JAKARTA (Suaramuslim.net) – Menjaga salat tepat waktu dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh masih menjadi tantangan bagi sebagian umat muslim di tengah berbagai kesibukan mengurus dunia.
Salat merupakan ibadah ritual yang paling fundamental dalam Islam. Menjadikannya sebagai wujud ketaatan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wata’ala, bukan sekadar rutinitas harian.
Hal ini disampaikan pada khutbah Jumat di Masjid Pacific Place Jakarta (23/10/2026) yang dilaksanakan bekerja sama dengan Griya Al Qur’an Jakarta pada program Kajian Islam Buat Talenta Hebat (KIBLAT).
Ustaz Alfa Rois Alghani, sebagai khatib mengingatkan kembali pentingnya menjaga kewajiban salat lima waktu dan tidak boleh diremehkan, apalagi ditinggalkan.
Salat menempati kedudukan istimewa dalam Islam sebab merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat.
“Salat itu adalah tiang agama. Setiap orang yang menjaga salatnya, sungguh dia telah menjaga agamanya. Dan barang siapa meninggalkan salat, sungguh dia telah menghancurkan agamanya sendiri,” tegasnya.
Selain itu, ibadah salat adalah amalan yang pertama kali ditanyakan pada hari kiamat. Jika seseorang wafat lalu datang pertanyaan tentang salatnya dan ternyata amalan salatnya itu rusak, amalan-amalan yang lain dianggap rusak.
Akan tetapi, bukan berarti ketika salat itu baik amalan yang lain dianggap baik oleh Allah.
“Salat juga merupakan satu-satunya ibadah yang Allah syariatkan langsung kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,” ujarnya.
Dari pernyataan tersebut, Ustaz Alfa menambahkan bahwa apabila seseorang masih bernafas dan akalnya masih waras, wajib atas dirinya melaksanakan salat. Jika tidak berdiri, dilakukan dengan duduk. Tidak bisa duduk, dilakukan dengan berbaring. Apabila tidak bisa bergerak, cukup dengan isyarat.
Hal ini menunjukkan bahwa salat memiliki kedudukan yang penting dalam kehidupan seorang muslim.
Dunia bersifat fana dan akhirat kehidupan abadi
Kenikmatan dunia jika dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat, yaitu surga-Nya Allah itu tidak bisa dibandingkan karena terlalu jauh.
Rasulullah pernah memberikan gambaran tentang perbandingan nikmat dunia dan akhirat.
“Seseorang di antara kamu datang ke lautan, celupkanlah jari telunjuk di air laut tersebut, lalu angkat. Air yang menetes di jari telunjuk itulah kenikmatan dunia, sedangkan air di samudera yang tiada penghujungnya, itulah kenikmatan di akhirat,” jelasnya.
Ustaz Alfa menyeru kepada jamaah agar kita tidak menjual kenikmatan akhirat yang begitu dahsyat dengan kenikmatan dunia yang begitu sedikit dan fana ini.
Enam sikap yang menunjukkan kelalaian dalam salat
Dalam khutbah tersebut, Ustadz Alfa juga mengajak jemaah untuk melakukan introspeksi terhadap pelaksanaan salat.
Ia menguraikan enam bentuk sikap yang perlu diwaspadai karena dapat menunjukkan kelalaian dalam menjaga salat.
Pertama, merasa berat dan malas melaksanakan salat, serta dilakukan tanpa kesungguhan, seolah-olah menjadi beban yang ingin segera ditinggalkan.
Kedua, melaksanakan salat demi mendapatkan pujian manusia dan bukan mengharap rida Allah. Ketiga, menunda-nunda waktu salat tanpa alasan yang dibenarkan.
Keempat, melaksanakan salat dengan tergesa-gesa tanpa memperhatikan tuma’ninah. Kelima, kurang mengingat Allah ketika salat.
Hati dan pikiran lebih banyak disibukkan oleh urusan dunia, sehingga kekhusyukan sulit terjaga. Keenam, malas melaksanakan salat berjamaah.
Enam hal tersebut menjadi evaluasi agar setiap muslim juga harus berusaha memperbaiki kualitas, keikhlasan, dan kesungguhan dalam beribadah salat.

Mengutamakan akhirat di tengah kesibukan dunia
Lebih lanjut, Ustaz Alfa mengingatkan bahwa salat perlu ditempatkan sebagai prioritas dalam kehidupan sehari-hari dan hendaknya tidak membiarkan kesibukan, pekerjaan, maupun urusan lainnya menghalangi kita dari salat.
Pesan ini menjadi reminder bahwa keberhasilan seorang muslim tidak semata-mata diukur dari pencapaian duniawi, tetapi juga dari ketaatan dan kesungguhannya dalam mengerjakan perintah Allah.
Selain itu, salat bukan hanya sekadar kewajiban yang ditunaikan ketika sempat, tetapi menjadikannya sebagai fondasi terpenting dalam agama sekaligus membangun kebiasaan hidup yang senantiasa menjadikan rida Allah sebagai payung.
Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan taufik dan keistiqamahan kepada kita untuk menjaga salat hingga akhir hayat. Aamiin ya Rabba’alamin.
Intisari Kajian Islam Buat Talenta Hebat (KIBLAT) Griya Al Qur’an Jakarta yang disampaikan pada khutbah Jumat di Pacific Place Jakarta, 23 Oktober 2026.
Hadirkan narasumber Griya Al Qur’an dalam kajian di ruang-ruang akativitas kita. Narahubung 0851-6555-6630.
Kontributor: Debi Primanda
Penyunting: Muhammad Nashir

