Rela Jadi Kuli Pasar Agar Bisa Sedekah

Suaramuslim.net – Sahabat nabi tidak semuanya kaya. Mereka ada yang miskin. Yang diantara keduanya juga ada. Namun jangan tanya semangat dalam bersedekah. Semangat mereka sama, meski kondisi ekonomi berbeda.

Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awam dan Abdurrahman bin Auf. Beberapa contoh sahabat yang dikatakan di atas rata-rata dalam ekonomi. Jika seperti Ali bin Abi Thalib bisa dikatakan sebaliknya. Putri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sampai harus menggiling gandum untuk makan hingga tangannya pecah-pecah. Lantas, apa yang dilakukan Aliketika ada pengemis di pasar sedang dia membawa makanan saat lapar? Dia berikan.

Kaya dan miskin bukan faktor yang menentukan mudah atau sulit bersedekah. Orang kaya yang kesulitan sedekah juga ada. Orang miskin yang rajin sedekah juga ada. Semua berangkat dari keimanan terhadap harta yang diberikan kepada sesama.

Saat perintah sedekah turun, para sahabat menyambut dengan semangat. Sebagaimana tergambar dalam hadits berikut. Dari Abu Mas’ud Al Anshari berkata, ”Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam jika memerintahkan kami untuk bersedekah, maka salah seorang diantara kami (yang miskin) berangkat ke pasar dan menjadi kuli  angkut. Ia mendapatkan upah satu mud (7 ons) untuk ia sedekahkan. Namun kini sebagian orang pada zaman sekarang memiliki 100 ribu dirham enggan bersedekah.” (HR Bukhari Muslim)

Baca Juga :  Borong Banyak Pahala dengan Amal Jariyah

Jadi kuli dilakukan untuk mengejar keutamaan sedekah, sekaligus menyambut seruan manusia yang dikagumi dan dicintainya. Semua itu berangkat dari keimanan dalam dada. Tidak sepantasnya tidak mau bersedekah dikarenakan miskin.

Lebih jelas lagi disampaikan oleh Abu Musa Al Anshari radhiallahu ‘anhu, ”Ketika turun ayat perintah sedekah, maka kami menjadi kuli angkut di pasar (untuk mendapat upah yang bisa kami sedekahkan). Ada sahabat yang datang dan menyedekahkan harta dalam jumlah besar, maka mereka (orang munafik) berkomentar “orang ini ingin pamer”, namun sahabat yang lain datang dengan sedekah satu sha’ (2,5-3 kg) saja, maka mereka berkomentar “sungguh Allah tidak butuh sedekah satu sha’ saja.”

Maka turunlah ayat (QS At Taubah: 79), ”(Orang-orang munafik) yaitu orang –orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya..” (HR. Bukhari Muslim).

Jika mencontoh semangat sahabat dalam bersedekah, maka seorang tukang becak untuk sedekah beralasan “buat makan saja susah”, sudah tak pantas. Seakan Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mencukupi karena sedekah. Kecuali keluar dari mulut yang lemah iman. Sampai dikatakan lemah hingga mendekati munafik. Manusia seperti ini seakan tidak ada rasa senang jika ada orang berbagi kepada sesamanya.

Baca Juga :  Separuh yang Bukan Setengah

Sedekah tidak ada kasta. Semua orang bisa melakukan. Hanya saja disana ada kepantasan. Seorang miliarder kemudian sedekah 100 ribu saat ada musibah. Maka ini tidak pantas, karena bukan magamnya. Seharusnya dia bisa bersedekah lebih, yakni, 10 juta atau 100 juta. Jika orang miskin bisa memberi sampai 100 ribu maka bisa diacungi jempol. Setelahnya tergantung menguatkan hati untuk ikhlas. Kenapa menguatkan? Untuk ikhlas butuh didorong jika tidak dikatakan dipaksa.

Jika dikembalikan kepada hakikat berbagi kepada sesama, sedekah bisa diartikan lebih luas. Bisa dengan sedekah pemikiran, sedekah tulisan, sedekah tenaga dan sebagainya. Lebih baik diikuti dengan sedekah materi (uang). Dengan sedekah berupa uang, jangka waktu bisa lebih lama dan pemberiannya bisa kepada siapa saja. Lembaga yang mengurusi sedekah uang tidak akan kesulitan.

Kembali kepada diri kita, sahabat adalah panutan, mereka adalah contoh yang baik. Catatan, dengan tidak memaksakan diri atau ketika semangat saja. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kemudahan kepada kita untuk rajin bersedekah.

Baca Juga :  Meneladani Kemurahan Hati Asma’ binti Abu Bakar

Kontributor: Muslih marju*
Editor: Oki Aryono

*) Guru SD Inovatif Aisyiyah Kedungwaru, Tulungagung

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.