Menjawab kegelisahan aktivis ICMI akan data IQ dengan akhlak dan budaya ilmu

Suaramulsim.net – Ada angka yang kadang datang bukan untuk langsung dipercaya, tetapi untuk membuat kita berhenti sejenak. Beberapa waktu lalu, beredar infografik tentang rata-rata IQ negara-negara dunia tahun 2026. Indonesia disebut berada pada peringkat 126 dari 137 negara, dengan skor 89,96.

Data itu merujuk pada International IQ Test, Average IQ by Country 2026, yang diperbarui pada 1 Januari 2026.

Tentu angka seperti ini perlu dibaca dengan hati-hati. Apalagi sumbernya berasal dari tes daring. Ia tidak bisa begitu saja dijadikan vonis atas kecerdasan sebuah bangsa.

Tetapi rasa tidak nyaman yang muncul setelah melihat angka itu juga tidak perlu buru-buru ditepis. Kadang sebuah data, meskipun tidak sempurna, tetap bisa menjadi pintu masuk untuk bercermin.

Saya membacanya bukan sebagai alasan untuk merendahkan Indonesia. Juga bukan untuk menambah keluhan tentang bangsa sendiri. Angka itu lebih tepat dibaca sebagai peringatan besar, tetapi bukan alasan untuk putus harapan.

Barangkali yang sedang dipantulkan bukan sekadar urusan IQ, melainkan keadaan literasi, nalar, kebiasaan belajar, akhlak, dan budaya ilmu kita sehari-hari.

Kegelisahan itu tidak berdiri sendirian. PISA 2022, sebagai hasil PISA terbaru yang telah dirilis resmi oleh OECD, menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, matematika, dan sains masih perlu diperkuat.

Hasil yang dirilis pada 5 Desember 2023 itu mencatat bahwa hanya sekitar 18 persen siswa Indonesia yang mencapai sekurang-kurangnya Level 2 dalam Matematika. Dalam membaca, sekitar 25 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih. Angka ini berada jauh di bawah rata-rata OECD.

Data PISA ini membantu kita membaca persoalan dengan lebih jernih. Masalahnya bukan semata-mata skor IQ. Ada pekerjaan panjang dalam melatih anak-anak membaca dengan tekun, memahami bacaan, bernalar, bertanya, menulis, dan menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.

Sekolah tentu punya peran besar. Tetapi rumah, lingkungan, masjid, kampus, komunitas, organisasi, dan ruang digital juga ikut membentuk cara anak-anak kita belajar.

Namun, ada hal yang lebih dalam dari literasi. Kita sering bicara tentang kemampuan membaca, tetapi kadang lupa bertanya: Apa yang kita baca, bagaimana kita memahaminya, dan untuk apa bacaan itu membentuk diri kita?

Kita bicara tentang kepintaran, tetapi tidak selalu bertanya: ke mana kepintaran itu diarahkan? Kita bicara tentang ilmu, tetapi sering terlalu pelan membicarakan akhlak.

Akhlak bukan sopan santun pribadi, ia adalah modal sosial

Sebuah nasihat yang sering dinisbatkan kepada Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani mengingatkan bahwa akhlak lebih didahulukan daripada ilmu, karena ilmu tanpa akhlak tidak akan menjadi berkah.

Pesan ini pendek, tetapi muatannya dalam. Apalagi pada zaman ketika informasi begitu mudah datang, sementara kebijaksanaan belum tentu ikut tumbuh bersamanya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin juga menempatkan ilmu dalam hubungan yang erat dengan pembentukan jiwa dan akhlak. Artinya, ilmu tidak boleh berhenti sebagai kemampuan mengetahui, mengutip, atau membantah. Ia perlu membentuk manusia yang rendah hati, jujur, sabar, dan bertanggung jawab. Tanpa akhlak, pengetahuan mudah berubah menjadi kesombongan.

Akhlak membuat ilmu dan kecerdasan punya arah, tetapi pengaruhnya tidak berhenti di ruang belajar. Ia tampak dalam cara orang bekerja, memegang amanah, menghargai waktu, menggunakan data, menerima kritik, dan memperlakukan orang lain.

Kita sering melihat orang yang tidak terlalu pandai bicara, tetapi kehadirannya menenteramkan karena berakhlak. Sebaliknya, orang yang sangat pintar tetapi kehilangan adab bisa membuat ruang kerja dan ruang belajar terasa keras, dingin, bahkan melukai.

Agar tidak berhenti sebagai nasihat umum, akhlak perlu diterjemahkan menjadi perilaku yang membuat bangsa ini lebih dapat dipercaya, lebih disiplin, dan lebih mampu bekerja bersama.

Dengan cara membaca seperti ini, akhlak bukan sekadar sopan santun pribadi. Ia menjadi modal sosial yang menentukan apakah sebuah bangsa bisa dipercaya, bisa bekerja sama, dan bisa memperbaiki diri.

Tentu ini bukan ajakan untuk meremehkan ilmu dan tingkat kecerdasan (IQ). Sama sekali bukan. Islam memuliakan ilmu, dan bangsa ini tetap membutuhkan manusia yang cerdas, terampil, kreatif, serta mampu bersaing. Tetapi kecerdasan perlu dituntun oleh akhlak. Tanpa akhlak, ilmu bisa dipakai untuk menipu.

Data bisa dipakai untuk memukul. Kepakaran bisa dipakai untuk merendahkan. Dalam kehidupan berbangsa, kecerdasan tanpa akhlak bisa melahirkan kemajuan teknis, tetapi rapuh secara moral.

Akhlak adalah modal besar bangsa ini. Namun, kalau kita ingin benar-benar unggul, akhlak perlu berjalan bersama literasi yang kuat, nalar yang sehat, penguasaan sains dan teknologi, serta profesionalisme dalam bekerja.

Orang yang berakhlak tidak menjadikan kesantunan sebagai alasan untuk tertinggal. Ia justru lebih jujur melihat kelemahan, lebih rendah hati untuk belajar, lebih disiplin memperbaiki diri, dan lebih amanah dalam menggunakan ilmu.

Dengan cara itu, akhlak bukan pengganti kecerdasan, melainkan dasar perilaku yang membuat proses mengejar ilmu dan kemajuan berjalan lebih bermartabat.

Di sinilah harapan Indonesia tetap terbuka. Kalau suatu data menempatkan IQ kita di posisi bawah, itu tidak berarti masa depan bangsa sudah selesai. Angka agregat bukan takdir. Indonesia tetap dapat tumbuh dan unggul melalui kekuatan akhlak, selama akhlak itu tidak berhenti sebagai nasihat, tetapi hidup dalam perilaku sehari-hari.

Kita tidak perlu pesimis, sebab kejujuran, disiplin, tanggung jawab, gotong royong, dan amanah juga merupakan modal besar dalam membangun daya saing. Sebuah bangsa dapat tumbuh bila akhlak melahirkan kejujuran, kejujuran melahirkan keberanian melihat kelemahan, dan keberanian itu melahirkan kerja perbaikan.

Kita tidak perlu memilih antara akhlak dan ilmu. Yang kita butuhkan adalah akhlak yang menuntun perilaku, literasi yang menguatkan nalar, dan kerja nyata yang membuat bangsa ini semakin dipercaya.

Bangsa yang unggul membentuk manusia yang beradab

Menariknya, pendidikan modern juga sampai pada kegelisahan yang mirip. Thomas Lickona, dalam Educating for Character (1991), menekankan bahwa pendidikan perlu membentuk karakter: mengenali yang baik, mencintai yang baik, lalu membiasakan diri melakukan yang baik.

Dengan bahasa yang berbeda, Lickona mengingatkan bahwa sekolah tidak cukup hanya menghasilkan anak cerdas yang mampu menjawab soal. Pendidikan perlu menumbuhkan manusia yang jujur, bertanggung jawab, dan peduli.

Daniel Goleman, melalui Emotional Intelligence (1995), juga menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak berjalan sendirian. Manusia membutuhkan kemampuan mengelola diri, memahami orang lain, berempati, dan membangun hubungan yang sehat.

Dalam bacaan seperti ini, akhlak dapat dipahami sebagai kecerdasan batin dan sosial yang membuat ilmu tidak berubah menjadi alat untuk meninggikan diri. Orang berilmu perlu sanggup menahan diri. Ia perlu tahu kapan berbicara, kapan mendengar, kapan mengoreksi, dan kapan mengakui bahwa dirinya belum tahu.

Kita juga bisa belajar dari Jepang, tentu tanpa perlu menyalinnya mentah-mentah. Di sekolah dasar Jepang, pendidikan moral bukan dianggap urusan pinggiran. 

MEXT atau Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang, dalam penjelasan resminya tentang moral education, menyebut bahwa pendidikan moral diarahkan untuk menumbuhkan moralitas sebagai fondasi warga negara yang menghormati martabat manusia, menghargai kehidupan, memiliki semangat sosial, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.

Di sana, anak-anak tidak hanya belajar pelajaran akademik, tetapi juga dibiasakan menghormati orang lain, menjaga kebersihan, bekerja sama, antre, bertanggung jawab, dan merawat ruang bersama.

Pelajarannya sederhana: bangsa yang ingin unggul tidak cukup hanya mengejar kepintaran. Ia perlu membentuk manusia yang beradab sejak awal.

Maka, pembicaraan tentang IQ dan literasi sebaiknya bergerak lebih dalam. Kita memang perlu memperkuat kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan bernalar. Tetapi semua itu perlu berakar pada akhlak.

Anak-anak memang perlu didekatkan dengan buku, tetapi mereka juga perlu belajar mencintai kebenaran. Mereka perlu dikenalkan pada teknologi, tetapi juga dilatih menggunakannya dengan tanggung jawab. Mereka perlu diajak menjadi pintar, tetapi tetap dibimbing agar pantas memegang ilmu.

Membaca dan menulis pintu masuk menuju budaya ilmu

Dalam konteks nasional, pesan tentang budaya baca juga terus mengalir dan terus diingatkan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dalam Rakornas Perpustakaan Nasional di Jakarta pada 5 Februari 2025, menyampaikan bahwa budaya baca penting untuk meningkatkan literasi dan membangun peradaban bangsa. Ia juga menegaskan bahwa tradisi membaca tidak dapat dipisahkan dari tradisi menulis.

Pesan ini patut dicatat. Membaca dan menulis bukan sekadar keterampilan sekolah. Keduanya adalah pintu masuk menuju budaya ilmu.

Meneguhkan akhlak, menyalakan kembali kebiasaan belajar

Bagi ICMI, kegelisahan seperti ini tidak seharusnya dibaca sebagai isu pendidikan semata. Ia menyentuh jantung kecendekiawanan muslim: bagaimana ilmu dihormati, akhlak dijadikan dasar perilaku, dan pengalaman baik di masyarakat diolah menjadi gerakan pengetahuan yang bermanfaat.

ICMI tidak harus menjawab semuanya dengan program besar. Kadang, yang dibutuhkan justru keberanian untuk mengingatkan kembali bahwa bangsa ini perlu tumbuh dengan ilmu yang jujur, akhlak yang hidup, dan budaya belajar yang tidak mudah padam.

Sebagai aktivis ICMI, saya melihat kegelisahan ini sangat dekat dengan ruh kecendekiawanan muslim. ICMI lahir dari semangat ilmu, iman, dan pengabdian kepada bangsa. Maka kegelisahan tentang IQ tidak perlu dijawab dengan ratapan. Ia lebih baik dijawab dengan meneguhkan kembali akhlak dan budaya ilmu.

Dari rumah yang membiasakan anak membaca. Dari sekolah yang melatih nalar dengan sabar. Dari masjid yang menjaga adab ilmu. Dari kampus yang merawat kejujuran akademik. Dari komunitas yang membuka ruang belajar. Dari organisasi yang tidak membiarkan pengalaman baik menguap begitu saja.

Di sini, gagasan knowledge management tetap relevan, tetapi tidak perlu dibayangkan sebagai sistem yang rumit. Nonaka dan Takeuchi, dalam The Knowledge-Creating Company (1995), mengingatkan bahwa pengetahuan menjadi lebih bernilai ketika pengalaman pribadi dapat dibagikan, dicatat, dan diolah menjadi pengetahuan bersama.

Untuk isu literasi, pelajarannya sederhana. Bila ada satu keluarga berhasil membangun kebiasaan membaca, satu sekolah berhasil melatih nalar, satu masjid berhasil membuka ruang belajar, atau satu komunitas berhasil mendampingi anak-anak, pengalaman itu jangan hilang sebagai cerita lokal. Ia perlu ditulis, dibagikan, lalu diteruskan agar menginspirasi tempat lain.

Mungkin perubahan besar memang tidak datang sekaligus. Tetapi bangsa yang ingin memperbaiki diri perlu mulai dari hal-hal yang tampak sederhana. Membaca lebih utuh. Memeriksa sumber. Tidak tergesa menyebarkan kabar. Santun dalam berdiskusi. Mengakui kekeliruan. Menggunakan ilmu untuk menolong, bukan untuk meninggikan diri.

Angka IQ boleh membuat kita gelisah. Data PISA boleh membuat kita berpikir lebih serius. Namun, jawaban terdalamnya tidak cukup berupa target angka. Yang perlu kita hidupkan kembali adalah akhlak sebagai dasar perilaku. Sebab kalau peningkatan kecerdasan (IQ) masih harus dikejar, akhlak tidak boleh menunggu. Ia harus menjadi dasar sejak awal.

Dengan akhlak, orang belajar jujur terhadap kekurangan, rendah hati menerima ilmu, sabar memperbaiki diri, dan menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk kebaikan.

Dari sanalah budaya ilmu bisa tumbuh lagi. IQ memberi kita alasan untuk bercermin, meskipun tentu tidak semua hal tentang bangsa ini bisa diukur dengan satu angka. Literasi mengingatkan kita bahwa masih ada pekerjaan panjang yang perlu dirawat bersama.

Dan kegelisahan seorang aktivis ICMI semestinya tidak berhenti sebagai rasa cemas. Ia perlu bergerak menjadi ikhtiar kecil yang terus diulang: meneguhkan akhlak, memperbaiki perilaku, dan menyalakan kembali kebiasaan belajar.

Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.