Menuju Gaya Hidup Sederhana

Menuju Gaya Hidup Sederhana

Bersyukur Benar, Hidup pun Tenang
Ilustrasi laki-laki menengadahkan tangan.

Suaramuslim.net – Sebagai makhluk hidup, manusia mempunyai beberapa kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. Kebutuhan-kebutuhan dasar ini merupakan hal penting yang harus terpenuhi. Jika tidak, maka setiap orang akan kesulitan bertahan. Beberapa kebutuhan dasar tersebut adalah makan, minum, istirahat, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan.

Namun, ada beberapa orang yang salah kaprah dalam memaknai kebutuhan hidupnya. Kesalahan ini dikarenakan ketidak mampuan orang tersebut dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Contohnya seseorang yang memaksakan diri untuk memiliki mobil mewah agar bisa mengantarnya ke kantor. Padahal, mobil sederhana yang lebih murah pun bisa digunakannya ke kantor. Usaha untuk memiliki mobil mewah tersebut sebenarnya bukanlah kebutuhannya, melainkan sebatas keinginannya saja.

Untuk membedakan mana kebutuhan dan keinginan, konsepnya dimulai dari diri kita masing-masing dengan membiasakan diri hidup sederhana. Kita masih ingat, Agus Rahardjo, Ketua KPK menyatakan bahwa salah satu penyebab seseorang melakukan korupsi adalah sifat tamak. Oleh karena itu, kita perlu membiasakan hidup sederhana dan memperbanyak bersyukur. Kita dapat meneladani bagaimana gaya hidup sederhana Rasulullah saw.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, “Aku masuk kepada Rasulullah, saat itu beliau sedang tidur di atas tempat tidurnya. Bagian depannya dianyam dengan pelepah, di bawah kepala beliau adalah bantal dari kulit yang berisi serabut. Lalu beberapa orang sahabat masuk kepada beliau, Umar juga masuk. Maka Rasulullah membalikkan tubuhnya sehingga Umar melihat pinggang beliau tersingkap. Tempat tidur dari anyaman pelepah itu meninggalkan bekas di pinggang Rasulullah, maka Umar pun menangis.

Nabi pun terbangun dan bertanya kepada Umar, “Apa yang membuatmu menangis wahai Umar?”

Umar menjawab, “Demi Allah, sungguh aku mengetahui bahwa engkau lebih mulia di sisi Allah daripada Kaisar Persia dan Romawi, sementara dua orang itu bermain-main dengan dunia seperti yang telah mereka berdua lakukan. Sedangkan engkau ya Rasulullah, keadaanmu seperti yang aku lihat ini.”

Maka Nabi bersabda: “Apakah kamu tidak rela, jika mereka mendapatkan dunia dan kita mendapatkan Akhirat?”

Beliau, Rasulullah melanjutkan lagi, “Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang bepergian di bawah terik panas. Dia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya.”

Umar menjawab, “Ya.” Rasulullah bersabda, “Demikianlah perkaranya.”

(Diriwayatkan oleh Ahmad, No. 12009 dan Ibnu Hibban dalam shahihnya No. 6362. Syu’aib Al-Arna’uth berkata, “Shahih li Ghairihi.” Asalnya dalam Ash-shahihain, diriwayatkan oleh al-Bukhari, No. 4913 dan Muslim No. 1479).

Oleh karena itu, hendaknya kita dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Terkadang, seseorang mengeluh karena kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi. Padahal, bukan kebutuhan hidupnya yang tak tepenuhi, melainkan keinginan gaya hidup hedon (boros; gaya hidup mewah).

Agar dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan, kita dapat meneladani kisah Mohammad Hatta (Wakil Presiden RI Pertama) dan sepatu Bally. Kisah ini disampaikan oleh sekretaris pribadi Bung Hatta, Iding Wangsa Widjaja.

Suatu hari Bung Hatta berjalan-jalan di pertokoan di luar negeri. Dia sangat ingin memiliki sepatu Bally yang terpampang di etalase. Begitu inginnya, guntingan iklan sepatu Bally itu dia simpan di dompetnya. Dia berharap suatu waktu bisa membelinya. Namun, hingga meninggal Bung Hatta belum bisa membeli sepatu Bally itu. Dan, guntingan iklan masih tersimpan di dompetnya.

Melalui kisah ini, Bung Hatta mengajarkan kepada kita untuk tidak memaksakan keinginan. Sebab, bisa saja beliau menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan sepatu tersebut. Akan tetapi Bung Hatta tidak melakukan hal tersebut.

Untuk itu yang harus kita tanamkan sedari awal adalah kesadaran dan pembiasaan hidup apa adanya (sederhana). Serta selalu bersyukur atas anugerah yang diberikan Allah. Gaya hidup sederhana dan syukur atas nikmat merupakan resep mujarab untuk menjalani kehidupan. Kalau hal itu dapat kita laksanakan, maka ketenangan, kebahagiaan akan dapat kita raih.

Jadi kata kuncinya adalah sederhana, ukur kemampuan sendiri seraya terus meningkatkan rasa syukur kepada Allah.

Semoga kisah-kisah di atas dapat menginspirasi untuk meraih sukses dengan tetap qana’ah dan berserah diri kepada Allah. Semoga kita selalu dalam bimbingan dan petunjuk-Nya, untuk mengarungi kehidupan yang penuh dinamika dan tantangan. Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita pasrahkan segala urusan. Aamiin.

Washil Bahalwan
Penulis adalah ketua Lazis Yamas Surabaya dan pemerhati pendidikan.

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment