Tabligh Akbar PPNS: Membentuk intelektual muda yang tangguh, inovatif, dan solutif

SURABAYA (Suaramuslim.net) – Ketangguhan batin menjadi salah satu bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan kehidupan, termasuk tekanan akademik, tuntutan masa depan, dan berbagai persoalan sosial.

Pesan tersebut mengemuka dalam Tabligh Akbar Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) pada Jumat 2 Oktober 2026 yang mengangkat tema “Ketangguhan Batin dan Pola Pikir dalam Membentuk Intelektual Muda yang Tangguh, Inovatif, dan Solutif Menuju Indonesia Emas 2045.”

Kegiatan yang diikuti sivitas akademika PPNS ini menghadirkan dua narasumber, yakni KH Ma’ruf Khozin serta Ustaz Muhammad Afthoni Adyatama Zahro, S.Psi., M.Kom.I.

Keduanya menyampaikan perspektif yang saling melengkapi mengenai penguatan batin, pentingnya menjaga hubungan dengan Allah SWT, dan kesungguhan generasi muda dalam menempuh perjalanan ilmu.

Mengelola overthinking dengan memperkuat hubungan kepada Allah

Ustaz Afthoni menyoroti fenomena overthinking dan rumination yang kerap dialami generasi muda.

Overthinking berkaitan dengan kecenderungan memikirkan hal-hal yang belum terjadi secara berlebihan, sedangkan rumination merupakan kebiasaan terus-menerus memikirkan pengalaman atau persoalan yang telah berlalu.

Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang terjebak dalam kekhawatiran, penyesalan, dan pikiran yang berulang. Karena itu, penting bagi setiap orang untuk membangun pola pikir yang lebih positif sekaligus memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Salah satu langkah sederhana yang disampaikan adalah membiasakan diri mengawali hari dengan mengingat Allah dan membaca doa bangun tidur:

Kebiasaan tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk syukur sekaligus pengingat bahwa kesempatan menjalani hari merupakan nikmat dari Allah SWT.

Dengan mengawali hari melalui rasa syukur, seseorang diharapkan memiliki landasan batin yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai aktivitas dan tantangan.

Ustaz Aftoni juga mengingatkan pentingnya mengevaluasi kembali hal-hal yang menjadi pusat perhatian dalam kehidupan.

Ketika pikiran hanya dipenuhi urusan dunia, kesibukan tanpa henti, keinginan yang terus bertambah, serta angan-angan yang tidak diimbangi tindakan nyata, seseorang dapat kehilangan ketenangan dan rasa cukup.

Karena itu, membangun ketangguhan batin perlu dimulai dari kebiasaan sehari-hari: mengingat Allah, mensyukuri nikmat, mengelola pikiran, dan menjalani kehidupan dengan tujuan yang lebih jelas.

Jangan lupakan pemberi rezeki dan ilmu

Sementara itu, KH Ma’ruf Khozin mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas duniawi dan kewajiban spiritual.

Menurutnya, kesibukan bekerja maupun menuntut ilmu tidak boleh membuat seseorang melupakan Allah SWT sebagai pemberi rezeki dan sumber ilmu.

Ia menekankan bahwa mencari ilmu merupakan perjalanan yang membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan konsistensi.

Mahasiswa perlu memahami bahwa proses belajar tidak selalu berjalan mudah. Tugas kuliah, ujian, penelitian, hingga penyusunan tugas akhir merupakan bagian dari proses yang harus dijalani dengan tekun.

Ia juga mencontohkan perjuangan Nabi Musa dalam mencari ilmu kepada Nabi Khidir. Kisah tersebut mengajarkan bahwa perjalanan menuntut ilmu dapat menghadirkan kesulitan dan menguji kesabaran.

Oleh sebab itu, mahasiswa perlu membangun sikap istiqamah serta terus meminta pertolongan kepada Allah SWT.

Kiai Ma’ruf menambahkan bahwa keberhasilan yang bertahan lama umumnya membutuhkan proses dan tahapan.

Ia mengibaratkan proses tersebut seperti pohon kelapa yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk tumbuh, tetapi mampu memberikan hasil yang bertahan lama.

Melalui perumpamaan itu, mahasiswa diajak untuk tidak hanya mengejar hasil instan, tetapi membangun fondasi yang kuat melalui proses belajar, kedisiplinan, kesabaran, dan ketekunan.

Generasi muda harus berani berproses

KH Ma’ruf Khozin turut mengajak mahasiswa untuk meneladani semangat generasi muda dalam sejarah Islam, salah satunya Zaid bin Tsabit.

Sahabat Nabi tersebut dikenal sebagai penulis wahyu dan mendapat amanah untuk membantu menghimpun Al-Qur’an pada masa Khalifah Abu Bakar.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa generasi muda memiliki potensi besar untuk memikul tanggung jawab penting apabila dibekali kesungguhan, kecerdasan, kejujuran, dan ketekunan.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar niat menuntut ilmu tetap dilandasi keikhlasan karena Allah SWT.

“Ilmu hendaknya tidak dicari semata-mata untuk mengalahkan orang lain, mengejar popularitas, atau memperoleh pengakuan, melainkan untuk meningkatkan kualitas diri dan memberikan manfaat,” tutur KH Ma’ruf.

Menyiapkan intelektual muda menuju Indonesia Emas 2045

Tablig Akbar PPNS 2026 menjadi momentum untuk mengingatkan kembali bahwa kecerdasan intelektual perlu berjalan beriringan dengan ketangguhan batin, kedewasaan berpikir, dan kekuatan spiritual.

Generasi muda yang tangguh bukan berarti tidak pernah merasa lelah, cemas, atau menghadapi kegagalan.

Ketangguhan justru tercermin dari kemampuan untuk memahami keadaan, mengambil pelajaran dari kesulitan, memperbaiki usaha, serta tetap menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Melalui penguatan ilmu, karakter, dan spiritualitas, mahasiswa diharapkan mampu menghadapi tantangan dengan lebih bijaksana serta berkontribusi dalam membangun masa depan bangsa.

Kontributor: Enggal Dito
Penyunting: Muhammad Nashir

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.