Sedekah mushaf, tanda cinta dan hadiah yang abadi untuk almarhumah istri

Suaramuslim.net – Meja kantor sudah tak lagi rapi. Siang itu aktivitas sedang begitu hectic. Di tengah kesibukan, tiba-tiba nada dering telepon memecah suasana. Tanganku spontan meraih handphone yang tergeletak di seberang meja tempat saya berdiri.

“Assalamu’alaikum, saya Muhajir.”

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik, Bapak Muhajir. Dengan Griya Al Qur’an Surabaya. Ada yang bisa kami bantu?” sambutku.

“Istri saya wafat sepekan yang lalu.”

Sejenak suaranya tertahan. Kemudian terdengar mulai terbata-bata.

“Saya ingin bersedekah Al-Qur’an atas nama istri saya…”

Tangis perlahan terdengar di ujung telepon.

Kami menyimak betul apa yang diceritakan Bapak Muhajir tentang niat mulianya. Ia ingin menghadiahkan sedekah terbaik untuk belahan jiwanya, Hj. Siti Saudah.

Sehari kemudian, kami bersilaturahmi ke kediamannya. Niat hati kami ingin bertakziyah, menghibur shohibul musibah, sekaligus turut mendoakan almarhumah.

Siang itu, kami tiba di kediaman beliau di kawasan Nginden, Surabaya. Kami dapati Bapak Muhajir duduk bersandar di ruang tamu. Sendiri.

Namun tidak benar-benar sendiri.

Di hadapannya terbuka sebuah Al Qur’an. Beliau sedang mesra bersama ayat-ayat Allah yang dibacanya.

“Assalamu’alaikum, Bapak.”

Kami memberanikan diri menyela waktu tilawah beliau.

Dalam pertemuan yang telah dijanjikan sebelumnya itu, kami saling bertegur sapa. Perwakilan Griya Al Qur’an menyampaikan belasungkawa dan mendoakan almarhumah.

Namun lebih dari sekadar bertakziyah, kami juga ingin belajar.

Belajar dari kisah penuh berkah sepasang suami istri yang telah melewati puluhan tahun perjalanan hidup bersama.

“Radio Suara Muslim itu tidak pernah saya ganti channel-nya.” Ungkapnya.

Kalimat itu terlontar ketika kami berbincang tentang keseharian beliau.

Bapak Muhajir ternyata merupakan salah satu pendengar Radio Suara Muslim.

“Saya ini asal Gresik, istri saya dari mendoan. Tinggal di Surabaya hampir 50 tahun. Kami menikah tahun 1987,” tutur beliau membuka cerita.

“Saya dulu juga pengurus masjid Muhammadiyah. Aktif dalam kegiatan sosial.” Cerita kemudian mengalir.

Bapak Muhajir pernah terlibat dalam berbagai kegiatan sosial di tempat kerjanya. Mulai dari pembangunan dan bantuan pembangunan masjid, salah satunya Masjid Al Falah Surabaya, hingga kegiatan berbagi beras kepada masyarakat.

Tentang keluarganya, beliau pun bercerita.

“Istri saya, Siti Saudah. Anak pertama saya, Evi Mukhlisah, lahir tahun 1989. Sekarang mengajar di Al Uswah. Yang kedua, Muh Gadafi, sekarang di Depok. Sofyan di Bogor. Dulu pernah jadi penyiar di radio, kemudian ke TV One untuk program Damai Indonesiaku. Yang ini Rasyid…”

Nama demi nama disebutnya. Seolah satu per satu kenangan kembali hadir di ruang tamu itu.

“Saya dulu aktif di Mujahidin Perak, tahun 1976 silam.”

Di sela obrolan, Bapak Muhajir memperlihatkan foto keluarganya yang terpajang di dinding.

“Lihat itu, Mas.”

Telunjuknya mengarah pada sebuah foto lama yang warnanya mulai memudar.

“Dulu kita berenam. Sekarang jadi bertujuh belas.”

Telunjuknya kemudian berpindah ke foto keluarga yang lebih baru.

Ada senyum di wajahnya.

Namun di balik senyum itu, kami tahu ada seseorang yang kini tidak lagi berada di antara mereka. Hj. Siti Saudah.

Lalu kami bertanya, apa yang mendasari beliau tiba-tiba ingin bersedekah Al-Qur’an atas nama istrinya?

Bapak Muhajir kembali bercerita.

“Istri saya aktif ikut majelis taklim. Kadang hari Jumat beli kue untuk dibagi-bagikan di majelis taklimnya.”

Kebaikan itu rupanya tidak hanya dirasakan oleh jamaah majelis taklim. Para tetangga pun mengenal kebaikan almarhumah.

Kemudian Bapak Muhajir bertanya dengan suara yang kembali bergetar:

“Apakah pahalanya sampai kepada beliau?”

Kami menjawab dengan keyakinan dan doa:

“Tentu, insya Allah.”
Allohummaghfir laha warhamha, wa ‘afiha wa’fu ‘anha. Aamiin.

Di akhir perjumpaan kami siang itu, Bapak Muhajir justru melipatgandakan sedekahnya.

Bukan demi dirinya.
Tetapi demi kekasih hatinya.
Istri tercintanya.

Sebuah mushaf mungkin hanya berupa lembaran-lembaran yang tersusun dalam sebuah kitab.
Namun bagi Bapak Muhajir, mushaf itu adalah tanda cinta.

Hadiah yang ingin terus mengalirkan pahala untuk seseorang yang telah lebih dulu meninggalkannya.

Tujuh amal yang pahalanya terus mengalir

Beramal baiklah sejak dini. Sebab ketika kehidupan di dunia berakhir, tidak semua yang kita miliki akan ikut bersama kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang meninggal diikuti oleh tiga perkara: keluarganya, hartanya, dan amal perbuatannya. Dua akan kembali dan satu akan tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan amal perbuatannya tetap bersamanya.” (Terjemah hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ juga menyebutkan tujuh amal yang pahalanya terus mengalir kepada seseorang setelah ia meninggal:

“Ada tujuh jenis amal yang pahalanya mengalir terus kepada seseorang di alam kuburnya: orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf, atau meninggalkan anak yang memintakan ampunan untuknya setelah kematiannya.” (Terjemah hadis riwayat Al-Bazzar, Abu Nu’aim, dan Al-Baihaqi).

Mewariskan mushaf.

Barangkali inilah yang ingin dilakukan Bapak Muhajir untuk istrinya. Sebuah amal yang sederhana, tetapi menyimpan harapan yang panjang.

Ketika tangan seseorang membuka mushaf yang disedekahkan, ketika lisannya membaca ayat demi ayat, ketika ada hati yang kembali dekat kepada Allah melalui Al-Qur’an itu, semoga setiap hurufnya menjadi aliran pahala bagi mereka yang mewakafkannya.

Dan mungkin, itulah salah satu bentuk cinta yang tidak berhenti meski kematian telah memisahkan.

Sedekah mushaf bersama Baitul Maal Griya Al Qur’an

Baitul Maal Griya Al Qur’an (BMGQ) merupakan unit lembaga amil yang bergerak dalam penyebaran manfaat, salah satunya melalui ikhtiar memutus rantai buta aksara Al-Qur’an di Indonesia.

Melalui Program Sedekah Amal Mushaf Al-Qur’an (SALMAN), BMGQ terus berikhtiar mendistribusikan mushaf kepada mereka yang membutuhkan, termasuk ke berbagai pelosok daerah di Indonesia.

Mushaf-mushaf itu menjadi ikhtiar untuk mencukupi kebutuhan Al-Qur’an, membuka jalan bagi masyarakat untuk belajar dan membaca Al-Qur’an, sekaligus menumbuhkan lahirnya para hafidz dan hafidzah di berbagai penjuru negeri.

Semua itu tidak berjalan sendiri.
Ada mitra. Ada donatur. Ada orang-orang yang menitipkan sebagian hartanya untuk menjadi jalan kebaikan.

Salah satunya adalah Bapak Muhajir.
Sedekah mushaf yang ia titipkan bukan sekadar donasi.
Ia adalah tanda cinta seorang suami kepada istrinya.
Sebuah hadiah yang diberikan ketika sang penerima hadiah telah tiada.
Dan sebuah harapan agar cinta itu tetap menemukan jalannya; melalui ayat-ayat Al Qur’an yang terus dibaca.

Semoga setiap mushaf yang sampai ke tangan para pembacanya menjadi amal jariyah bagi almarhumah Hj. Siti Saudah.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, melapangkan kuburnya, menerima seluruh amal baiknya, dan mempertemukannya kembali dengan keluarga tercinta dalam keadaan terbaik.

Dan semoga kisah Bapak Muhajir mengingatkan kita semua: “Jangan menunggu kehilangan untuk mulai menghadiahkan kebaikan.”

Sebab boleh jadi, apa yang kita sedekahkan hari ini akan menjadi hadiah paling abadi bagi orang-orang yang kita cintai; bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di samping mereka.

Penulis: Achmad Fachrurrosi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.