Pelajaran Meneror dari Akre

Suaramuslim.net – Kalah dalam mempertahankan Yerusalem dari tangan pasukan lawannya, Richard Si Hati Singa tak mau menanggung malu lebih dalam ketika kesempatan memenangi pertempuran di depan mata. Akre tinggal menanti jatuh lantaran lawannya, Saladin alias Shalahuddin al-Ayyubi, belum berhasil menundukkannya.

Melalui pertempuran dan blokade berbulan-bulan, hingga mencapai 1,5 tahun, kegagalanlah yang tertuai. Shalahuddin harus menerima kenyataan pahit: benteng Muslimin direbut pasukan Salib. Perjuangan mempertahankan wilayah Akre tidak bisa mengikuti kesuksesan saat merebut pertahanan Salibis di Tanah Suci al-Quds. Akhirnya, Juli 1191, Akre berhasil diambil alih pasukan Richard yang dibantu Philip Augustus dari Prancis.

Shalahuddin sejatinya tidak ingin Akre diserahkan begitu saja. Pantang baginya menyerahkan kota tersebut. Apa boleh buat, kuatnya blokade pasukan Salib membuatnya tidak berdaya untuk melakukan langkah pencegahan efektif.

Mengingat perlakuan baik dirinya, juga kaum Muslimin, saat penaklukan Yerusalem atau al-Quds, ditambah sikap menghargai kedudukan Richard, Shalahuddin masih berharap adanya sikap serupa pada penduduk Akre. Jangan sampai karena berbeda keyakinan dengan pasukan Salib, ataukah dukungan pada Muslimin, rakyat Akre yang tidak berdosa sama sekali mengalami tragedi. Shalahuddin bukan tidak paham perangai orang-orang Shalahuddin, dan tampaknya ia masih memberikan ruang menyangka baik.

Baca Juga :  Israel Resmikan 'Jalan Apartheid' di Yerusalem

Seperti dituliskan oleh Kelly DeVries, dkk (2007) dalam Battles of the Crusades 1097-1444: from Dorylaeum to Varna halaman 118, “Mungkin Saladin yakin bahwa pasukan Salib akan menghormati nyawa penduduk biasa, pion tak berdosa dalam peperangan ini, dan akan memperlakukan mereka dengan belas kasihan yang sama seperti yang telah ditunjukkannya kepada orang-orang yang tidak bisa memberikan tebusan setelah dia merebut Yerusalem pada tahun 1187.”

Tapi apa yang terjadi?

Richard tidak membiarkan mereka, rakyat Akre, pergi begitu saja dengan selamat sebagaimana Shalahuddin memperlakukan pasukan Salib pada kekalahan peperangan Salibis di Yerusalem. “Sebaliknya,” tulis Kelly DeVries “pada tanggal 20 Agustus, dia (Richard) memenggal mereka—pria, wanita, dan anak-anak—2.600 orang jumlahnya menurut perhitungannya.”

“Orang Inggris berusaha membenarkan tindakan ini dengan mengklaim bahwa raja Inggris hanya membalas ketidakmauan Saladin untuk mengembalikan potongan Salib asli. Selain itu, orang-orang ini tidak segera menyerah setelah dikepung, suatu pelanggaran hukum perang,” tulis DeVries. “Para penulis kronik lainnya tidak terpengaruh: Tindakan Richard sangat keji, suatu kejahatan perang yang biadab sekaligus pengecut.”

Baca Juga :  Belajar Bercita-Cita Tinggi Laksana Shalahuddin Al-Ayyubi

Alasan untuk membenarkan tindakan biadab selalu ada. Argumen untuk mengabsahkan tindakan brutal mudah dibuat. Tak peduli akurasi fakta dan kejernihan logika yang dibangun. Intinya: ingin membenarkan tindakan yang amat mengerikan tapi dilabeli hal-hal menarik dan rasional.

Bagi seorang Richard, tidak ada lagi ingatan pada jasa baik Shalahuddin yang pernah mengobatinya dalam luka pertempuran. Tidak ada respek dan menjaga marwah untuk melakukan pembalasan serupa dengan tidak menurutkan hawa nafsu membantai.

Begitulah keculasan dan kecurangan ala Richard yang tidak selaik sematan gelar di belakangnya. Kemenangan seolah belum lengkap bila tidak ada eksekusi maut para pengikut lawan. Informasi, kenyataan dan tindakan yang dirasakan langsung seperti tidak berbekas. Yang ada bagaimana menurutkan agenda yang didasari amarah dan kebencian.

Karena itulah, bagi seorang teroris pembantaian Muslim yang tengah shalat Jumat di salah satu masjid di Selandia Baru, hingga menewaskan tidak kurang 50 jiwa, tidak penting soal kebaikan yang dihadirkan calon-calon korban. Moncong senjatanya sudah dipersiapkan betul untuk menjagal, tidak peduli kemanusiaan yang ditawarkan calon korban begitu besar lagi tulus.

Baca Juga :  Israel Bangun Sinagog Baru di Kompleks Masjid Al-Aqsha

Sapaan “Hello Brother” dari seorang Daoud Nabi (71 tahun) pada sang teroris bernama Brendon Tarrant, tidaklah mempan. Sapaan hangat tidak berguna baginya karena satu saja ambisinya: mengenyahkan orang-orang yang tengah bersimpuh sujud pada Allah.

Begitulah kebiadaban bekerja. Ia menaklukkan ingatan atas kebaikan orang lain pada diri kita. Yang kita reproduksi adalah pemaknaan ideologi kita, tanpa pernah melirik sedikit pun orang lain berikut kebaikan yang pernah kita terima. Orang-orang seperti Richard Si Hati Singa sampai Brendon Tarrant akan selalu ada di muka bumi. Tak terkecuali di tengah kita di tanah air.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.