Suaramuslim.net – Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan kata santri. Dahulu, kata ini terutama mengingatkan kita pada anak-anak muda yang belajar agama di pesantren, membaca kitab kuning, mengaji di hadapan kiai, dan menjalani kehidupan sederhana. Kini, santri berada dalam percakapan yang jauh lebih luas: pendidikan, politik, ekonomi, teknologi, bahkan masa depan bangsa.
Asal-usul kata santri sendiri masih diperdebatkan. Ada yang menghubungkannya dengan kata cantrik, yakni murid yang belajar kepada seorang guru. Ada pula yang mengaitkannya dengan istilah Sanskerta sastri, yang berhubungan dengan pengetahuan dan kitab.
Apa pun asal katanya, santri telah tumbuh menjadi identitas pendidikan, tradisi keilmuan, dan pengabdian.
Ketika kemerdekaan memanggil
Salah satu halaman penting dalam sejarah santri tercatat pada 22 Oktober 1945. Ketika kemerdekaan Indonesia masih menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial, para ulama mengeluarkan Resolusi Jihad yang menyerukan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Seruan ini menjadi salah satu penggerak semangat rakyat, termasuk para santri, dalam perjuangan yang berpuncak pada Pertempuran Surabaya pada November 1945.
Sejarah itu mengingatkan kita bahwa pesantren bukan menara gading yang terpisah dari persoalan bangsa. Ketika tanah air membutuhkan pengorbanan, tradisi keagamaan menemukan perjumpaannya dengan nasionalisme.
Dari ruang pengajian ke ruang kebangsaan
Seiring perjalanan waktu, pesantren mengalami perubahan. Sebagian mengembangkan pendidikan formal, perguruan tinggi, keterampilan profesional, dan kewirausahaan.
Lulusan pesantren memasuki berbagai bidang kehidupan, tanpa harus meninggalkan identitas keilmuan dan nilai yang mereka peroleh.
Kata santri pun semakin fenomenal. Ia tidak lagi semata-mata menunjuk seseorang yang tinggal di pesantren, tetapi juga membawa gambaran tentang kesederhanaan, ketekunan, kedekatan dengan masyarakat, dan tradisi pengabdian.
Pada 2015, negara menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Pengakuan itu memberi tempat yang lebih jelas bagi sejarah perjuangan ulama dan santri dalam ingatan nasional.
Tentu, kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan berbagai golongan dan komponen bangsa. Pengakuan terhadap santri justru memperkaya, bukan mempersempit, sejarah bersama tersebut.
Jihad baru untuk masa depan
Hari ini, tantangan santri berbeda dari tantangan para pendahulunya. Penjajahan fisik bukan lagi persoalan utama. Kita menghadapi kebodohan, kemiskinan, korupsi, kesenjangan, perpecahan, kerusakan lingkungan, serta perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Santri perlu menguasai ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan modern. Mereka perlu akrab dengan teknologi dan kecerdasan buatan, tetapi tidak kehilangan kemampuan berpikir kritis, kejujuran, dan kebijaksanaan.
Pesantren juga perlu memperoleh kesempatan yang lebih adil untuk meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat kemandirian ekonomi, dan menyiapkan lulusannya menghadapi dunia kerja.
Tema Hari Santri 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, mengingatkan bahwa santri bukan hanya pewaris masa lalu, tetapi bagian dari penentu masa depan.
Makna menjadi santri tidak cukup diukur dari pakaian, simbol, atau seberapa sering namanya disebut dalam pidato kebangsaan. Maknanya terletak pada bagaimana ilmu diamalkan, akhlak dijaga, perbedaan dihormati, dan masyarakat dilayani.
Dahulu, santri ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Sekarang, tugas itu diteruskan dengan mengisi kemerdekaan melalui ilmu, integritas, inovasi, dan kepedulian sosial.
Resolusi Jihad adalah bagian dari warisan perjuangan. Menguatkan negeri dengan ilmu, akhlak, dan pengabdian adalah panggilan zaman.
Ulul Albab
Penulis Kampus Kehidupan
Dewan Pakar ICMI Jatim

