Mengalami Gegar Budaya Saat Ramadhan Pertama Di Jerman
Namanya M. Nur Ar Royan Mas, panggilannya Royan. Pelajar di Sprachschule asal Indonesia ini menikmati momen bulan Ramadhan pertamanya di Jerman. Banyak sekali perbedaan, pengalaman, dan kisah menarik selama tahun pertamanya seperti yang ia bagikan kepada Suaramuslim.net.
Royan menceritakan, awalnya dia bisa sampai di Jerman karena tawaran seorang agen, setelah beberapa bulan tes kemudian daftar, dinyatakan lolos dan bisa melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Tidak mudah bagi Royan harus berpisah dari keluarga, apalagi Indonesia. Pertama kali disana, dia mengalami cultural shock (gegar budaya) karena perbedaan kebudayaan antara Jerman dan Indonesia.
Beruntung ada orang-orang dari Tunisia, Arab, Turki dan imigran lainnya yang menetap dan menjadi teman seharinya, membuat Royan bisa belajar tentang perbedaan.
Royan tinggal bersama tiga teman dari Indonesia dalam satu flat (rumah).
Menurutnya, di Indonesia, dalam keseharian mungkin masih banyak yang menggunakan motor dan mobil pribadi, jarang menggunakan transportasi umum. Berbeda dengan Heidelberg,kesehariannya menggunakan transportasi umum. Ke kantor, ke sekolah, atau ke masjid. Transportasi umumlah yang menjadi andalan.
“Jadi sangat jarang terjadi kemacetan, karena semua terpusat pada milik bersama”, ucapnya.
Ramadhan pertama bagi Royan di negeri Jerman terjadi saat musim dingin, membuat dia harus menyesuaikan diri. Sempat di awal puasa sakit karena kedinginan, namun lama-lama menyesuaikan.
“Enaknya bila musim dingin, tidak merasa kehausan”, paparnya.
Kesibukan menjadi pelajar tidak menjadikan Royan meninggalkan puasanya. Dalam kesehariannya, aktivitas pagi sampai siang mengikuti les bahasa, sore hari membeli masakan untuk keperluan berbuka. Jika tidak memasak, ia biasa pergi ke masjid untuk buka puasa bareng komunitas muslim disana.
Jerman memiliki sekitar 3,7 juta penduduk muslim yang kebanyakan imigran dari Timur Tengah, namun semua penduduk muslim ini rukun dan saling bersinergi. Menurut Royan, pandangan umat lainnya dengan kehadiran umat muslim di Jerman cukup baik.
“Mereka sangat welcome dengan umat muslim, meskipun pada bulan puasa suasana yang tercipta tidak seperti Indonesia yang menyambut dengan semarak”, ujarnya.
Royan melanjutkan, jika di Indonesia, semarak ini dibuktikan dengan acara-acara kampung Ramadhan, masjid ramai dengan berbagi buka puasa dan sahur, tadarus bareng, namun di Heidelberg ini belum ada. Hanya biasanya masjidnya ramai dengan kegiatan komunitas.
Waktu Magrib di Heidelberg mulai jam 9 malam dan Isya jam 12 malam. Umat muslim biasanya shalat di rumah, karena sudah larut malam dan transportasi umum jam 9 malam sudah jarang. Untuk menghemat waktu mereka menggelar jamaah-jamaah sendiri di rumah.
Ada dua masjid yang paling banyak dikunjungi, masjid yang memakai bahasa Arab dan masjid yang biasanya memakai bahasa Turki, namun keduanya bersinergi.
“Mungkin perbedaannya masjid Turki lebih besar, jadi untuk shalat tidak sampai menggelar sajadah di luar”, kata Royan.
Royan berharap, di tengah kondisi sebagai minoritas, umat muslim tidak menurunkan keikhlasan untuk beribadah, karena niat akan menentukan segalanya.
Reporter: Teguh Imami
Editor: Muhammad Nashir