Media sosial, ladang pahala atau fitnah?

SURABAYA (suaramuslim.net) – Dua puluh tahun lalu, kita benar-benar hidup dalam satu dimensi, dunia nyata. Sebelum gawai secanggih sekarang, interaksi manusia dibatasi oleh jarak fisik.

Namun hari ini, lanskap itu berubah total sejak kehadiran Friendster, mIRC, Yahoo Messenger, Path, hingga platform modern saat ini. Sadar atau tidak, kita kini memilih hidup berdampingan; bahkan berpindah; ke dunia maya, terkadang tanpa kesiapan mental menghadapi konsekuensinya.

Fenomena inilah yang dibedah dalam kajian KIBLAT (Kajian Islam Buat Talenta Hebat) bersama Majelis Ta’lim Ash Shafaa di lingkungan Komite SDIT At-Taqwa Surabaya bersama Ustadz M. Afthoni Adyatama Zahro, S.Psi., M.Kom.I, Rabu (13/05/2026).

Mengangkat tema “Media Sosial, Ladang Pahala atau Fitnah”, kajian ini mengajak para orang tua yang hadir berefleksi tentang bagaimana bersikap di ruang digital.

Jika di dunia nyata komentar miring orang lain sering kali tidak terdengar karena jarak, di dunia maya, interaksi buruk justru dengan mudahnya mengetuk pintu privasi kita kapan saja. Di sinilah media sosial menjadi dua sisi mata pisau.

Saat media sosial menjadi ladang pahala

1. Sarana dakwah

Aktivitas sederhana seperti mencatat kajian, lalu membagikannya, bisa menjadi amal jariyah. 

“Misalnya agenda mengaji seperti pagi ini, lalu dicatat dan diposting di media sosial, itu bisa menjadi jalan dakwah,” ungkap Ustadz Afthoni di hadapan para jamaah.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan…”

Satu postingan bisa jadi jalan hidayah bagi orang lain yang mungkin tidak pernah kita temui.

2. Mengajak kepada kebaikan

Ada kisah sederhana, namun penuh makna. Ustadz Afthoni menceritakan sebuah pengalaman pribadi tentang kekuatan sebuah konten kebaikan.

“Suatu hari menjelang istirahat, saya terbiasa mendengarkan sebuah podcast. Di awal tayangan, pembicaranya dengan santun mengingatkan, ‘Yuk yang belum shalat, silakan shalat dahulu’. Detik itu juga saya tersadar belum shalat dan langsung bergegas mengambil wudhu. Itulah kekuatan media jika digunakan dengan baik.” 

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (Riwayat Muslim).

Saat media sosial menjadi ladang fitnah dan dosa

1. Menyebarkan hoaks dan kebencian

Kita sering tidak sadar: satu komentar, satu unggahan, bisa menjadi dosa yang terus mengalir.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Qaf ayat 18:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun ucapan, baik atau buruk, sadar atau tidak, serius maupun bercanda, yang lolos dari catatan malaikat. Termasuk ketikan jari kita.

“Tiba-tiba kita melihat postingan orang lain dan merasa tidak suka. Lalu kita berkomentar buruk di lapak orang tersebut, bahkan sengaja memakai second account (akun samaran). Ingat, jangan pernah merasa aman dengan hal itu. Semuanya dicatat dan akan dimintai pertanggungjawaban,” tegas Ustadz.

Beliau mengingatkan bahwa akhlak seorang muslim di dunia nyata dan dunia maya haruslah sama persis. Menyakiti hati orang lain (ngilokno/ghibah) tetap haram hukumnya di media sosial.

Ironisnya ruang digital hari ini sering kali membalikkan logika.

“Orang jahil terlihat pintar, sedangkan orang pintar terlihat bodoh. Mengapa? Karena orang pintar tidak punya banyak waktu untuk hal sia-sia, sementara orang bodoh punya waktu melimpah hanya untuk berdebat di ruang maya,” lanjutnya.

2. Dopamin tipuan: Kenikmatan sesaat

Kondisi ini diperparah dengan fenomena psikologis bernama dopamin tipuan. Media sosial dirancang untuk memicu pelepasan hormon dopamin dalam jumlah besar melalui imbalan instan berupa likes, komentar, dan notifikasi. Kenikmatan ini bersifat semu, dangkal, dan candu, membuat kita terus menggulir layar (scrolling) tanpa henti.

Efek kecanduan validasi ini sangat berbahaya bagi kesehatan mental dan spiritual. Saat jumlah penonton (viewers) atau pengikut (followers) tidak sesuai ekspektasi, emosi seseorang bisa berubah drastis. Kehidupan nyatanya mungkin baik-baik saja, namun ia bisa mendadak overthinking hingga tantrum hanya karena postingannya sepi interaksi.

Hidup baik-baik saja, namun bisa berubah hanya karena tidak ada yang mengomentari postingan kita.

3. Membandingkan hidup dengan orang lain

Apa yang kita lihat di layar tidak selalu mencerminkan kenyataan.

Belum lagi penyakit sosial akibat suka membandingkan kehidupan dengan orang lain. Menonton orang lain unboxing kendaraan baru atau pamer kemesraan memicu ekspektasi yang tidak realistis terhadap hidup sendiri.

Akibatnya, kita kehilangan kendali diri (lost control), impulsif, lupa waktu, ikut-ikutan tren tanpa pikir panjang, mudah marah, hingga boros berbelanja daring (memasukkan ratusan barang ke keranjang belanja, tetapi yang dibeli justru barang tidak penting).

Padahal Allah SWT telah mengingatkan dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 6:

“Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”

Tabayyun bukan hanya soal berita tapi juga tentang cara kita memahami realita yang kita lihat.

Panduan bijak bersosial media

Agar tidak tergelincir menjadi dosa jariyah, kajian ini merumuskan enam langkah konkret dalam bersosial media:

  1. Niatkan untuk ibadah: Jadikan status dan postingan sebagai sarana menebar manfaat.
  2. Saring sebelum sharing: Pastikan kebenaran informasi sebelum membagikannya.
  3. Terima bila dikoreksi: Turunkan ego jika ada pengguna lain yang mengingatkan kesalahan kita.
  4. Batasi screen time: Aturan ini berlaku adil, baik untuk anak-anak maupun orang tua.
  5. Puasa media sosial: Sediakan waktu khusus untuk benar-benar lepas dari dunia digital guna menjaga kewarasan pikiran.
  6. Jaga hati dari riya: Sadari bahwa pujian manusia di media sosial tidak menambah timbangan pahala di hadapan Allah.

Kajian ini diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang menohok hati: media sosial di genggaman kita hari ini hanya menyediakan dua jalur akhirat, ia akan menjadi dosa jariyah yang terus mengalir, atau pahala jariyah yang menyelamatkan kita di hari akhir kelak. Pilihan ada di jemari kita sendiri.

Giat kajian bulanan Muslimah Ash Shafaa ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi ibu-ibu wali murid di lingkungan Lembaga Pendidikan At-Taqwa, sebagaimana Ketua Commite sampaikan bahwa kegiatan ini akan menjadi perekat ukhuwah dan sharing banyak aktivitas yang bermanfaat lainnya.

Hadirkan kajian interaktif & solutif di lingkunganmu bersama Griya Al Qur’an, jadwalkan sekarang juga 0857 321 60050.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.