Nabi Ibrahim dan Nabi Isa Menunggu dan Memberitakan Kedatangan Rasulullah SAW

Nabi Ibrahim dan Nabi Isa Menunggu dan Memberitakan Kedatangan Rasulullah SAW

Ibrahim dan Isa Menunggu dan Memberitakan Maulid Nabi Muhammad
Masjid Addas (Foto: Asafeer Indonesia/Facebook)

Suaramuslim.net – Nabi Ibrahim memberitakan lahirnya seorang nabi terakhir dalam doanya di surat Al-Baqarah ayat 129. Selepas membangun Ka’bah beliau lantas berdoa agar Allah memunculkan sosok Nabi di lingkungan Ka’bah dan sekitarnya.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Baqarah: 129).

Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar mengutus sosok Nabi dari lingkungan Ka’bah yang mengajarkan kitab suci kepada mereka. Sejarah membuktikan bahwa sosok Nabi yang lahir di sekitar Ka’bah itu adalah Nabi Muhammad.

Doa Nabi Ibrahim itu terwujud setelah 30 generasi kemudian. Hal ini seperti ditulis dalam kitab al-Sirah al-Nabawiyyah, Imam Ibnu Hisyam menulis nasab Rasulullah Muhammad sebagai berikut:

هَذا كِتَابُ سِيْرَةِ رَسُوْلِ اللهِ صلي الله عليه وسلّم, هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بن عَبْدِ الْمُطَّلِبِ — وَاسْمُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: شَيْبَةَ بن هَاشِمِ — وَاسْمُ هَاشِمِ: عُمَرُو بن عَبْدِ مَنَافِ—وَاسْمُ عَبْدِ مَنَافِ: المغِيْرَةُ بن قُصَيّ بن كِلَابِ بن مُرَّةَ بن كَعْبِ بن لُؤَيِّ بن غَالِبِ بْن فِهْرِ بن مالِكِ بن  النَّضْرِ بن كِنَانَةَ بنِ خُزَيْمَةَ بن مُدْرِكَةَ—واسمُ مُدْرِكَةَ: عَامِرِ بن إِلْيَاس بن مُضَر بن نِزَار بن مَعَدِّ بن عَدْنَانَ بن أُدَّ — ويقالُ أُدَدَ بن مُقَوِّمِ بن نَاحُوْر بن تَيْرَح بن يَعْرُبَ بن يَشْجُبَ بن نَابَت بن إِسْمَاعِيْلَ بن إِبْرَاهِيْمَ — خليلُ الرَّحمنِ — بن تَارِح — وهوَ آزَر— بن نَاحُوْر بن سَارُوْغ بن رَاعُو بن فَالِخ بن عَيْبَر بن شَالِخ بن أَرْفَخْشَذ بن سَام بن نُوْح بن لَمَك بن مَتُّو شَلَخ بن أَخْنُوْخ — وَهو إِدْرِيْسُ النَّبِي — وَكانَ أَوَّلَ بَنِي آدَمَ أُعْطِي النُّبُوَّةَ وَخَطَّ بِالْقَلَمِ — ابن يَرْد بن مَهْلَيِل بن قَيْنَن بن يَانِش بن شِيْث بن آدَمَ عليه السلام “.

Ini adalah kitab Sirah Rasulullah ﷺ, dia adalah Muhammad

  1. bin Abdullah
  2. bin Abdul Muttalib, nama asli Abdul Muttalib adalah Syaibah
  3. bin Hasyim, nama asli Hasyim adalah Umar
  4. bin Abdu Manaf, nama asli Abdu Manaf adalah Mughirah
  5. bin Qusayy
  6. bin Kilab
  7. bin Murrah
  8. bin Ka’b
  9. bin Lu’ayy
  10. bin Ghalib
  11. bin Fihr
  12. bin Malik
  13. bin al-Nadlr
  14. bin Kinanah
  15. bin Khuzaimah
  16. bin Mudrikah, nama asli Mudrikah adalah ‘Amr
  17. bin Ilyas
  18. bin Mudhar
  19. bin Nizar
  20. bin Ma’add
  21. bin ‘Adnan
  22. bin Udda, dilafalkan juga Udada
  23. bin Muqawwim
  24. bin Nahur
  25. bin Tayrah
  26. bin Ya’ruba
  27. bin Yasyjuba
  28. bin Nabat
  29. bin Ismail
  30. bin Ibrahim, khalil al-rahman
  31. bin Tarih, dia adalah Azar
  32. bin Nahur
  33. bin Sarug
  34. bin Ra’u
  35. bin Falikh
  36. bin Aybar
  37. bin Syalikh
  38. bin Arfakhsyadz
  39. bin Sam
  40. bin Nuh
  41. bin Lamak
  42. bin Mattu Syalakh
  43. bin Akhnunkh, dia adalah Nabi Idris, bani Adam pertama yang dianugerahi kenabian dan baca tulis
  44. bin Yard
  45. bin Malayil
  46. bin Qainan
  47. bin Yanisy
  48. bin Syits
  49. bin Adam ‘alaihis salam

(Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, ed. Umar Abdul Salam Tadmuri, Dar al-Kutub al-‘Arab, 1990, juz 1, h. 11-16).

Demikian pula dengan Nabi Isa, memberikan kabar gembira akan waktu kedatangan Nabi terakhir setelah beliau yang diabadikan dalam firman Allah QS Ash Shaff ayat 6;

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

Nabi Isa diberi informasi tentang Nabi Muhammad antara lain seperti apa yang beliau sampaikan di surah Ash-Shaff. Dalam Injil Yohannes XIV: 15-16, dinyatakan bahwa Isa al Masih berkata, ”Jikalau kamu mengasihi aku, kamu akan menuruti segala perintahku. Aku akan minta kepada Bapa dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain supaya ia menyertai kamu selama lamanya.”

Teks ini dipahami oleh banyak ulama Islam sebagai berita gembira tentang kehadiran Nabi Muhammad. Teks yang diterjemahkan dengan kata Penolong pada Injil di atas, menurut banyak ulama berarti Pelipur; Pemberi berita gembira yakni membawa rahmat. Bahkan ada yg memahaminya dalam arti Ahmad. Kalimat ‘akan menyertai kamu selama-lamanya’ dipahami sebagai kelanggengan risalah Nabi Muhammad saw sampai akhir zaman. (Al-Misbah 14: 197).

Kata ‘Ahmad’ adalah bentuk superlatif dari kata ‘Hamid’, sehingga arti kata Ahmad adalah lebih terpuji. Seolah itu pengakuan dari Nabi Isa bahwa Nabi Muhammad adalah lebih terpuji ibadahnya kepada Allah daripada dirinya.

Muhammad memiliki arti sesuatu yang banyak sekali dipuji, karena seringnya beliau dipuji sehingga beliau adalah Ahmad yakni yang paling dipuji.

Arti Maulid dan Maulud

Keduanya itu berasal dari kalimat ‘walada’ yang berarti melahirkan. Maulid itu berarti waktu kelahiran, sedang Maulud itu memiliki arti yang dilahirkan (bayi/diri yang terlahir).

So, maulidin nabi itu berarti waktu kelahiran Nabi dan mauludun nabi adalah sosok Nabi Muhammad itu sendiri. Maka kalau arti harfiahnya seperti itu, siapa pun yang menolak maulid nabi dan maulud nabi adalah di luar Islam.

Ayat pertama di atas adalah terkait doa Nabi Ibrahim akan lahirnya sosok Nabi (maulud) dari keturunannya. Dan Allah mengabulkannya sehingga dari beliau lahir sosok Nabi Muhammad. Dan doa Nabi Ibrahim tersebut dipanjatkan jauh sebelum lahirnya Nabi Isa alaihis salam.

Adapun ayat kedua mengungkapkan bagaimana Nabi Isa begitu gembira dengan waktu kedatangan Nabi Muhammad, padahal jarak mereka jauh yaitu 600 tahun.

