Apa yang terjadi pada pikiran manusia dalam sepuluh menit berselancar di media sosial?

Menjadi Orang Tua Bagi Generasi Digital

Suaramuslim.net – Hanya dalam waktu sepuluh menit, seseorang bisa berpindah dari tayangan islami, berita politik, adegan yang menyentuh hati, iklan komersial, kisah menyedihkan, video lucu, pesan pekerjaan, foto kesuksesan, komentar penuh amarah, informasi ilmiah, hingga video yang bahkan tidak ia ketahui mengapa ia menontonnya.

Semua itu terjadi hanya dalam beberapa menit.
Pertanyaannya bukanlah apakah konten tersebut baik atau buruk?

Namun, apakah akal manusia memang diciptakan untuk menerima begitu banyak kontradiksi dan ledakan emosi secara beruntun dengan kecepatan seperti itu?

Masalahnya, pikiran tidak sempat menjalani satu gagasan secara mendalam.

Ia tidak cukup bersedih, tidak cukup merenung, dan tidak cukup merasakan kebahagiaan, karena terus-menerus ditarik dari satu perasaan ke perasaan lain, serta dari satu pikiran ke pikiran berikutnya tanpa jeda.

Dalam hitungan menit, seseorang dapat mengalami rasa empati, lalu marah, kemudian membandingkan diri, merasa takut, tertawa, hingga cemas. Seakan-akan emosi kini dikonsumsi begitu cepat tanpa diberi kesempatan untuk menetap dan dipahami dengan tenang.

Dengan pengulangan setiap hari, dampaknya mulai muncul secara perlahan: menurunnya kemampuan fokus, mudah terpecah perhatian, sulit membaca secara mendalam, cepat merasa bosan, serta munculnya kelelahan mental meskipun tanpa aktivitas berat yang nyata.

Persoalan ini tidak berhenti pada kebiasaan berselancar di media sosial saja, tetapi meluas ke seluruh pola hidup.

Notifikasi yang tiada henti, terlalu banyak grup percakapan, arus berita yang terus berdatangan, serta pesan-pesan yang memotong alur berpikir berkali-kali setiap hari.

Di sinilah muncul sebuah ironi penting:

Banyak orang yang paling tenang, produktif, dan berpengaruh dalam hidupnya belum tentu yang paling cerdas. Namun mereka berhasil melindungi pikiran mereka dari kebisingan yang terus-menerus.

Mereka memiliki waktu untuk hening, memberi jarak dari notifikasi,serta mampu melepaskan diri sejenak dari arus konten yang tidak pernah berhenti.

Mereka memahami bahwa fokus bukan sekadar kemampuan tambahan, melainkan sebuah cara hidup.

Yang lebih penting lagi, kenyataan ini bukan hanya memengaruhi orang dewasa, tetapi juga satu generasi penuh yang tumbuh dengan kebiasaan berpindah cepat di antara ratusan rangsangan setiap hari.

Generasi yang lebih akrab dengan kecepatan daripada perenungan, dan lebih terbiasa dengan distraksi daripada kedalaman berpikir.

Karena itu, menjaga kesehatan pikiran pada masa kini bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan mendasar demi mempertahankan ketenangan berpikir, keseimbangan jiwa, serta kemampuan membangun kehidupan yang bermakna.

Sebab pikiran yang tidak pernah menemukan saat-saat sunyi, perlahan akan kehilangan kemampuannya untuk melihat apa yang benar-benar layak mendapat perhatian.

Prof. Dr. Abdul Karim Al-Bakkar
Guru besar Universitas King Khalid Arab Saudi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.