Terkait Review Materi Perang, MIUMI Bekasi: Alasan Kemenag Tidak Objektif
Sejumlah anak sedang belajar mengaji di Madrasah Diniyah Awwaliyah Al Fitria di Pulau Genting, Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Selasa (21/10). Pemerintah mencanangkan upaya diversifikasi atau penganekaragaman madrasah menjadi tiga kategori untuk mengurangi kesenjangan dengan sekolah umum. (Foto: KOMPAS)

JAKARTA (Suaramuslim.net) – Rencana Kementerian Agama melalui Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah untuk mereview materi perang dalam kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dinilai tidak tepat.

Hal ini disampaikan oleh Ketua MIUMI Kota Bekasi Wildan Hasan dalam siaran persnya kepada media yang diterima redaksi Suaramuslim.net, Selasa (17/9).

Menurut Wildan alasan Kemenag untuk mereview lantaran agar Islam tidak dipandang hanya sebatas perang tidak tepat.

“Alasan yang dikemukakan Kemenag tidak objektif. Bahwa umat Islam selalu dihubungkan dengan perang atau kekerasan, sama sekali tidak ada korelasinya dengan materi ajar perang di mapel SKI,” katanya.

“Tidak pernah ada sampai sekarang orang menuduh Islam suka berperang dan kekerasan akibat mereka baca buku SKI,” tambahnya.

Menurut Wildan, baik buruknya peristiwa di masa lampau adalah bagian dari fakta sejarah.

Sejarah, lanjut Wildan, tidak melulu soal kebaikan dan kejayaan tapi juga keburukan dan keterpurukan.

“Kita harus jujur terhadap sejarah. Sejarah terjadi bukan untuk ditutup-tutupi tapi untuk dipelajari dan diambil ibrohnya agar kebaikan dan kejayaan masa lampau bisa terulang dan terus berlanjut atau keburukan masa lampau tidak terulang kembali di masa depan,” ungkapnya.

Menurut Wildan selaman ini tuduhan Islam disebarkan dengan perang (kekerasan) adalah tuduhan yang sudah lama ada sejak masa para orientalis.

“Jadi semestinya Kementerian Agama tidak termakan oleh stigma yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memang benci terhadap Islam,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurut Wildan, perang adalah sesuatu yang sering terjadi dalam kehidupan manusia.

“Oleh karena itu yang harus dilakukan Kemenag bukan menghapus materi ajar soal perang karena itu fakta sejarah. Tapi tampilkan kisah perang itu dalam bentuk kisah hikmah. Kisahkan bagaimana adab berperang dalam Islam, apa motivasi perang dalam Islam, lalu apa saja hikmah yang bisa diambil dan lain sebagainya,” tegasnya.

Reporter: Ali Hasibuan
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.