jurnalisme islam

Suaramuslim.net – Dalam artikelnya Journalism’s First Obligation is To Tell The Truth di niemanreports.org, Bill Kovach mengatakan “Truth, it seems, is too complicated for us to pursue. Or perhaps it doesn’t exist, since we are all subjective individuals. There are interesting arguments, maybe, on some philosophical level, even valid.…”

Alih-alih, menurut Kovach kebenaran adalah sebuah proses dalam kerja jurnalistik. Pandangan yang menolak kebenaran mutlak amatlah khas Barat yang sekular. Teori-teori tentang jurnalisme sesungguhnya memang didominasi oleh pandangan dari Barat.

Padahal menurut Lawrence Pintak dari Washington State University, AS, jurnalisme di berbagai belahan dunia dibentuk oleh budaya, agama, politik etnisitas, tekanan ekonomi dan faktor lainnya.

Hal ini juga ditekankan oleh Wasserman dan De Beer dalam Towards De-Westernizing Journalism Studies, mencoba menawarkan de-westernisasi dalam studi jurnalisme. Menurut mereka, “As more comparative studies are being done (see Hanitzsch, 2007, for a summary), the dominant Anglo-American view of journalism is being challenged by studies showing up the gap between theory and practice (Josephi, 2005, p. 576)” (Wasserman, Herman dan Arnold S. de Beer: 2009)

Bagi umat Islam memiliki pandangan jurnalisme yang khas dari Islam bukanlah suatu harapan kosong. Beberapa tawaran tentang jurnalisme Islami, jika kita boleh menamakannya demikian, dilakukan diantaranya oleh Nurhaya Muchtar, Lawrence Pintak, Sayeed al Seini, Mohammad A Siddiqi dan mungkin banyak lainnya. Meski demikian, harus diakui bahwa jurnalisme Islami belum mendapat banyak perhatian (Muchtar, Nurhaya, dkk : 2017; Steele, Janet: 2014)

Baca Juga :  Syarikat Islam Politik

Meski demikian, belum banyak mendapat perhatian bukan berarti Islam tidak bisa membentuk satu pandangan yang khas dalam jurnalisme. Nurhaya Muchtar dan kawan-kawan (2017) bahkan menyebutkan perspektif Islam dalam jurnalisme berasal dari worldview Islam.

Tentu saja ajaran dalam Islam tidak mengenal istilah jurnalisme. Namun dalam Al Qur’an disebutkan beragam kata yang berakar dari kata “naba” yang disebutkan sebanyak 138 kali. (Muchtar, Nurhaya, dkk : 2017). Naba yang berarti kabar (berita) menjadi salah satu hal penting dalam ajaran Islam. Ibnu Taimiyyah membagi kabar menjadi kabar baik yang benar maupun yang keliru atau bohong.

Kabar baik (khabar shadiq) dalam Islam menurut al-Attas haruslah didasari sifat-sifat saintifik atau agama yang diriwayatkan oleh otoritas agama yang otentik. (Salim, Mohammad Syam’un: 2014).

Dilihat dari otoritasnya, khabar Shadiq menurut Mohammad Syam’un Salim, terbagi menjadi dua. Pertama otoritas mutlak yaitu Al Qur’an dan Hadis. Artinya Al-Qur’an dan hadis menjadi sumber kebenaran tertinggi. Kedua otoritas nisbi yang terdiri dari kesepakatan alim ulama (tawatur) dan orang yang terpercaya secara umum. (Salim, Mohammad Syam’un: 2014).

Baca Juga :  Yakin Sudah Sayang Anak? Yuk Lihat Tuntunannya

Baik Al Qur’an maupun Hadis memberikan petunjuk untuk memperoleh dan menyaring berita dari ketidakjujuran, ketidakakuratan dan perbuatan jahat. (Muchtar, Nurhaya, dkk : 2017)

Mohammad A. Siddiqi dari Western Illinois University menyebutkan bahwa Al Qur’an dan Sunnah membentuk bingkai tersendiri tentang definisi berita. Al Qur’an dan Sunnah juga menentukan proses pengumpulan, pembuatan dan penyebaran berita dalam bingkai Islam. Hal ini menjadi kode etik bagi jurnalis Muslim. Namun yang menjadi pondasi utama adalah konsep tauhid.

Tawhid also implies unity, coherence, and harmony between all parts of the universe. Not only this, but the concept of Tawhid signifies the existence of a purpose in the creation and liberation of all human kind from bondage and servitude to multiple varieties of gods. The concept of the hereafter becomes a driving force in committing to one God, and the inspiration as well definitive guidelines are provided by the traditions and the life of the Prophet (PBUH).

A journalist who uses his/her faculty of observation, reason consciousness, reflection, insight, understanding and wisdom must realize that these are the amanah (trust) of God and must not be used to injure a human soul for the sake of self-promotion or for selling the news, rather, as Dilnawaz Siddiqui has noted these are to be used in arriving at truth. A journalist must not ignore God’s purpose in creating this universe and various forms of life.” (Siddiqi, Mohammad A: 1999).

Baca Juga :  Waspada Bahaya Orang Munafik

Lanjutan Artikel “Menyelami Jurnalisme Islami Bagian 2”

Penulis: Beggy Rizkiyansyah
Editor: Muhammad Nashir

*Anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU)
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Di tengah arus media mainstream yang tidak berpihak kepada umat Islam. Dan di tengah pesimisme publik terhadap media Islam, akibat banyaknya portal dengan label keislaman yang cenderung menyebarkan berita provokatif atau bahkan cenderung hoaks. Bantu Kami menghadirkan media Islam yang kredibel dan berkualitas dengan berdonasi melalui Berzakat.id.

Donasi Sekarang

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.