Biasanya orang bergembira akan kelahiran seseorang itu ketika waktu kelahirannya. Sedang Nabi Isa sudah bergembira 600 tahun sebelum tiba Maulid Nabi yaitu waktunya kelahiran Al Musthofa shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Artinya, baik Nabi Ibrahim, dan Nabi Isa alaihis salam, berharap kedatangan sosok Nabi Muhammad, baik dalam konteks maulud maupun maulid. Karena itu, maulid Nabi dan maulud Nabi adalah keniscayaan yang harus diyakini dengan iman.

Sikap Orang Beriman Terhadap Maulid Nabi dan Maulud Nabi

Sudah tentu adalah bergembira! Kalau Nabi Ibrahim dan Nabi Isa saja begitu bergembira, mestinya kita yang derajat keimanannya biasa saja, harus lebih bergembira.

Dalam Shahih Al-Bukhari di kitab An-Nikah, mursalan, juga Ash-Shan’ani dalam Mushannafnya juz 7 halaman 478, Ibn Katsir dalam Al-Bidayah juz 1 halaman 224 diceritakan bahwa Abu Lahab yang celaan Allah kepadanya begitu jelas dalam surat Al-Lahab, diringankan siksaannya pada hari Senin karena bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad dengan memerdekakan budaknya Tsuwaibah, karena ia telah memberikan berita kelahiran Al-Musthofa. Maka tidak bisa terbayangkan anugerah yang Allah berikan kepada kita karena bergembira dengan maulud Nabi Muhammad.

Al Hafidz Syamsuddin bin Nashiruddin Ad-Dimasyqi mengatakan;

اذا كان هذا كافرا جاء ذمُّه # بتبت يداه في الجحيم مخَلَّدا

اتي انه في يوم الاثنين داءما # يُخَفَّف عنه للسرور باحمدا

فما الظنُّ بالعبد الذي طُول عُمره # باحمد مسرورا و مات موحدا

Jika Abu Lahab yang kafir ini telah dicela # Dengan kalimat Allah “binasalah kedua tangannya” sehingga kekal di neraka.

Namun ada riwayat bahwa setiap hari Senin # Ia diringankan siksanya karena bergembira dengan lahirnya Ahmad.

Maka bagaimana dengan seorang hamba yang selama hidupnya # Selalu bergembira dengan Nabi Ahmad dan ia pun wafat dalam ketauhidan?

Bagaimana dengan kita yg bergembira dengan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Peringatan kelahiran Nabi adalah bentuk kegembiraan akan lahirnya manusia teragung dan termulia. Dan Allah pun meminta kita untuk bergembira dengan Maulid Nabi Muhammad.

Lihatlah Surat Yunus 58 ini:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Imam As-Suyuthi dalam kitab Ad-Durrul Mantsur menuliskan tafsir sahabat Ibnu Abbas bahwa fadhl (karunia) Allah adalah ilmu dan rahmat-Nya yaitu lahirnya Nabi Muhammad.

Bagaimana Ekspresi Kegembiraan Akan Maulid Nabi dan Maulud Nabi?

  1. Puasa

Nabi Muhammad pun bergembira dengan maulidnya dan itu diekspresikan dengan berpuasa. Hal itu bisa dilihat ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang alasannya puasa hari Senin, beliau menjawab:

ذاك يوم ولدت فيه ويوم بعثت اوانزل علي فيه

(Aku puasa hari Senin karena) hari itu hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku. (Muslim).

So… Kalau sahabat Nabi Muhammad berpuasa hari Senin, pada dasarnya mereka melakukan itu karena hari itu hari kelahiran Nabi mereka.

Puasa ini bisa sebagai simbol ibadah sekaligus ekspresi berbahagia dengan maulid Nabi Muhammad. Artinya, wujud kebahagiaan bermaulid adalah dengan meneladani ibadah Nabi selain puasa. Seperti salat yang panjang sampai kakinya bengkak, atau sering menyibukkan diri dengan membaca Al Qur’an.

Meski ibadah kita tidak persis Nabi, minimal mengistiqamahkan semampunya dalam beribadah adalah hal yang baik.

  1. Meneladani Akhlak Nabi

Baik akhlak beliau dengan keluarganya seperti dengan istri-istri beliau. Seperti kisah dengan Aisyah.

