bikin dada sesak: kotak amal di masjid dicuri. Yang bikin tambah pahit, pelakunya bukan anak jalanan yang tak pernah kenal pengajian, melainkan tiga anak muda yang sedang belajar di pondok pesantren.

Di situ rasanya kita langsung berhenti. Peristiwanya kecil kalau dilihat dari jumlah uang yang mungkin hilang, tapi maknanya tidak kecil.

Peristiwa itu terjadi pada pertengahan April 2026. Tentu kita tidak boleh gegabah lalu menganggapnya sebagai wajah semua pesantren. Itu ngawur. Terlalu banyak kebaikan yang lahir dari dunia pondok di negeri ini. Terlalu banyak anak yang diselamatkan hidupnya oleh pesantren, lalu pulang ke masyarakat membawa ilmu, adab, dan manfaat. Justru karena pesantren punya martabat tinggi, kejadian itu terasa lebih menampar.

Yang membuat peristiwa ini berat bukan cuma karena ada pencurian. Yang membuatnya berat adalah tempatnya: masjid, yang diambil kotak amal, dan yang melakukannya anak-anak yang sedang belajar agama. Kombinasi itu yang membuat kita sulit menerima.

Ada yang terasa tidak pas. Ada yang sungguh tidak beres.

Formalisasi agama tanpa internalisasi moral

Mungkin di sinilah letak masalahnya. Kita sering merasa kalau anak sudah masuk lingkungan agama, urusan akhlak otomatis beres. Padahal tidak selalu begitu.

Ada yang rajin, tapi batinnya belum tertib. Ada yang dekat dengan kitab, tapi belum selesai dengan dirinya sendiri. Ada yang tahu larangan, tapi belum punya rem yang cukup kuat saat godaan datang.

Kalau mau diringkas dalam satu kalimat, ini bisa dibaca sebagai gejala formalisasi agama tanpa internalisasi moral.

Agama ada di permukaan: jadwalnya ada, pelajarannya ada, suasananya ada, simbolnya juga ada. Tapi yang di dalam hati belum tentu ikut tumbuh. Belum tentu rasa malu hidup. Belum tentu amanah jadi watak. Belum tentu adab menjadi kebiasaan.

Itulah sebabnya kasus ini terasa pahit. Bukan karena kita benci pesantren. Justru karena kita menaruh hormat di sana.

Dalam teori pendidikan karakter yang dipopulerkan Thomas Lickona pada 1991, pendidikan moral tidak cukup berhenti pada pengetahuan moral (moral knowing). Pendidikan juga harus menyentuh perasaan moral (moral feeling) dan tindakan moral (moral action).

Dengan kata lain, anak tidak cukup hanya mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi juga perlu ditumbuhkan kemauan untuk mencintai yang baik serta dibiasakan untuk melakukannya.

Jika dibaca lebih jauh, kerangka Thomas Lickona itu dapat dipertemukan dengan taksonomi tujuan pendidikan Benjamin Bloom.

Pengetahuan moral (moral knowing) bergerak pada ranah kognitif, sedangkan perasaan moral (moral feeling) bersentuhan dengan ranah afektif. Dari titik itu, tindakan moral (moral action) dapat dipahami sebagai kelanjutan dari nilai yang tidak hanya diketahui, tetapi juga dihayati dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan begitu, pendidikan karakter memang tidak cukup berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga harus menyentuh pembentukan sikap dan pembiasaan tindakan.

Di situlah gagasan Lickona menjadi penting: pendidikan moral yang utuh harus menjangkau kepala, hati, dan tindakan sekaligus.

Dalam khazanah Islam, gagasan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Ibn Miskawayh, melalui pemikirannya tentang pembinaan akhlak dalam Tahdhib al-Akhlaq, menegaskan bahwa watak yang baik tidak lahir hanya dari pengetahuan, tetapi dari latihan jiwa yang terus-menerus sampai kebaikan itu menjadi kebiasaan.

Dengan kata lain, akhlak bukan sekadar sesuatu yang diketahui, melainkan sesuatu yang dibentuk, dijaga, dan dilatih dalam kehidupan sehari-hari. Di titik inilah pandangan Ibn Miskawayh terasa sejalan: ilmu yang tidak turun menjadi kebiasaan batin belum cukup kuat untuk menjaga manusia saat diuji.

Jadi masalahnya bukan pada absennya pelajaran agama, melainkan pada belum tuntasnya proses membangun nilai yang benar-benar hidup di dalam diri.

Kalau nilai-nilai masih berhenti di kepala, orang bisa fasih bicara tentang dalil, tapi bisa goyah saat diuji. Orang tahu mencuri itu haram, tetapi tetap melakukannya. Mereka tahu batasnya, tahu salahnya, bahkan mungkin tahu ancamannya. Tetapi pengetahuan itu belum cukup kuat berubah menjadi rem di dalam jiwa.

Di situ kita melihat jarak yang tidak selalu tampak dari luar: jarak antara tahu dan menjadi. Dan sering kali, justru jarak itulah yang paling menentukan.

Pendidikan melahirkan manusia yang utuh

Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi (Gontor) mengingatkan bahwa pendidikan yang hanya menonjolkan aspek kognitif tidak akan melahirkan manusia yang utuh.

Dalam pandangannya, pesantren semestinya membentuk manusia yang ‘ilman, khuluqan wa adaban—berilmu, berakhlak, dan beradab. Itu penting. Sebab orang yang berilmu belum tentu otomatis beradab, padahal pendidikan Islam tidak pernah berhenti di urusan pintar.

Hal yang sejalan juga ditekankan oleh Dr. Adian Husaini, cendekiawan muslim, peneliti INSISTS. Ia menyebut pendidikan adab sebagai basis pendidikan. Kalimat ini pukulannya kuat. Kalau adab tidak diletakkan di dasar (fondasi), ilmu bisa naik ke kepala tanpa sempat menjadi watak atau perangai. Anak bisa paham banyak hal, tapi tetap ringkih saat berhadapan dengan godaan.

Dari sini kita jadi agak paham: kejadian seperti ini biasanya tidak lahir dari satu sebab. Bisa ada faktor pribadi, tentu saja. Kontrol diri lemah. Rasa malu tipis. Nafsu keburu menang. Tapi karena pelakunya tiga orang, ada kemungkinan faktor kelompok (peer group) juga bekerja. Kesalahan yang dilakukan bersama sering terasa lebih ringan. Orang yang sendirian mungkin masih ragu, tapi ketika ramai-ramai, rasa salah itu bisa menurun.

Kalau ada yang perlu diperkuat ke depan, mungkin bukan pertama-tama aturan yang lebih banyak, melainkan pengasuhan yang lebih hidup.

Anak-anak pondok tidak cukup hanya dijaga jadwalnya, tetapi juga perlu dibaca jiwanya. Adab juga tidak cukup diajarkan, melainkan harus dihidupkan terus dalam kebiasaan sehari-hari, terutama dalam urusan amanah, tanggung jawab, dan kejujuran. Dan satu lagi, kesalahan kecil jangan terlalu gampang dianggap biasa. Sebab yang kecil-kecil itulah kadang tumbuh diam-diam, lalu pecah saat kita semua terlambat menyadarinya.

Di sisi lain, kita juga patut jujur bahwa pendidikan akhlak memang tidak cukup diserahkan pada pelajaran. Ia tumbuh dari suasana, dari lingkungan sekitar. Dari keteladanan. Dari cara yang tua menegur yang muda. Dari cara pelanggaran kecil diperlakukan. Dari kebiasaan sehari-hari yang lama-lama membentuk rasa malu dan rasa takut berbuat curang.

Jadi, masalah seperti ini tidak cukup dijawab dengan kemarahan dan menambah nasihat. Yang perlu dibenahi justru hal-hal yang kelihatannya kecil, tapi berlangsung setiap hari.

Apalagi pesantren saat ini. Anak datang membawa pengaruh rumah, pergaulan, internet, budaya instan, dan macam-macam masalah. Maka ketika ada santri tergelincir, kita memang berhak prihatin. Tapi kita tidak perlu buru-buru menghakimi. Kita perlu mengakui bahwa mendidik akhlak memang pekerjaan susah, lama, dan tidak pernah instan.

Barangkali itulah pelajaran paling pahit dari Tiga Santri dan Satu Kotak Amal.

Bahwa pendidikan agama tidak cukup hanya melahirkan kedekatan dengan masjid, kitab, dan rutinitas yang religius. Sebab ketika semua itu belum benar-benar menjelma menjadi adab dan akhlak, yang lahir adalah formalisasi agama tanpa internalisasi moral. Dan dari sanalah ironi yang menyakitkan itu bermula.

Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim

Opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan, dapat memberikan hak jawabnya. Redaksi Suara Muslim akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.