Jejak Giri di Samudra; Ternate, Banten, dan Islam Maritim

Suaramuslim.net – “Jika daratan telah mengajarkan kita menanam iman, maka samudra adalah tempat menyebarkannya.” [Catatan pelaut dari santri Giri].

Air asin yang menepuk pelabuhan Gresik tidak hanya membawa ikan dan garam. Ia juga membawa kapal. Dan dari kapal, lahirlah peradaban yang bergerak. Giri Kedaton mungkin berada di bukit, tapi jangkauan pengaruhnya menjalar ke selat, teluk, dan lautan.

Ternate: Daulat Islam di pucuk rempah

Di utara jauh, di bawah bayang-bayang Gunung Gamalama, Kerajaan Ternate bangkit sebagai kekuatan maritim Islam. Tapi kebangkitannya bukan semata karena senjata atau rempah. Ia bangkit karena pencerahan.

Sultan Zainal Abidin, raja muda dari Ternate, pernah menempuh perjalanan panjang ke tanah Jawa, dan singgah di Giri. Ia bukan datang sebagai penguasa, tapi sebagai murid. Ia belajar agama, pemerintahan, juga tentang bagaimana menyatukan rakyat yang terdiri dari pulau-pulau terpisah.

Sepulangnya dari Giri, ia tidak hanya membawa ilmu fikih dan tauhid, tapi juga membawa visi: menjadikan Islam sebagai fondasi kerajaan. Dan dari situlah, Islam tidak hanya berdiri di masjid, tapi juga di atas dek perahu dan dalam pelabuhan rempah-rempah.

Banten: Warisan dari Giri untuk Barat Jawa

Banten bukan hanya kota pelabuhan. Ia adalah pertemuan antara perdagangan dan dakwah. Sunan Gunung Jati, yang juga murid dalam lingkaran wali Giri, menjadi jembatan antara Cirebon, Giri, dan kekuatan Islam di barat Nusantara.

Bersama keturunannya, ia menyatukan kekuatan maritim, memperkuat ekonomi Islam, dan menyebarkan ajaran melalui jalur niaga. Setiap kapal dagang membawa lebih dari barang: ia membawa kitab, syair, gending, dan kisah tentang Giri.

Samudra sebagai madrasah

Santri Giri bukan hanya menetap di langgar. Banyak di antara mereka yang menjadi pelaut, pedagang, bahkan duta. Mereka menulis ayat-ayat di layar kapal, mengajarkan wudhu di atas geladak, dan membangun langgar di pelabuhan-pelabuhan.

Di Maluku, mereka tidak hanya berdagang cengkeh, tapi juga menanam masjid.

Di Sulawesi, mereka tidak hanya menukar kain dengan emas, tapi juga menyampaikan kisah Nabi dan ajaran syariah.

Dakwah Giri menjelma seperti angin laut; tidak terlihat, tapi menggerakkan layar zaman.

Peradaban Maritim Islam: Bukan penakluk, tapi penanam

Sunan Giri dan para wali lainnya tak pernah memimpikan kekaisaran laut seperti bangsa Eropa. Mereka tidak menanam bendera kekuasaan, tapi akar nilai.

Karena Islam di Nusantara bukan lahir dari kolonialisme, tapi dari pelayaran.

Bukan dari penaklukan, tapi dari pertukaran.

Bukan dari pemaksaan, tapi dari persahabatan.

Dan itu dimulai dari sebuah bukit sunyi di Gresik, yang para penulis sejarah asing bahkan sering lupa mencatat namanya: Giri Kedaton.

Dari Giri, dakwah menjalar ke pulau-pulau, menyeberangi selat, dan bertemu angin barat yang membawa kapal bangsa-bangsa. Tapi sebelum bangsa Portugis dan Belanda tiba dengan meriam dan salib, Islam telah lebih dulu menyeberang dengan layar dan salam.

Jejaknya tak selalu terlihat di batu prasasti, tapi hidup dalam adat, bahasa, dan hati rakyat di pesisir. Dan setiap kapal yang kembali ke Gresik, selalu membawa kabar: bahwa cahaya itu telah sampai di tempat baru.

Artikel ini tulisan berseri Sunan Giri: Pewaris Langit, Penjaga Tanah (Bab 10)
Karya Agus M. Maksum

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.