KARANGANYAR (Suaramuslim.net) – UMKM binaan Bank Indonesia, Teh Gambyong Kemuning, di Desa Kemuning, Karanganyar, Jawa Tengah, berhasil mencatatkan omzet penjualan mencapai Rp250 juta hingga Rp300 juta per bulan pada 2026.
Capaian ini meningkat signifikan dibandingkan rata-rata omzet sekitar Rp85 juta per bulan pada 2023, seiring pendampingan usaha dan perluasan akses pasar yang difasilitasi BI.
Pemilik Teh Gambyong Kemuning, Eko Wuryanti, menyebut pertumbuhan tersebut turut didukung oleh ekspansi jaringan distribusi, dengan jumlah mitra reseller yang meningkat dari 235 mitra pada 2023 menjadi sekitar 620 mitra pada 2026.
Usaha ini pun terus dikembangkan tidak hanya sebagai produsen teh olahan, tetapi juga sebagai destinasi wisata edukasi yang memberikan nilai tambah bagi potensi lokal.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur (KPw BI Jatim), Yono Haryono mengatakan, Bank Indonesia memiliki visi untuk mendorong UMKM agar naik kelas melalui tiga pilar utama.
Pilar pertama adalah penguatan kelembagaan dan sinergi kelompok.
BI berinisiatif melihat potensi serta kekuatan UMKM agar dapat berkembang secara optimal, salah satunya melalui kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan).
Dengan bersinergi dan bergerak secara berkelompok, UMKM diharapkan memiliki daya saing dan kekuatan yang lebih besar.
Pilar kedua adalah akses pembiayaan. Melalui kegiatan seperti JCFF 2026 dan FESyar 2026, BI mendorong UMKM untuk mendapatkan akses pembiayaan melalui kegiatan business matching.
Salah satu target kualitatifnya adalah mempertemukan UMKM dengan lembaga pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka. Misalnya, petani yang memiliki lahan dapat difasilitasi untuk memperoleh akses pembiayaan guna mengembangkan usahanya.
Pilar ketiga adalah fasilitasi akses pasar. UMKM yang memiliki kapasitas untuk menembus pasar ekspor akan difasilitasi agar dapat memperluas jangkauan pemasarannya, termasuk melalui agenda pameran internasional seperti Trade Expo Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian.
Bentuk fasilitasi disesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan UMKM. Jika masih membutuhkan penguatan kapasitas, BI akan memberikan capacity building.
Sementara itu, untuk pengembangan pembiayaan dan akses pemasaran, dukungan dapat diberikan melalui program pendampingan maupun bootcamp.
Selain ketiga pilar tersebut, BI juga memberikan pendampingan dalam pemenuhan aspek legalitas dan standardisasi produk, seperti perizinan usaha, izin edar BPOM, serta sertifikasi halal.
Dalam proses ini, BI akan menghadirkan para ahli terkait untuk membantu UMKM memenuhi persyaratan yang dibutuhkan sehingga produk mereka semakin siap bersaing di pasar yang lebih luas.
Pewarta: Elsa Khairunnisa
Penyunting: Muhammad Nashir

