Mosi Integral Natsir: Peluru akal sehat yang menembus sekat penjajahan

Iman Sebagai Dasar Persatuan

Suaramuslim.net – Dari kursi kayu tua yang telah melonggar paku-pakunya, seorang lelaki kurus berkacamata duduk tenang. Tangan kirinya menahan tumpukan kertas, tangan kanannya menggenggam pena. Namanya Mohammad Natsir. Ia bukan jenderal. Ia bukan komandan pasukan bersenjata. Tapi hari itu, 3 April 1950, dari podium Parlemen Republik Indonesia Serikat, ia menarik pelatuk akal sehat. Sebuah mosi; yang kelak dicatat sejarah sebagai peluru paling tajam yang pernah ditembakkan tanpa darah.

Negeri ini baru saja keluar dari lubang gelap penjajahan, tapi belum selesai pula dijahit dalam satu tubuh. Di atas meja perundingan Konferensi Meja Bundar, tanah air dipecah-pecah seperti kue basi yang diperebutkan oleh tangan lapar kekuasaan: Negara Dayak Besar, Negara Indonesia Timur, Negara Madura, Negara Sumatera Timur, dan belasan lagi; semua diciptakan Belanda agar Indonesia lupa bahwa ia sudah bersumpah menjadi satu.

Tapi Natsir ingat

Ia ingat suara Soekarno menggelegar di Pegangsaan Timur 56, pagi-pagi, 17 Agustus 1945. Ia ingat darah para pemuda yang tertinggal di jalan-jalan revolusi. Ia ingat, bahwa kemerdekaan bukan hasil derma Belanda, tapi hak yang direbut oleh sejarah, oleh rakyat yang menggenggam bambu runcing dan cita-cita.

“Mengapa kita harus terus berpura-pura merdeka di bawah mahkota Ratu Belanda?” gumamnya lirih, namun cukup tajam menembus jantung logika.

Maka ia ajukan mosi itu; dengan sejuk, dengan dalil, dengan suara rendah, tetapi isinya seperti gemuruh gunung yang runtuh perlahan. Ia bukan sekadar bicara, ia menembakkan akal.

Tanpa darah, tanpa dendam, tapi mengguncang sejarah

Tak ada tank. Tak ada senapan. Tapi negara-negara bagian itu, yang dicipta penjajah, satu demi satu membubarkan diri, berjalan sendiri menuju pangkuan ibu pertiwi. Tak ada perang. Tapi kemenangan diraih. Karena Natsir tahu, yang dibutuhkan bukan peluru, melainkan pengakuan, bahwa kita ini satu, telah lama satu, dan akan tetap satu: Indonesia.

Sejarah mencatatnya bukan di bawah suara bedil, tapi di bawah suara mufakat.

Sukarno, dengan suara lantang, mengukuhkannya di depan bangsa pada 17 Agustus 1950: Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan. Ketika wartawan bertanya siapa yang pantas menjadi Perdana Menteri negara yang telah dipersatukan itu, jawabnya tegas: “Siapa lagi kalau bukan Natsir?”

Peluru itu kini menjadi warisan. Ia tak meninggalkan luka, tapi meninggalkan jejak yang tak bisa dihapus: bahwa akal sehat, bila ditopang niat yang lurus, bisa lebih tajam dari belati, lebih kuat dari meriam, dan lebih abadi dari penjajahan.

Sebuah bangsa tak hanya lahir dari pemberontakan. Ia juga lahir dari keberanian berpikir lurus di tengah gemuruh tipu muslihat dunia. Pada 3 April 1950, bangsa ini sekali lagi dilahirkan, oleh seorang guru, orator sunyi, bernama Natsir.

Catatan Agus M Maksum
Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Jatim

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.