Giri membangun benteng ilmu dan jaringan dakwah

Suaramuslim.net – “Ilmu adalah benteng yang tak bisa ditembus pedang. Dan dari benteng itulah Giri membangun perlawanan yang sunyi, tapi pasti.” [Catatan Santri Giri].

Jika kekuasaan adalah ombak yang datang dan pergi, maka ilmu adalah dasar laut yang tak pernah berubah. Itulah yang diyakini Sunan Giri. Ia tahu, peradaban yang hanya dibangun oleh kekuatan senjata akan roboh secepat datangnya badai. Tapi peradaban yang ditanam dengan ilmu, ia akan bertahan lebih lama dari usia raja-raja.

Bukan Kerajaan, tapi jaringan

Giri Kedaton tak pernah punya pasukan berkuda seperti Majapahit. Ia tak punya istana bertingkat, tak juga singgasana emas. Tapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih menggetarkan: jaringan ulama dan santri, dari ujung Sumatera hingga pesisir Maluku.

Para santri Giri, setelah menamatkan pelajaran, tak kembali ke rumah untuk menjadi petani atau saudagar biasa. Mereka ditugaskan: membuka langgar di dusun-dusun terpencil, menulis ulang mushaf di desa-desa pesisir, mendidik generasi yang tak pernah mengenal huruf.

Itulah tentara Sunan Giri: bukan bersenjata, tapi berpena. Bukan menaklukkan kota, tapi membangkitkan nurani.

Ilmu yang membebaskan, bukan menjinakkan

Di tengah rezim-rezim baru yang lahir dari puing Majapahit, banyak yang mencoba mendirikan madrasah hanya untuk mencetak pengikut, bukan pemikir. Tapi Giri berbeda.

Kitab yang diajarkan bukan hanya tentang halal dan haram, tapi juga tentang bagaimana menegakkan keadilan, bagaimana menolak kezaliman, bagaimana memimpin rakyat bukan sebagai tuan, tapi sebagai pelayan.

Santri Giri dididik bukan untuk menjilat penguasa, tetapi untuk menegur mereka.

Kaderisasi peradaban

Giri tak pernah kekurangan murid. Para pemuda dari Tuban, Cirebon, Banten, Palembang, hingga Ternate, datang silih berganti. Mereka tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga strategi berdakwah, teknik berdialog dengan budaya lokal, bahkan seni berdagang dan bertani.

Sunan Giri tahu, dakwah yang lemah dalam ekonomi akan kalah oleh suara perut. Maka setiap lulusan Giri dibekali tiga hal: kitab, akal, dan kemandirian.

Membangun dari pinggiran

Jika pusat-pusat kekuasaan sibuk dengan intrik istana, maka Giri memilih membangun dari pinggiran. Dari kampung ke kampung, dari pesisir ke pegunungan. Giri menanam titik-titik ilmu di tempat-tempat yang tak dilirik para bangsawan.

Dan dari titik-titik itulah, jaringan dakwah tumbuh seperti akar pohon beringin; sunyi, tak terlihat, tapi menembus ke dalam tanah sejarah Nusantara.

Ulama adalah urat nadi bangsa

Giri tak pernah mengajarkan para santri untuk tunduk pada raja, kecuali jika raja itu adil. Karena dalam nalar Giri, ulama bukan pelengkap kekuasaan. Ulama adalah pembimbing kekuasaan.

Dan karena prinsip itulah, banyak penguasa takut pada Giri. Bukan karena jumlah pasukannya. Tapi karena setiap kata-kata Sunan Giri dari atas mimbar hingga dari balik dinding pesantren bisa mengguncang nurani rakyat.

Dari balik surau yang kecil, dari balik kelir pertunjukan, dari huruf-huruf Arab pegon yang ditulis dengan sabar oleh tangan-tangan santri, Giri membangun peradaban. Bukan dengan bunyi genderang perang, tapi dengan zikir dan pelajaran.

Dan seperti air yang mengalir dari mata air, Giri tidak memaksa. Tapi ia pasti sampai.

Cerita bersambung.. Nantikan lanjutan dongeng sejarah ini ke bagian selanjutnya.

Artikel ini adalah tulisan berseri
Sunan Giri: Pewaris Langit, Penjaga Tanah (Bab 9)
Karya Agus M. Maksum

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.