Suaramuslim.net – Dalam rentang hari yang berdekatan, kita bertemu dengan dua momentum besar.
Kemerdekaan Republik Indonesia.
Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sekilas keduanya berbeda.
Yang satu tentang perjalanan sebuah bangsa keluar dari penjajahan.
Yang satu tentang kelahiran manusia agung yang membawa risalah bagi kehidupan.
Tetapi saya mencoba melihat keduanya dari satu kata sederhana: bahagia.
Mengapa bangsa Indonesia dahulu berjuang untuk merdeka?
Karena manusia tidak ingin hidup dalam penjajahan.
Tidak ingin hidup dalam ketakutan.
Tidak ingin hidup dalam penindasan.
Manusia ingin hidup aman, bermartabat, menentukan masa depannya sendiri. Pada akhirnya: manusia ingin bahagia.
Merdeka belum tentu bahagia
Tetapi ternyata merdeka secara fisik belum otomatis membuat manusia bahagia.
Negaranya boleh merdeka.
Tetapi hatinya bisa saja masih dijajah.
Dijajah iri hati.
Dijajah keserakahan.
Dijajah kebencian.
Dijajah kesombongan.
Hari ini penjajahan bahkan bisa hadir dalam bentuk yang sangat halus. FOMO.
Takut tertinggal. Melihat kehidupan orang lain lalu merasa kehidupan kita selalu kurang.
Rumah sudah ada, masih membandingkan.
Pekerjaan sudah baik, masih merasa kalah.
Bukan selalu karena Allah kurang memberi.
Bisa jadi karena kita terlalu sering mengukur kebahagiaan dengan standar kehidupan orang lain.
Maka mungkin salah satu bentuk kemerdekaan hati adalah: berani merasa cukup.
Bukan berhenti berusaha.
Bukan kehilangan cita-cita.
Tetapi tidak menyerahkan kebahagiaan kita kepada penilaian orang lain.
Jadi kemerdekaan bukan hanya ketika tidak ada bangsa lain yang menjajah kita. Merdeka juga ketika sesuatu di dalam diri kita tidak lagi menjajah hati kita.
Rasulullah datang membawa akhlak
Di sinilah Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi sangat relevan.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (Riwayat Al-Baihaqi)
Menarik. Salah satu misi besar kerasulan adalah: akhlak.
Akhlak mempunyai sifat yang unik.
Ia tidak berhenti pada diri sendiri.
Kalau seseorang jujur, orang lain merasakan kejujurannya.
Kalau seseorang santun, orang lain merasakan kesantunannya.
Kalau seseorang amanah, orang lain merasakan ketenangannya.
Kalau seseorang adil, orang lain merasakan keadilannya.
Akhlak selalu mempunyai dampak keluar. Mungkin itulah mengapa Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau, Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (Q.S. Al-Anbiya: 107).
Rahmat itu tidak berhenti pada dirinya sendiri.
Ia menyebar.
Ia dirasakan orang lain.
Ibadah harus meninggalkan jejak
Akhlak juga tidak berdiri terpisah dari ibadah.
Allah berfirman tentang salat:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Q.S. Al-Ankabut: 45)
Artinya, ibadah seharusnya meninggalkan jejak.
Salat melatih kita menjaga diri.
Puasa melatih pengendalian.
Zakat melatih kepedulian.
Haji melatih melepas ego.
Semakin dekat kepada Allah, semestinya semakin baik pula cara kita memperlakukan manusia.
Maka pertanyaannya sederhana.
Apakah semakin banyak ibadah membuat kita semakin lembut?
Apakah semakin sering bersujud membuat kita semakin rendah hati?
Apakah orang lain semakin nyaman berada di dekat kita?
Jangan sampai kemerdekaan kita menjajah orang lain
Kemerdekaan sering kita pahami sebagai kebebasan.
Saya bebas bicara.
Saya bebas memilih.
Saya bebas berpendapat.
Benar. Tetapi orang lain juga mempunyai hak untuk merasa aman. Kebebasan yang hanya memikirkan diri sendiri bisa berubah menjadi bentuk penjajahan baru.
Saya merasa bebas berbicara, tetapi ucapan saya melukai orang lain.
Saya merasa bebas bertindak, tetapi tindakan saya mengambil ketenteraman orang lain.
Maka jangan sampai atas nama kemerdekaan kita, orang lain justru merasa terjajah.
Rasulullah SAW bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).
Saya suka kata: selamat.
Berarti kehadiran kita seharusnya membuat orang lain merasa aman.
Apakah pasangan merasa aman dengan ucapan kita?
Apakah anak-anak nyaman berada di dekat kita?
Apakah teman kerja merasa dihargai?
Apakah tulisan kita di media sosial membawa kesejukan atau malah menambah kebencian?
Jadi pertanyaannya bukan hanya:
“Apakah saya orang baik?”
Tetapi:
“Apakah orang lain merasakan kebaikan dari keberadaan saya?”
Akhlak juga menjaga Indonesia
Kita sering berbicara tentang ketahanan ekonomi, politik, pangan, energi, pertahanan, hingga teknologi. Semuanya penting.
Tetapi ada satu ketahanan yang kadang luput: ketahanan akhlak.
Ketika kejujuran melemah, korupsi menemukan ruang.
Ketika kesantunan hilang, perbedaan mudah berubah menjadi permusuhan.
Ketika kepedulian menipis, kita bisa hidup berdekatan tetapi kehilangan rasa persaudaraan.
Maka menjaga akhlak bukan hanya urusan pribadi. Ia juga bagian dari menjaga Indonesia. Karena bangsa dibangun oleh manusia.
Kalau orang tua berakhlak, keluarga merasakan ketenteraman.
Kalau guru berakhlak, murid merasa dihargai.
Kalau pemimpin berakhlak, rakyat merasakan keadilan.
Kalau warga berakhlak, lingkungan menjadi nyaman.
Kalau jutaan manusia melakukannya, lahirlah karakter sebuah bangsa.
Merdeka untuk bahagia
Di sinilah bagi saya Kemerdekaan RI dan Maulid Nabi bertemu.
Kemerdekaan membebaskan kita dari penjajahan.
Akhlak memastikan kita tidak berubah menjadi penjajah bagi orang lain.
Kemerdekaan memberi ruang untuk hidup bebas.
Rasulullah mengajarkan bagaimana kebebasan itu dijalani dengan akhlak.
Sebab kebebasan tanpa akhlak bisa berubah menjadi egoisme.
Kekuasaan tanpa akhlak bisa berubah menjadi penindasan.
Kekayaan tanpa akhlak bisa berubah menjadi keserakahan.
Dan kemerdekaan tanpa kepedulian bisa berubah menjadi: saya bahagia, terserah orang lain.
Padahal kebahagiaan yang indah justru sering hadir ketika keberadaan kita ikut membahagiakan orang lain.
Maka mungkin semangatnya sederhana:
Merdeka untuk bahagia.
Berakhlak untuk membahagiakan.
Maulid jangan hanya membuat kita banyak bercerita tentang indahnya akhlak Rasulullah. Semoga orang lain mulai merasakan sedikit dari akhlak beliau melalui diri kita.
Kemerdekaan jangan hanya membuat bendera kita berkibar. Semoga nilai-nilai kebaikan juga berkibar dalam kehidupan kita.
Dan semoga Indonesia bukan hanya dikenal sebagai negeri yang besar karena wilayah dan kekayaannya. Tetapi menjadi negeri yang dirindukan karena budinya.
Akhirnya saya ingin menitipkan satu pertanyaan, terutama untuk diri sendiri:
“Sudahkah keberadaan saya menjadi sebab kebahagiaan bagi orang lain?”
Karena bahagia yang paling indah bukan hanya ketika kita tersenyum.
Tetapi ketika kehadiran kita membuat orang lain ikut tersenyum.
Merdeka untuk bahagia.
Berakhlak untuk membahagiakan.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Firman Arifin
Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)
FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yang artinya takut ketinggalan tren, informasi, atau momen seru yang sedang dilakukan orang lain.