Anas bin Malik berkisah, “Suatu saat Nabi di tempat salah seorang istrinya (Aisyah) kemudian istrinya yang lain mengirim sepiring makanan. Aisyah yang sedang bersama Nabi memukul tangan pembantu sehingga jatuhlah piring dan pecah sehingga makanan berhamburan. Lalu Nabi mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengumpulkan makanan yang tadinya di piring, beliau berkata, “Ibu kalian cemburu…”

Nabi tidak marah, bahkan menutupinya kepada pembantunya dengan perkataan “ibu kalian cemburu” supaya tidak menyalahkan Aisyah.

Aisyah dengan makanan yang keasinan, Nabi pun tidak mencelanya.

Aisyah yang kehilangan kalung sebagaimana ia bercerita;

Kami keluar bersama Rasulullah pada saat safar beliau (untuk melawan kaum Yahudi kabilah bani Mushthaliq), hingga tatkala kami sampai di Al-Baidaa di Dzatulijaisy kalung milikku terputus maka Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pun berhenti untuk mencari kalung tersebut.

Perhatikan, Nabi Muhammad begitu perhatian sehingga menunda perang dengan orang Yahudi demi kekasihnya yaitu Aisyah.

Dan kisah Aisyah dengan orang yang menari dari Habasy seperti yang dituturkannya:

Orang-orang Habasyah masuk ke dalam masjid untuk bermain (latihan berpedang), maka Nabi bertanya kepadaku ‘wahai khumaira (panggilan sayang untuk Aisyah), apakah engkau ingin melihat mereka? Aku menjawab, ‘iya’. Nabi berdiri di pintu, lalu aku mendatanginya dan aku letakkan daguku di atas pundaknya kemudian aku sandarkan wajahku di pipinya.

(Setelah agak lama) Rasulullah pun bertanya, ‘Sudah cukup (engkau melihat mereka bermain)?’ Aku menjawab, ‘wahai Rasulullah, jangan terburu-buru’, lalu beliau (tetap) berdiri untukku agar aku bisa terus melihat mereka. Kemudian ia bertanya lagi, ‘sudah cukup?’ Aku pun menjawab, ‘wahai Rasulullah, jangan terburu-buru’. Aisyah berkata, sebenarnya aku tidak ingin terus melihat mereka bermain, akan tetapi aku ingin para wanita tahu bagaimana kedudukan Rasulullah di sisiku dan kedudukanku di sisi Rasulullah.

Akhlak Nabi dengan dengan umatnya, seperti kasus di Madinah dengan orang Badui yang kencing, atau orang badui yang menempelengnya, serta kasus mengharukan di Thaif.

Konon Nabi mendatangi Thaif saat embargo kepada beliau terjadi yaitu sekitar tahun ke-8 kenabian. Beliau ditemani maula-nya yang setia Zaid bin Haritsah. Beliau menuju ke Thaif dengan jalan kaki selama 4 hari (kalau sekarang naik bis sekitar 2 jam, jarak sekitar 61 mil) agar tidak diketahui warga Mekkah.

Nabi berdakwah di tempat tersebut selama 15 hari, dan ketika bertemu dengan tokoh Tha’if, Abdul Yalil bin Abdul Kulal. Nabi menawarkan tiga hal yang dirangkum sebagai berikut;

1). Menawarkan agama Islam kepada mereka, tapi ajakan tulus itu ditolak mentah-mentah

Abdul Yalil berkata, “Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain dirimu?” Nabi pun tidak memaksa mereka.

2). Tawaran agar tidak mengabarkan kedatangan Nabi kepada Quraiys

“Jika kalian menolak memberikan perlindungan dan masuk Islam, janganlah kalian mengabarkan kepada Quraisy bahwa aku datang untuk minta pertolongan,” ujar Nabi.

Di luar dugaan, permintaan itu juga ditolak penduduk Tha’if. Akhirnya, Nabi mengajukan permohonan terakhir.

3). Membiarkan Nabi pergi

“Jika kalian menolak, biarkan aku pergi,” ujar Nabi dengan lembut. Namun, apa jawaban Abdul Yalil?

“Demi Allah, engkau tidak akan bisa keluar sampai engkau dilempari dengan batu. Agar engkau tidak akan pernah kembali lagi ke sini, selamanya,” ucapnya.

