Bekal Takwa Menuju Baitullah

Bekal Takwa Menuju Baitullah

Bekal Takwa Menuju Baitullah

Suaramuslim.net – Setiap orang yang ingin berhaji ke Baitullah dengan niat tulus, pasti menginginkan haji yang mabrur. Namun, haji seperti ini tidak akan tergapai, melainkan dengan persiapan bekal yang terbaik. Bekal itu –sebagaimana disebutkan dalam Surah Al Baqarah ayat 197- adalah takwa.

Bila ditilik dalam Al Quran, rupanya bekal takwa ini bukan sekadar masalah rohani namun juga materi. Ini bisa dilihat dari ayat-ayat yang menjelaskan ciri-ciri orang bertakwa sebagaimana yang termaktub dalam surah Al Baqarah 3 sampai 4; Ali Imran ayat 134 sampai 135 serta Al Anbiya ayat 49.

Bila dikumpulkan jadi satu ciri-ciri orang bertakwa sebagai berikut:

  1. Iman pada yang ghaib.
  2. Mendirikan shalat.
  3. Berinfak (baik dalam kondisi sempit maupun lapang).
  4. Iman kepada kitab yang diturunkan kepada para Rasul.
  5. Menahan amarah.
  6. Memaafkan orang.
  7. Apabila berbuat keburukan atau kezaliman, segera mengingat Allah dan beristighfar.
  8. Takut kepada Allah dengan yang ghaib serta takut pada hari kiamat.

Dari kedelapan ciri orang bertakwa tersebut, mencakup hal fisik dan non fisik. Keimanan pada yang ghaib, pada kitab para Rasul, takut kepada Allah dan hari kiamat adalah bagian dari perkara rohania atau spiritual. Bila bekal ini disertakan dalam ibadah haji, maka akan menimbulkan efek yang dahsyat. Dirinya berhaji bukan lagi karena mencari popularitas dan gelar, tapi tulus karena Allah subhanahu wata’ala.

Sedangkan ciri lain seperti, mendirikan shalat dan infak adalah masuk dalam kategori fisik dan materi. Demikian juga haji, juga membutuhkan kesiapan fisik prima dan materi yang cukup. Karenanya, dalam surah Ali Imran ayat 97 disebutkan bahwa kewajiban haji hanya diperuntukkan bagi yang sanggup atau yang mampu saja.

Lebih dari itu bahkan, takwa juga menyangkut pada interaksi sosial seperti, menahan amarah dan gampang memaafkan kesalahan orang lain. Akhlak-akhlak luhur ini penting untuk dijadikan bekal bagi orang yang haji. Orang yang hendak, mau bahkan yang sudah haji sudah barang tentu harus menjaga interaksi sosialnya; tidak mudah emosi dan suka memaafkan. Yang tak kalah penting adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang merusak haji.

Tidak mengherankan, jika pada surah Al Baqarah 197, sebelum Allah memerintahkan orang yang hendak haji berbekal takwa, yang diingatkan terlebih dahulu adalah jangan berkata kotor, berbuat fasik dan berbantah-bantahan dalam mengerjakan haji.

Nabi pun pernah mengingatkan, “Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya”. (HR. Bukhari)

Dari beberapa hal tersebut, maka bagi yang ingin haji mabrur, takwa –dengan berbgai aspeknya- menjadi syarat kunci kesuksesannya.

Barangsiapa dikaruniai kemabruran haji, maka ia menjadi orang yang sangat beruntung sebagaimana sabdanya: “Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga”. (HR al-Bukhari dan Muslim)

Kontributor: Mahmud Budi Setiawan
Editor: Oki Aryono

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment