Suaramuslim.net – Dalam politik, kita sering terpaku pada satu nama. Misal: Presiden siapa. Menteri siapa. Gubernur siapa. Ketua partai siapa. Padahal kekuasaan tidak pernah bergerak hanya dengan satu kepala.
Tulisan ini tidak sedang menunjuk satu orang atau satu pemerintahan tertentu. Ini adalah cermin umum tentang watak kekuasaan: siapa pun pemimpinnya, ia tetap membutuhkan orang-orang dekat yang jujur, yang amanah dan kompeten, bukan sekadar orang-orang yang menyenangkan.
Di belakang seorang pemimpin selalu ada orang-orang dekat: orang kepercayaan, penasihat, staf khusus, menteri, tim politik, pemodal, kolega lama, relawan, keluarga, konsultan, juga orang-orang yang mungkin tidak pernah tampil di layar, tetapi suaranya sampai ke ruang paling dalam kekuasaan.
Mereka inilah yang dalam bahasa hadis disebut bithanah: lingkaran dalam, orang dekat, pihak yang bisa memengaruhi keputusan.
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa tidaklah Allah mengutus seorang nabi dan tidak pula mengangkat seorang khalifah, melainkan ia memiliki dua jenis bithanah.
Satu bithanah memerintahkannya kepada kebaikan dan mendorongnya ke sana. Satu lagi memerintahkannya kepada keburukan dan mendorongnya ke sana. Lalu Nabi ﷺ menutup sabdanya dengan kalimat yang dalam: orang yang terjaga adalah orang yang dijaga oleh Allah.
Hadis ini bukan sekadar bicara tentang masa lalu. Ia bicara tentang watak kekuasaan di setiap zaman. Seorang pemimpin bisa saja jujur dan punya niat baik, tetapi bila telinganya dikuasai orang-orang buruk, arah kebijakan bisa dibelokkan.
Laporan bisa dipoles, dipermanis. Kritik bisa ditahan dan disaring di pintu masuk. Suara rakyat bisa tercecer sebelum sampai ke meja keputusan. Yang terdengar hanya kabar nyaman: asal bapak senang, semua terkendali, rakyat puas, program berhasil, yang mengkritik hanya lawan politik.
Di sini ilmu sosial membantu memberi bahasa lain. Dalam psikologi sosial dikenal Social Influence Theory. Gagasannya sederhana: cara pandang, sikap, dan keputusan seseorang sangat dipengaruhi oleh orang-orang terdekatnya; lingkaran dalam, atau inner circle, yang paling sering memberi masukan dan paling mudah didengar. Apalagi jika orang-orang itu dekat, dipercaya, sering memberi masukan, dan punya akses langsung.
Kelman (1958) menyebut tiga cara sehingga seseorang bisa terpengaruh: patuh karena ada tekanan, ikut karena ingin diterima, dan berubah karena akhirnya percaya.
Dalam konteks kekuasaan, seorang pemimpin bisa terdorong mengikuti tekanan orang-orang di sekitarnya, menyesuaikan diri dengan kepentingan lingkaran yang menopangnya, atau lama-lama menganggap bisikan yang berulang sebagai kebenaran.
Pemimpin pun manusia biasa. Ia bisa terpengaruh oleh siapa yang paling sering berbicara dengannya. Bila yang dekat adalah orang-orang jujur, ahli, berani, dan takut kepada Allah, keputusan lebih mudah ditarik ke arah maslahat.
Namun sebaliknya, bila yang dekat adalah penjilat, pemburu proyek, penjual pujian, dan penyaring informasi, pemimpin bisa hidup dalam kenyataan yang sudah dipoles. Ia merasa melihat keadaan sebenarnya, padahal yang ia lihat hanyalah cermin yang sudah disiapkan oleh orang-orang yang ingin menyenangkan hatinya.
Dari sini lahir bahaya lain: Victims of groupthink yang ditulis oleh Janis, I. L. (1972). Secara garis besar: sebuah lingkaran kekuasaan bisa tampak solid, padahal miskin keberanian. Semua mengangguk. Semua setuju. Semua menjaga wajah. Tidak ada yang berani berkata, “Ini keliru.” Tidak ada yang cukup jujur untuk menyampaikan, “Data di lapangan tidak seindah laporan.”
Lalu apa risiko dari fenomena groupthink? Keputusan yang buruk dan lemah akan “terlihat” benar dan matang hanya karena tidak ada orang dekat (dalam lingkaran kekuasaan) yang berani mengkritik. Tidak ada yang komplain. Tidak ada yang berani menyampaikan keberatan.
Dina Denham Smith, dalam artikel Harvard Business Review berjudul “How Leaders Can Escape Their Echo Chambers” yang terbit pada 21 Juli 2022, menjelaskan bahwa semakin tinggi posisi seorang pemimpin, semakin besar pula risikonya terkurung dalam echo chamber: ruang gema yang membuatnya lebih sering mendengar suara yang mirip, aman, dan menyenangkan, daripada masukan yang jujur dan berbeda.
Dalam bahasa kita, inilah salah satu bahaya bithanah buruk. Kekuasaan kadang bukan dirusak oleh musuh yang jauh, tetapi oleh orang-orang dekat, orang kepercayaan yang rajin memagari pemimpin dari kenyataan.
Masalah seperti ini tidak lahir dengan sendirinya. Ada proses dan sistem yang bekerja. Ada pemimpin yang tidak nyaman dikritik. Ada sistem politik yang penuh balas jasa. Ada birokrasi yang terbiasa membuat laporan asal bapak senang. Ada kekuatan oligarki yang ikut bekerja. Ada masyarakat yang sudah terlalu terbelah: yang pro membela semua, yang kontra menolak semua.
Media sosial memperkeruh suasana. Di dalamnya ada juga buzzer. Kritik bercampur hujatan. Data tenggelam oleh emosi. Fakta bercampur dengan hoax. Tabayyun kalah cepat dari prasangka.
Maka jalan keluarnya bukan cuma mengganti wajah. Yang harus dibenahi adalah ekosistem kekuasaan. Pemimpin butuh orang-orang yang bukan hanya loyal, tetapi juga jujur dan amanah. Bukan hanya fasih bicara, tetapi berani tegas dan berkata benar. Bukan hanya dekat secara politik, tetapi layak secara moral dan kemampuan (punya kompetensi).
Rakyat pun perlu belajar. Kritik boleh, bahkan perlu. Tetapi kritik berbeda dengan caci maki. Nasihat bukan fitnah. Bukan menghujat. Berbeda pilihan politik tidak harus membuat kita kehilangan adab. Bila pendukung membela semua kesalahan, itu fanatisme. Bila penentang menolak semua kebaikan, itu juga kezaliman dalam bentuk lain.
Akhirnya, nasib bangsa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Ia juga ditentukan oleh siapa yang berbisik di telinganya.
Maka doa kita sederhana, tetapi berat maknanya: Ya Allah, jadikanlah negeri ini aman. Jauhkan para pemimpin kami dari bithanah yang buruk; dari orang-orang yang menutup kebenaran, memperindah kesalahan, dan menjauhkan nasihat yang jujur.
Ya Allah, dekatkan mereka kepada orang-orang yang saleh, amanah, berilmu, dan berani berkata benar. Bimbinglah negeri ini menuju keadilan, ketenteraman, dan kebaikan yang Engkau ridhai. Aamiin.
Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jawa Timur
Opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan, dapat memberikan hak jawabnya. Redaksi Suara Muslim akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