Maka dia pun mengomando warga Thaif utk melempari Nabi. Ini yang memberatkan hati Nabi. Sang Kekasih pun mundur, karena tak menyangka begitu cepatnya batu-batu menghujaninya dan Zaid.

Zaid berusaha melindungi Nabi, namun karena begitu derasnya hujan batu itu, sehingga pelipis Nabi berdarah, lutut Nabi berdarah terkena lemparan itu. Zaid pun memapah Nabi untuk mencari tempat yang aman. Tempat yang dikira aman itu, tanpa disadari oleh Nabi dan Zaid adalah kebun anggur milik orang Makkah yang sangat membenci beliau, yaitu Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah.

Nabi pingsan di kebun tersebut, dan sesaat dari itu terbangun, beliau menengadahkan tangan ke Rab-nya;

اَللُّهُمَّ اِلَيْكَ اَشْكُوْ ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيْلَتِيْ وَهَوَانِيْ عَلَى النَّاسِ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ، وَاَنْتَ رَبِّي، اِلَى مَنْ تَكِلُّنِيْ اِلَى بَعِيْدٍ يَتَجَهَّمُنِيْ ؟ اَوْ اِلَى عَدُوٍّ مَلَكْتَهُ اَمْرِيْ ؟ اِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ غَضَبٌ عَلَيَّ فَلاَ اُبَالِيْ وَلَكِنْ عَافِيَتَكَ هِيَ اَوْسَعُ لِيْ، أَعُوْذُ بِنُوْرِوَجْهِكَ الَّذِيْ اَشْرَقَتْ بِهِ الظُّلُمَاتُ، وَصَلُحَ عَلَيْهِ اَمْرُ الدُّنْيَا وَاْلاَخِرَةِ مِنْ اَنْ تُنَزِّلَ بِي غَضَبُكَ اَوْ تَحُلُّ بِي سَخَطُكَ، لَكَ الْعَتْبَي حَتَّى تَرْضَي، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّبِكَ

Wahai Tuhanku, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sempitnya ikhtiarku dan hinanya aku di mata manusia. Wahai Tuhan, Engkau yang lebih pengasih dari semua pengasih, Engkau pelindung orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku.

Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku ini? Kepada yang jauh dan menghadapiku dengan muka masam, atau kepada musuh yang membenciku? Kalau Engkau tiada murka kepadaku, tiadalah mengapa. Tetapi maaf-Mu lah yang sangat aku dambakan.

Aku berlindung di bawah cahaya-Mu yang menerangi semua kegelapan, dan dengan cahaya itulah urusan dunia dan akhirat akan menjadi baik, janganlah kiranya Engkau turunkan murka-Mu kepadaku. Demi Engkaulah aku rela dihinakan, asal Engkau masih rida padaku. Tiada daya upaya, dan tiada kekuatan, kecuali dari-Mu.

Doa ini sangat mengetarkan hati siapa pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan doa ini menggetarkan Arsy, hingga Allah memberikan dua hal secara kontan.

Melunakkan hati Utbah dan Syaibah, yang membuat mereka mengutus pembantunya untuk memberikan anggur kepada Nabi Muhammad, kisah ini diabadikan oleh Ibnu Hisyam dalam kitab Sirahnya.

Lalu mereka (Utbah dan Syaibah) memanggil Addas, seorang hamba beragama Nasrani yang mengabdi pada mereka.

“Ambillah setandan anggur ini dan bawakan untuk orang tersebut!” Kata keduanya.

Anggur itu diberikan kepada Rasulullah yang kemudian mengulurkan tangannya untuk menerima pemberian tersebut.

“Bismillah,” ucap Nabi Muhammad sesaat seusai menerima anggur itu dan lalu memakannya.

Addas terperanjat. Ia tidak pernah mendengar perkataan itu sebelumnya.

“Sesungguhnya ucapan ini tidak biasa diucapkan oleh penduduk negeri ini,” ucap Addas.

“Kamu berasal dari negeri mana? Dan apa agamamu?” Tanya Nabi.

“Aku seorang Nasrani dan penduduk Nina-wy (Nineveh/Persia),” jawab Addas.

