Suaramuslim.net – Ramadan selalu bergerak menuju satu titik puncak yang paling dinanti: sepuluh malam terakhir. Pada fase inilah suasana ibadah berubah menjadi lebih hening, lebih dalam, dan lebih personal.
Umat Islam tidak lagi sekadar menjalani puasa sebagai rutinitas tahunan, melainkan mulai menapaki wilayah ruhani yang paling inti, yakni pencarian terhadap Lailatul Qadar. Dalam tradisi Islam, malam ini bukan hanya malam yang mulia, tetapi juga malam yang menguji kesungguhan seorang hamba dalam mendekat kepada Allah Swt.
Kemuliaan malam itu ditegaskan secara langsung dalam Al-Qur’an. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar” (Terjemah Q.S. Al-Qadr: 1–5).
Ayat ini menempatkan Lailatul Qadar sebagai momentum yang tidak biasa. Nilai satu malam ini melampaui umur panjang manusia yang diisi amal biasa-biasa saja. Karena itu, Lailatul Qadar sesungguhnya mengajarkan satu hal penting: dalam hidup, ada saat-saat tertentu yang nilainya jauh lebih besar daripada hitungan waktu itu sendiri.
Menenangkan diri dari kebisingan zaman
Namun, di sinilah tantangan umat Islam hari ini. Banyak orang memahami keutamaan Lailatul Qadar, tetapi tidak semua mampu menyiapkan dirinya untuk menyambutnya. Di tengah dunia yang semakin padat oleh informasi, manusia modern justru semakin sulit menemukan keheningan. Gawai hampir tidak pernah lepas dari tangan. Notifikasi datang silih berganti. Percakapan digital terus berlanjut, bahkan pada saat seharusnya hati sedang menepi.
Kita hidup di tengah kebisingan yang tidak selalu berbentuk suara, tetapi hadir sebagai keramaian pikiran, kecemasan, kelelahan, dan distraksi yang tanpa henti. Dalam situasi seperti itu, mencari Lailatul Qadar tidak cukup hanya dengan mengetahui malam ganjil. Yang lebih penting adalah kemampuan menenangkan diri dari kebisingan zaman.
Rasulullah saw. telah memberi arah yang sangat jelas. Beliau bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan” (Terjemah H.R. al-Bukhari).
Hadis ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar tidak diberikan kepada orang yang sekadar penasaran, melainkan kepada mereka yang mencari dengan sungguh-sungguh. Kata “carilah” di sini mengandung makna ikhtiar, kesabaran, dan ketekunan. Artinya, Lailatul Qadar bukan malam yang ditunggu secara pasif, tetapi dijemput dengan ibadah yang serius.
Karena itu, kecenderungan sebagian masyarakat yang terlalu sibuk membahas tanda-tanda Lailatul Qadar perlu ditempatkan secara proporsional. Memang ada riwayat-riwayat yang menyebut sejumlah ciri, tetapi inti ajaran Islam bukanlah mengubah Lailatul Qadar menjadi bahan spekulasi.
Islam tidak mengajarkan umat untuk lebih sibuk menebak daripada beribadah. Jika perhatian umat habis untuk memperdebatkan kapan persisnya malam itu datang, sementara salat malam, tilawah, zikir, dan munajat justru berkurang, maka orientasi ruhani Ramadan telah bergeser. Lailatul Qadar bukan peristiwa sensasional yang memuaskan rasa ingin tahu, melainkan rahmat ilahiah yang didekati dengan kerendahan hati.
Kerahasiaan waktu Lailatul Qadar sendiri mengandung hikmah yang sangat mendalam. Allah Swt tidak membuka kepastian malam itu agar manusia belajar istiqamah. Seandainya malam itu ditentukan secara pasti, boleh jadi sebagian orang hanya akan beribadah pada satu malam tersebut, lalu meremehkan malam-malam lainnya. Dengan merahasiakannya, Allah Swt mendidik hamba-Nya agar tekun menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir.
Dalam pendidikan ruhani Islam, konsistensi lebih utama daripada ledakan semangat sesaat. Di sinilah Lailatul Qadar menjadi pelajaran tentang kedewasaan iman: orang yang sungguh mencari tidak akan menawar kesungguhannya hanya karena belum mengetahui kepastian hasilnya.
Teladan Nabi di 10 malam terakhir Ramadan
Teladan Nabi saw. dalam menghadapi sepuluh malam terakhir Ramadan juga sangat kuat. Dalam riwayat Aisyah ra. disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir, Rasulullah saw. menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya (Terjemah H.R. al-Bukhari dan Muslim).
Riwayat ini menegaskan bahwa penghujung Ramadan adalah masa peningkatan ibadah, bukan masa kelelahan spiritual. Nabi tidak mengendur pada akhir Ramadan, justru semakin bersungguh-sungguh. Dari sini, umat Islam seharusnya belajar bahwa sepuluh malam terakhir bukan waktu untuk sibuk pada hal-hal pinggiran, melainkan masa untuk memusatkan kembali hati kepada Allah Swt.
Dalam konteks kekinian, teladan ini perlu diterjemahkan dalam langkah yang konkret. Mengurangi keterikatan pada telepon genggam, membatasi aktivitas yang tidak mendesak, memperbanyak hadir di masjid, memperpanjang waktu doa, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, dan melatih diri untuk berdiam dalam keheningan adalah bentuk ikhtiar yang relevan.
Kebisingan zaman tidak mungkin dihapus sepenuhnya, tetapi dapat dikendalikan agar tidak menguasai batin. Mencari Lailatul Qadar pada akhirnya adalah ikhtiar menertibkan hati di tengah dunia yang terus menarik perhatian ke luar diri.
Dalam hal ini, doa yang diajarkan Rasulullah saw. kepada Aisyah ra. sangat penting untuk direnungkan. Ketika Aisyah bertanya apa yang sebaiknya dibaca apabila menjumpai Lailatul Qadar, Nabi menjawab, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul-‘afwa fa‘fu ‘anni”—“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai maaf, maka maafkanlah aku” (Terjemah H.R. al-Tirmidzi).
Doa ini singkat, tetapi sangat dalam. Ia menunjukkan bahwa inti pencarian Lailatul Qadar bukanlah pengalaman yang menggetarkan secara lahiriah, melainkan kerinduan terdalam seorang hamba untuk memperoleh ampunan Allah Swt. Pada puncak Ramadan, manusia diingatkan bahwa yang paling ia perlukan bukan sekadar pencapaian dunia, melainkan hati yang dibersihkan dan dosa yang diampuni.
Akhirnya, mencari Lailatul Qadar di tengah kebisingan zaman berarti mengembalikan Ramadan kepada makna terdalamnya: ruang untuk menjernihkan jiwa, memperkuat hubungan dengan Allah Swt, dan memulihkan orientasi hidup yang sering kabur oleh hiruk-pikuk dunia.
Lailatul Qadar tidak akan dekat kepada hati yang lalai, riuh, dan penuh kesombongan. Ia lebih dekat kepada jiwa yang tenang, tekun, dan jujur dalam penghambaan. Karena itu, Lailatul Qadar bukan milik mereka yang paling ramai membicarakannya, melainkan milik mereka yang paling sungguh menjemputnya.
R. Arif Mulyohadi
Akademisi, Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan, dan Anggota Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) Orwil Jatim

