Ombak dari Barat: Giri menghadapi bangsa Eropa

Suaramuslim.net – “Yang datang dari laut, bukan sekadar kapal. Tapi juga niat untuk menaklukkan tanah, jiwa, dan iman.” [Catatan dari Giri Kedaton].

Awan kelabu menggantung di ufuk utara. Dari menara Giri, kabut laut bisa terlihat mengangkut bahaya. Kapal-kapal besar dengan layar silang muncul di kejauhan, memecah ombak bukan hanya dengan kayu dan tali, tapi dengan semangat penjajahan yang mulai merambat ke Asia.

Bangsa Eropa telah datang. Dan Giri, yang selama ini menjadi menara spiritual, kini dituntut menjadi benteng pertahanan. Bukan dengan senjata, tapi dengan kesadaran. Bukan dengan dinding batu, tapi dengan jaringan keilmuan dan strategi peradaban.

Ketika Salib dan meriam menyapa Nusantara

Portugis, Belanda, dan Spanyol bukanlah tamu yang datang membawa damai. Mereka menyusup lewat pelabuhan, menawarkan dagang, lalu pelan-pelan menyusupkan pendeta, meriam, dan penjajahan.

Giri melihat lebih dalam: ini bukan soal lada, emas, atau rempah. Ini soal iman dan kendali atas jiwa manusia.

Sunan Giri, dengan ketajaman matanya, sudah mempersiapkan murid-muridnya bukan sekadar untuk berdakwah, tapi juga untuk berjaga. Dari Gresik, ia memperkuat jaringan dengan pesisir utara Jawa, hingga ke Kesultanan Malaka dan Ternate.

Giri sebagai poros perlawanan dan kesadaran

Giri bukan kerajaan. Tapi pengaruhnya lebih luas dari sekadar raja. Ia menjadi tempat para pemimpin Muslim meminta petunjuk, bukan hanya tentang hukum, tapi tentang langkah politik. Ia menyadari bahwa jika Islam ingin bertahan di Nusantara, maka ia harus hadir bukan hanya di mimbar masjid, tapi juga di meja strategi.

Dari Giri, dikirimlah utusan ke Demak, Jepara, Tuban, dan bahkan Ternate. Giri menyatukan suara: bahwa kekuatan Islam tidak boleh tercerai. Bahwa pertahanan bukan soal benteng dan prajurit saja, tapi kesadaran kolektif umat.

Menolak penjajahan dalam doa dan tindakan

Sunan Giri tidak membakar kapal Portugis. Ia tidak memerintahkan jihad berdarah-darah. Tapi dari balik pesantren, ia tanamkan satu kata yang menular cepat: bebas.

Bebas berpikir. Bebas memilih. Bebas dari tipu muslihat bangsa asing yang datang membawa kitab dan pedang sekaligus.

Ketika para pemuda dari berbagai pelosok datang menuntut ilmu di Giri Kedaton, mereka bukan hanya belajar fiqih dan tafsir. Mereka belajar makna kebebasan. Tentang marwah sebagai manusia merdeka. Tentang harga diri sebagai bangsa.

Warisan Giri: Jaringan kesadaran di pesisir Nusantara

Giri bukan sekadar tempat. Ia menjadi jaringan. Inilah yang ditakuti para penjajah. Bukan meriam. Tapi pesan yang tak bisa dibungkam. Giri menyebarkan api kesadaran yang pelan-pelan menghangatkan pesisir Nusantara.

Sultan Baabullah dari Ternate, Sunan Gunung Jati dari Cirebon, bahkan pemimpin-pemimpin kecil di ujung Kalimantan dan Sulawesi, semuanya mengenal Giri bukan sebagai tempat belajar, tapi sebagai tempat menyusun masa depan.

Ombak tak pernah mati

Bangsa asing datang dan pergi. Mereka membawa peta, emas, dan ilusi kekuasaan. Tapi Giri tetap berdiri. Ia bukan benteng, tapi tak pernah runtuh. Ia bukan pasukan, tapi selalu siap menghadapi penjajahan.

Dari balik gelap malam yang dibawa kapal-kapal asing, Giri Kedaton menyalakan obor yang menyinari Nusantara; bukan dengan api, tapi dengan ilmu, tauhid, dan keberanian.

Cerita bersambung… Nantikan lanjutan dongeng sejarah ini ke bagian selanjutnya.

Artikel ini tulisan berseri Sunan Giri: Pewaris Langit, Penjaga Tanah (Bab 11)
Karya Agus M. Maksum

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.