“Itu negeri seorang saleh bernama Yunus bin Matta,” kata Rasulullah.

Addas semakin penasaran. “Apa yang kamu ketahui tentang Yunus bin Matta?” Tanyanya.

“Dia adalah saudaraku, seorang nabi, demikian pula dengan diriku.” Jawab Nabi.

Addas terkejut mendengar jawaban itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung merengkuh kepala Rasulullah. Ia juga mencium kedua tangan dan kedua kaki Nabi. Sementara, kedua putra Rabi’ah menyaksikan adegan itu dengan penuh keheranan. Ketika Addas datang, keduanya berujar:

“Celakalah dirimu! Apa yang terjadi denganmu?”

“Wahai tuanku! Tiada sesuatu pun di bumi ini yang lebih baik daripada orang ini! Dia telah memberitahukan kepadaku hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi,” jawab Addas.

“Celakalah dirimu, wahai Addas! Jangan biarkan dia memalingkanmu dari agamamu! Sebab agamamu lebih baik daripada agamanya,” kata mereka berdua.

So, kesedihan Nabi di Thaif terobati dengan masuk Islamnya Addas. Yang konon ada masjid di Thaif dengan nama Masjid Addas.

Setelah keluar dari kebun anggur Utbah dan Syaibah, dan saat Nabi berada di Qarnuts Tsa’âlib atau Qarnul Manazil. Allah mengutus Malaikat Jibril bersama malaikat penjaga gunung (Malaikatul Jabal) yang siap melaksanakan perintah Nabi atas perlakuan buruk penduduk Thaif.

Namun tawaran ini diabaikan Rasulullah. Ia tidak berkeinginan melampiaskan amarah atas penolakan penduduk Thaif. Justru sebaliknya, mengharapkan agar dari penduduk Thaif ini terlahir generasi bertauhid yang akan menyebarkan Islam.

  1. Mengamalkan ajaran Nabi dari yang minimalis sampai yang maksimalis. Minimal sunnah dalam menghormati perbedaan yang tidak prinsip.

  1. Banyak bersalawat kepada Nabi

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, dari ayahnya, berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلاَةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلاَتِيْ؟ فَقَالَ: مَا شِئْتَ، قُلْتُ: الرُّبُعَ، قَالَ: مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ، قُلْتُ: النِّصْفَ؟ قَالَ: مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ، قُلْتُ: فَالثُّلُثَيْنِ، قَالَ: مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ، قُلْتُ: أَجْعَلْ لَكَ صَلاَتِيْ كُلَّهَا. قَالَ: إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ.

Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, aku hendak memperbanyak salawat kepadamu, berapa banyakkah aku harus bersalawat kepadamu?’ Rasulullah menjawab: ‘Berapa saja sekehendakmu.’ Aku katakan: ‘Seperempat?’ Maka Rasulullah menjawab: ‘Terserah engkau, dan jika engkau menambahnya, maka itu adalah suatu kebaikan bagimu.’ Aku katakan: ‘Setengah?’ Rasulullah menjawab: ‘Terserah engkau, dan jika engkau menambahnya, maka itu adalah sebuah kebaikan bagimu.’ Aku katakan: ‘Dua pertiga?’ Rasulullah menjawab: ‘Terserah engkau, dan jika engkau menambahnya, maka itu adalah sebuah kebaikan bagimu.’ Aku katakan: ‘Aku akan menjadikan salawat kepadamu seluruhnya.’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Jika demikian, maka semua keinginanmu terpenuhi, dan dosamu akan diampuni.’”

  1. Mempelajari Sejarah Hidup Nabi

Apa harus tepat ketika maulid Nabi?

Tidak harus, namun biasanya kalau terkait dengan momen itu lebih semangat. Seperti momen Ramadan, atau momen hari pahlawan mengekpresikan seperti pahlawan dan sebagainya.

Terkadang momen tertentu membuat meningkatnya semangat inspirasi dalam jiwa manusia.

Momen maulid Nabi Muhammad menjadi momen yang bisa menguatkan nilai-nilai pribadi Nabi untuk hidup dalam jiwa ini.

Wallahu A’lam

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment