Syiar Islam di Larantuka, Flores
Shalat Idul Adha di Pelabuhan Larantuka.

Suaramuslim.net – Larantuka adalah tanah kelahiran Ahlan al-Jihad Maulana Bethan. Letaknya di kabupaten Flores timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut pengakuan Ahlan, penduduk di sana mayoritas beragama Katolik. Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari laman goodnewsfromindonesia (16/1/2017), masuknya agama Katolik di wilayah ini tidak lepas dari pengaruh Penjajah Portugis. Di sini pula pada abad 16 M berdiri kerajaan Katolik satu-satunya di Nusantara.

Populasi umat Islam di sana belum begitu banyak. Jika pembaca laman suaramuslim(dot)net piknik ke Larantuka, keberadaan umat Islam bisa dilihat di kampung Baru, kampung Postoh dan kampung Weri. Ahlan tinggal di kampung Baru. “Ada berapa jumlah Pesantren di Larantuka?” Saya ajukan pertanyaan di sela-sela jam istirahat Ujian Akhir semester (UAS). “Belum ada pondok pesantren dan Taman pendidikan Quran (TPQ),” kata Ahlan yang di sana dikenal sebagai anak Ketua MUI Larantuka. Jika anak-anak kecil di pulau Jawa berangkat mengaji setelah salat ashar, maka anak-anak di kampungnya Ahlan mengisi waktu luang dengan bermain. Akan tetapi usai salat maghrib, ada sebagian anak-anak yang berangkat mengaji ke rumah ustaz.

Baca Juga :  Ini Polemik tentang Islam Masuk di Indonesia

Di Larantuka ada juga tradisi Islam Nusantara. Meski di sana tidak dikenal istilah “pengikut NU” atau “pengikut Muhammadiyah”, tetapi tiap malam Jumat, para ustaz yang berasal dari Jawa rutin menggelar tradisi Yasinan dan salawatan. Apabila ada warga yang meninggal dunia, digelar pembacaan doa dan surah Yasin maksimal 3 hari. Kemudian tradisi ini digelar kembali ketika hari ke 40 dan ke seratus.

Tentang berhijab, kebanyakan remaja muslimah di Larantuka tidak mengenakan hijab. Akan tetapi kata Ahlan, “Semua ibu-ibu yang berumur di atas 40 tahun sudah berhijab”. Saya menduga, remaja yang belum berhijab itu semasa kecilnya tidak dibiasakan berhijab oleh orang tuanya. Adapun wanita hamil yang memasuki fase 7 bulan juga tidak mengadakan tradisi atau ritual tingkeban seperti di pulau Jawa.

Jelang bulan Ramadhan, tidak ada pawai menyambut Ramadhan seperti yang Ahlan saksikan sendiri di kota Malang maupun kota Batu. “Tiap bulan Ramadhan, sekolah saya libur selama sebulan pak,” ujar Ahlan. Jumlah rakaat Tarawih di kampung tergantung imamnya. Sebagian menggelar 23 rakaat dan ada yang 11 rakaat. Salat Tarawih ini berlangsung cepat, imam hanya membaca surah Al Ikhlas dan Al Kautsar.

Baca Juga :  Santri, Jiwa Qurani dan Perjuangan Umat (1)

Beralih ke tradisi pawai obor di malam takbiran. Sebelum peserta pawai berangkat keliling kampung Baru hingga kampung Postoh, mereka diberi kuliah tujuh menit (kultum) oleh ustaz. Pawai biasanya berakhir sebelum pukul 11.00 malam. Besoknya ketika lebaran, penduduk di Larantuka melakukan ziarah. Biasanya usai salat hari raya Idul fitri, ke makam lagi untuk bersih-bersih dan memanjatkan doa.

Bagaimana dengan Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah formal? Misalnya di SD Inpres di mana Ahlan bersekolah, hanya diberi durasi 2 jam dalam seminggu. Itu pun yang diajarkan bukan fikih ibadah apalagi Tauhid. Meski kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah itu berakhir pada pukul 12.00, di sana belum diadakan salat dhuhur berjemaah. Ahlan mengaku baru mengenal Dhuhur berjemaah saat ia nyantri di Ponpes Muhammadiyah al-Munawwaroh kota Malang. “Terus bagaimana salat Jumat di Larantuka?” Tanya lagi kepada Ahlan. Ia bilang, “Adzan salat jumat di Masjid Agung Syuhada’ hanya sekali. Sebelum adzan berkumandang, pengurus masjid memukul bedug. Khatibnya naik mimbar sambil memegang tongkat. Tidak ada bacaan sholawat Nabi saat khatib duduk di antara dua khutbah”.

Baca Juga :  Islam Nusantara dan Ruh Islam Liberal

Terakhir, sebelum menutup artikel ini, ada baiknya mengetahui bagaimana suasana musim haji di Larantuka. Di sana ada kemiripan dengan pulau Jawa. Calon jemaah haji saat berangkat dan kembali pulang dari Jazirah Arab disambut penduduk se-kampung, lalu diiringi sampai menuju kediamannya. Sebagian orang yang mampu menunaikan ibadah haji berprofesi sebagai PNS guru, pegawai di kantor kecamatan dan pegawai Kantor Urusan Agama (KUA). Wallahu a’lam.*

*Opini yang terkandung dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial suaramuslim.net.
*Pernah dimuat di Kompasiana.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.