Manusia yang Dikagumi Setan

Manusia yang Dikagumi Setan

10 Karakteristik yang Perlu Dimiliki Peruqyah
Ilustrasi gangguan jin/setan pada manusia (Ils: Glenn Thomas/Dribbble)

Suaramuslim.net – Saudaraku yang berbahagia, Allah berfirman dalam surah Al A’raf ayat 175-177 sebagai berikut.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176) سَاءَ مَثَلا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ (177)

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu meng­halaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.

Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.

Yang bisa kita pahami dari ayat di atas kalau merujuk kepada riwayat yang dinukil oleh Ibnu Katsir, bahwa yang dimaksud dengan kisah ‘seorang’ itu adalah adalah seorang lelaki dari kalangan Bani Israil, dikenal dengan nama panggilan Bal’am ibnu Ba’ura.

Malik ibnu Dinar mengatakan bahwa orang itu adalah salah seorang ulama Bani Israil, terkenal sebagai orang yang mustajab doanya. Namun ia telah melacurkan dirinya demi harta, jabatan dan wanita.

Ciri ciri Bal’am bin Ba’ura di antaranya adalah:

1. Awalnya ia Ahli kitab yang dekat dengan Allah dan dekat dengan Nabi-Nya, yaitu Musa.

2. Karenanya doanya mustajab.

3. Namun hatinya mudah teperdaya kehidupan duniawi. Sehingga akhirnya melepaskan diri dari hukum Allah dan Nabi-Nya.

4. Dan berikutnya ia seperti anjing yang hina.

5. Suka menjilat penguasa untuk kepentingan sesaat.

Dan perhatikan ayat di atas ada kalimat فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ.. ‘lalu dia diikuti oleh setan, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.’

Di ayat itu Bal’am atau manusia diikuti setan, padahal biasanya manusia yang mengikuti setan. Banyak ayat yang menunjukkan manusia mengikuti setan seperti:

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (168) إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (169)

Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al-Baqarah: 168-169).

Dan ayat lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (An-Nur: 21).

Maka, dari ayat-ayat tersebut ternyata manusia itu mengikuti setan. Dan jika manusia ikut setan, karena manusia senang dengan omongan dan perilaku setan yang nampak indah dan menakjubkan.

Tapi ayat dalam surat Al a’raf di awal tadi justru sebaliknya setan yang mengikuti manusia!

Artinya, setan begitu takjub dan kagum dengan omongan dan kelakuan manusia sampai diikuti setan. Ini sungguh luar biasa, sampai setan pun bisa ngefans kepada manusia.

So… Kalau ada manusia yang memiliki sifat;

1. Alim, pintar agama yang mengerti halal haram namun hidupnya tidak terikat dengan syariat.

2. Mengikuti nafsunya seperti binatang yang hina. Baigamana tidak hina pada seseorang yang ilmunya begitu dalam namun perilakunya seperti anjing yang selalu menjulurkan lidah, seolah tidak peduli dengan harga dirinya.

3. Penjilat seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya.

Maka sifat-sifat inilah yang membuat setan ngefans kepada seseorang. Karena ia telah berbuat dosa besar yang seyogyanya tidak pantas dilakukan oleh seserang yang mengerti ilmu agama.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (As-Shaff: 2-3).

So… supaya setan tidak ngefans kepada kita, maka lakukan hal-hal ini:

1. Jangan sombong dengan ilmu yang dimiliki, jangan merasa yang paling benar karena itu akan membuat hati kotor karena ada sifat sombong. Jangan merasa doanya paling manjur karena merasa paling saleh di antara manusia lainnya.

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (An Najm: 32).

Nabi bersabda:

لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik di antara kalian. (HR. Muslim).

Dan dengan kotornya hati karena sombong membuat ilmunya tidak manfaat bagi kehidupannya.

2. Teruslah mengaji dengan memiliki guru yang bersifat murabbi yang selalu membimbing dan mendoakan kita siang malam. Sepintar apa pun seseorang tetaplah tanamkan pada dirinya bahwa ia hanyalah seorang santri yang membutuhkan bimbingan seorang murabbi (Maa Ziltu Thaliban).

3. Dan teruslah untuk meningkatkan diri dalam ibadah kepada Allah. Karena kedekatan seseorang dengan Allah semestinya membuat setan menjauhinya.

Wallahu A’lam.

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment