taaruf
Foto: deerham.com

Suaramuslim.net – Maraknya pacaran yang berujung seks bebas dan hamil pranikah membuat sejumlah kalangan untuk mencari solusi.  Salah satu solusi adalah praktik taaruf. Apa arti taaruf? Taaruf dari bahasa Arab artinya perkenalan. Istilah ini bisa dipakai dalam umumnya pergaulan pertemanan atau persahabatan. Namun kemudian istilah taaruf ini menyempit yang maknanya sebuah usaha penjajakan untuk saling mengenal di antara dua pasang manusia pria dan wanita untuk menuju jenjang pernikahan.

Dalam ajaran Islam, hubungan seks hanya boleh dengan cara menikah. Tidak ada cara lain. Karena itu, taaruf adalah solusi menuju proses pernikahan. Karena pacaran akan menjerumuskan muda mudi kepada perbuatan dosa dan asusila. Pecaran hanya membuat kedua sejoli dimabuk syahwat, bukan malah menjaga diri agar tetap suci hingga akad nikah nantinya. Dalam konteks ini, apa arti taaruf?

-Advertisement-

Istilah ini awalnya ini dipakai untuk proses berkenalan antara pria muslim dan muslimah untuk saling kenal yang ditemani seorang pendamping, bisa kerabat si wanita atau kerabat pria. Atau bisa juga pendamping itu adalah seorang ustadz atau tokoh agama yang membina kedua kandidat itu.

Istilah taaruf digunakan sebagai antitesis cara pacaran. Lazimnya pacaran, pria dan wanita berduaan kemana saja mereka suka padahal belum ada ikatan penikahan di antara dua sejoli ini. Ada yang sekadar makan berdua di café, jalan-jalan di mal, nonton bioskop, berboncengan di motor, berduaan di mobil, dll. Jika dua sejoli bukan mahram sedang berduaan, maka ketiganya pasti syetan. Dia menggoda keduanya untuk terus berbuat lebih jauh melanggar batas kebolehan. Seperti halnya dia menggoda bapak dan ibu manusia dulu di surga.

Baca Juga :  Kisah Wangi Tubuh Abu Bakar Al Miski

Bahkan pacaran masa kini lebih mesra daripada pasangan suami istri (pasutri). Ada saling bergandengan tangan, berpelukan, berciuman dan bahkan naudzubillah hubungan seksual. Praktik pacaran seperti ini adalah perbuatan zina dan dosa besar di dalam pandangan Islam.

Islam telah memberi peringatan jauh sebelum terjadinya perbuatan zina yang disebut pacaran. Allah menggunakan kalimat jangan dekati zina. Jika mendekati saja sudah dilarang, apalagi melakukannya. Setiap perbuatan yang mengarah kepada zina harus ditutup. Karena nafsu manusia selalu mengajak kepada keburukan. Maka zina merupakan jalan yang paling buruk. Bagaimanakah rumah tangga bisa mencapai sakinah jika diawali dengan perbuatan dosa (baca pacaran).

Maka taaruf dipraktikkan untuk menjadi cara terhormat bagi muslim dan muslimah dalam menggapai keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Mari kita lihat apa beda taaruf dan pacaran.

2. Dalam hal sifat

Arti taaruf adalah perkenalan. Sifatnya tertutup dan rahasia. Hanya pihak tertentu saja yang paham dengan siapa kita bertaaruf. Jika tidak saling cocok, maka tak ada yang tahu. Hanya satu dua orang saja yang tahu karena biasanya mereka yang membantu proses taaruf itu. Sehingga tidak ada perasaan jengkel atau baper. Karena sifatnya yang rahasia.

Baca Juga :  Psikologi Pengantin

Sedangkan pacaran, sifatnya terbuka dan diumbar. Pasangan pacaran akan terlihat sangat jelas. Mereka sering bepergian berdua. Hang out berdua. Banyak yang menyaksikan. Kalau putus, semua orang juga tahu. Kalau pacaran itu biasanya diumbar. Maka putus pun diumbar juga. Malah kadang sampai beredar di media sosial kalau sudah putus dengan si dia.

Putus dengan mantan pacar ini bisa menjadi fitnah dan gunjingan orang. Bahkan hal ini berpotensi menjadi batu sandungan jika kelak masing-masing telah menikah dengan orang lain. Karena pasangan yang sekarang sama-sama tahu berhubungan dengan siapa di masa lalu. Potensi konflik juga sangat besar setelah menikah. Karena jika kadung tersulut emosinya, aib dan keburukan suami atau sang istri akan diungkit-ungkit. Itulah benih-benih keretakan rumah tangga.

3. Dalam hal pelaksanaan    

Taaruf langsung banyak berhubungan antara calon mempelai dengan wali atau orangtua masing-masing. Hal ini berbeda dengan pacaran. Karena pelaksaan pacaran hanya memuaskan kedua sejoli saja.

4. Dalam hal pertemuan

 Jika taaruf, kedua sejoli tidak diperkenankan bertemu berdua. Harus ada pendamping, bisa dari pihak wanita saja atau sama-sama ajak pendamping. Di sinilah perbedaan mencolok dengan pacaran. Keduanya sering berduaan dimana saja. Bahkan sering dijumpai pasangan pacaran berduaan di tempat sepi. Inilah lebih dekat kepada perbuatan zina.

Baca Juga :  Menikah Muda dalam Pandangan Islam
5. Dalam hal komunikasi

Komunikasi dalam taaruf dibatasi hanya untuk kebutuhan persiapan pernikahan. Tidak terlalu banyak. Karena semua diniatkan menuju keberkahan rumah tangga. Sehingga meski tidak banyak komunikasi, maka kemantapan hati sepenuhnya dilimpahkan Allah. Karena hanya Allah semata yang membolak-balikkan hati. Hanya Allah saja yang menjodohkan kedua anak manusia.

Sangat berbeda dengan pacaran, komunikasi kedua sejoli acapkali melewati batas. Keduanya seringkali mengumbar gombalan. Komunikasinya tidak tulus karena mentaati agama. Sehingga Allah tidak memberi kemantapan hati yang hakiki. Maka yang dominan adalah dorongan syahwat dan godaan syetan.

6. Dalam hal jangka waktu

Taaruf punya tahapan yang jelas dan terbatas waktunya. Prinsip dasarnya: lebih cepat lebih baik. Sangat berbeda dengan pacaran. Proses pacaran tidak jelas jangka waktunya. Anak sekarang bilang: geje alias gak jelas. Ada yang hitungan bulanan. Ada yang sampai 3 tahun ataupun 5 tahun. Dan proses pacaran seperti ini sangat rawan masalah akhlak dan perilaku dosa. Sehingga jangka waktu yang panjang itu hanya menambah dosa saja.

Ketika kemudian menikah pun, tidak ada rasa yang spesial di antara keduanya karena sudah sering berduaan. Ibarat kita makan di waktu magrib padahal kita berpuasa. Tentu akan berbeda kenikmatannya dengan orang yang berpuasa lalu berbuka di saat magrib tiba.

Kembali ke bagian 1: klik

Kontributor: Oki Aryono
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.