Suaramuslim.net – Bagi mereka yang benar-benar belum mampu secara ekonomi dan finansial, Islam memang tidak mengajarkan untuk memaksakan diri berqurban. Agama ini tidak dibangun di atas keterpaksaan yang memberatkan kehidupan hamba-Nya.
Namun berbeda halnya bagi orang yang telah diberikan kelapangan rezeki, tetapi tidak lagi memiliki keinginan untuk berqurban.
Dalam konteks inilah kita perlu merenungkan pesan halus namun sangat mendalam dari Baginda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang memiliki kelapangan rezeki tetapi tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.”
(مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا)
Hadis ini tentu bukan untuk menakut-nakuti umat Islam, apalagi untuk menghakimi seseorang secara kasar. Tetapi Rasulullah SAW sedang mengingatkan bahwa qurban bukan sekadar urusan ritual tahunan di bulan haji, tetapi simbol rasa syukur, kepedulian sosial, dan loyalitas spiritual seorang hamba kepada Allah SWT.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar tentang membeli kambing atau sapi. Persoalan sesungguhnya adalah tentang rasa syukur, kepekaan hati, dan hubungan spiritual manusia dengan nikmat yang telah Allah titipkan kepadanya.
Hari ini, kita hidup di zaman yang sering menghadirkan paradoks kehidupan. Tidak sedikit orang yang sebenarnya mampu secara ekonomi, tetapi merasa sangat berat untuk berqurban. Anehnya, pada saat yang sama, mereka tidak merasa berat mengeluarkan uang untuk gaya hidup, hiburan, atau simbol-simbol prestise sosial.
Kadang kita ini begitu mudah menghabiskan jutaan rupiah untuk hal-hal yang bersifat kesenangan sesaat, tetapi terasa berat ketika diminta mengorbankan sebagian hartanya untuk ibadah dan kepedulian sosial. Di situlah qurban sesungguhnya sedang menguji hati kita.
Sekali lagi, qurban bukan hanya tentang penyembelihan hewan. Qurban adalah pendidikan jiwa agar manusia tidak diperbudak oleh cintanya kepada dunia. Qurban melatih manusia agar tetap memiliki empati sosial, keikhlasan berbagi, dan keberanian mengorbankan sebagian yang dicintainya di jalan Allah.
Yang sampai kepada Allah bukanlah darah atau daging hewan yang kita qurbankan. Tetapi “Yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan kita”
Artinya, yang sedang dinilai bukan sekadar besar kecilnya hewan qurban, tetapi sejauh mana hati kita masih hidup bersama nilai-nilai pengorbanan dan rasa syukur. Karena itu, seseorang yang diberi kelapangan rezeki tetapi bertahun-tahun tidak pernah tergerak untuk berqurban, sesungguhnya perlu bermuhasabah.
Jangan-jangan yang mulai mengeras bukan kondisi ekonominya, tetapi kepekaan spiritual dalam hatinya.
Namun dakwah tentang qurban tentu harus tetap disampaikan dengan hikmah dan kelembutan. Bukan untuk mempermalukan orang kaya. Bukan pula untuk menghakimi mereka yang belum berqurban. Tetapi untuk mengajak setiap Muslim merenung: jika Allah telah memberikan banyak kenikmatan hidup, lalu sejauh mana kita bersedia berbagi dan berkorban di jalan-Nya?
Dan pada intinya, qurban bukan hanya tentang kemampuan membeli hewan. Tetapi tentang kemampuan hati untuk tetap tunduk, bersyukur, dan peduli kepada sesama. Inilah makna takwa yang diharapkan dalam syari’at qurban.
Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur

