Akhir yang dirindukan: Wafat saat membaca Al-Qur’an

Suaramuslim.net – Ada orang yang belajar Al-Qur’an bukan karena ingin mengejar sebuah pencapaian, tetapi karena ingin menjadikan sisa hidupnya lebih dekat dengan Allah ﷻ. Ibu Netty Harjantien adalah salah satunya.

Di usia yang tak lagi muda, ia memilih mengisi hari-hari senjanya dengan Al-Qur’an. Keinginan itu mula-mula ia sampaikan kepada adiknya, Ibu Lenny, yang lebih dahulu mengikuti program belajar ngaji privat di Griya Al Qur’an.

“Beliau ingin mengisi hari-hari senjanya dengan Al-Qur’an,” tutur Ibu Lenny.

Keinginan sang kakak kemudian diwujudkan dengan mendaftarkannya dalam program belajar privat Griya Al Qur’an.

Ibu Lenny datang langsung ke kantor Griya Al Qur’an di Jl. Dinoyo 57 Surabaya. Satu permintaannya sederhana, tetapi penting: ia ingin pengajar yang sabar dan telaten, yang mampu memahami kondisi kesehatan kakaknya.

Dua pertemuan pertama menjadi masa penyesuaian. Dalam dua pekan, sempat terjadi pergantian pengajar hingga akhirnya dipertemukan dengan Ustadzah Husna. Di situlah tumbuh sebuah ikatan luhur antara guru dan siswa.

Belajar tahsin berlangsung rutin setiap akhir pekan, seminggu sekali. Kondisi kesehatan Ibu Netty yang semakin menurun tak membuat keinginannya untuk belajar Al-Qur’an surut.

Awalnya ia belajar dalam posisi duduk. Ketika kondisi tubuhnya semakin lemah, ia tetap melanjutkan belajar dari ruang perawatan, bahkan dari atas kasur ICU.

Bagi Ustadzah Husna, Ibu Netty bukan sekadar seorang siswa.

“Saya takzim kepada beliau. Beliau penuh teladan dan berilmu. Beliau selalu sabar dalam belajar mengaji, meski usianya tidak muda lagi. Beliau senantiasa berusaha menghabiskan umurnya dalam ketaatan dan khidmat kepada ilmu,” kenangnya.

Ada satu keinginan yang terus disimpan Ibu Netty.
Ia ingin menyelesaikan bacaan Al-Qur’annya hingga juz 30.
Saat itu, ia telah sampai pada juz 24.

Keinginan tersebut bahkan pernah ia ungkapkan dengan kalimat yang begitu membekas bagi Ustadzah Husna.

“Bagaimana nanti saya ditanya di akhirat, kok baca Al-Qurannya nggak sampai selesai-selesai?”

Bukan sekadar target menyelesaikan bacaan. Ada kegelisahan seorang hamba yang ingin terus belajar dan memperbaiki diri sebelum waktunya menghadap Sang Pencipta.

Namun manusia boleh berencana, sementara takdir memiliki jalannya sendiri.

Tilawah Ibu Netty akhirnya terhenti bukan di juz 30, melainkan pada halaman 537, juz 27 Al-Qur’an.

Hari itu, ia masih mengaji.

Lima menit.

Ia membaca Al-Qur’an didampingi Ustadzah Husna. Hingga kemudian napasnya berhenti.

Ibu Netty wafat dalam keadaan mengaji.

Sebuah akhir yang mungkin tak pernah ia rencanakan, tetapi begitu indah bagi orang-orang yang menyaksikannya.

Akhir yang dirindukan

Selama mendampingi proses belajarnya, Ustadzah Husna juga kerap mendengar satu permintaan dari Ibu Netty.

“Ustadzah, meski aku dalam kondisi sakit, doakan aku bisa istiqomah ya. Tolong sabar dalam mengajari aku. Aku berusaha sampai akhir hayatku terus belajar, terutama belajar tentang Islam.”

Kalimat itu kini tinggal kenangan.

Tetapi bagi Ustadzah Husna, pesan tersebut menjadi pelajaran yang jauh lebih panjang daripada sekadar sesi belajar tahsin.

Bahwa belajar Al-Qur’an tidak mengenal kata terlambat.
Bahwa sakit bukan selalu alasan untuk berhenti.

Dan bahwa istiqomah terkadang bukan tentang seberapa jauh seseorang mampu berjalan, tetapi tentang tetap memilih melangkah meski tubuh perlahan melemah.

Ketika perwakilan Griya Al Qur’an hadir dalam ta’ziyah dan turut menyalatkan jenazah, sejumlah pegawai sekolah tempat Ibu Netty dikenal turut hadir mendoakan.

Salah satunya Pak Nur Hadi, kepala sekolah SLB yang lembaganya dahulu diinisiasi oleh ayah almarhumah dan kini menjadi pembinanya.

Di hadapan orang-orang yang kehilangan, ia menyampaikan sebuah kesaksian sederhana.

“Saya saksi hidup. Orang baik akhirnya pasti baik.”

Kini, mushaf yang pernah menemani Ibu Netty menyelesaikan ayat demi ayat mungkin telah terdiam. Namun kisahnya meninggalkan satu pesan yang sederhana:

Jangan menunda untuk mulai dekat dengan Al-Qur’an. Jangan menunggu sehat untuk belajar. Dan jangan merasa terlambat untuk kembali kepada Allah.

Sebab kita tidak pernah tahu, pada ayat yang mana perjalanan kita akan berakhir.

Semoga Allah ﷻ menerima seluruh ikhtiar Ibu Netty, mengampuni kekhilafannya, menerima amal ibadahnya, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dan syafaat baginya.

Ia belum sampai pada juz 30.
Namun ia sampai pada akhir perjalanan hidupnya dengan Al-Qur’an di hadapannya.

Dan barangkali, itulah akhir yang paling ia rindukan. Untuk Almarhumah ibu Netty lahal faatihah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.