Eropa Sedang Mengandung Islam

Eropa Sedang Mengandung Islam

Eropa Sedang Mengandung Islam
Bediüzzaman Said Nursiyi (Foto: Postmetro.info)

Suaramuslim.net – Suatu saat di masa itu, salah seorang anggota ulama Universitas Azhar di Kairo yang terkenal (dan pernah menjadi Mufti Agung Mesir), Syekh Muhammad Bakhit, mengunjungi Istanbul. Ulama Istanbul, yang belum bisa mengalahkan Nursi dalam argumentasi dan debat, meminta Syekh Bakhit agar menemuinya. Syekh setuju dan baru ada kesempatan pada suatu hari setelah shalat di Aya Sofia. Nursi duduk di warung teh. Ulama lain juga hadir di situ pada waktu Syekh Bakhit mendekati Nursi dan mengajukan pertanyaan berikut: “Apa pendapat Anda mengenai kemerdekaan dan negara Usmani, serta peradaban Eropa?”

Jawabannya yang tegas menunjukkan realisme dan wawasannya yang luas. “Negara Usmani sedang mengandung Eropa dan suatu hari akan melahirkan negara Eropa. Adapun Eropa sedang mengandung Islam dan suatu hari akan melahirkan negara Islam.”

Syekh Bakhit memuji jawaban itu. “Tak ada yang bisa membantah pemuda ini,” katanya. “Saya berpendapat sama. Tetapi hanya Badiuzzaman yang bisa mengungkapkannya dengan begitu singkat tetapi jelas dan fasih.”

Demikian kutipan dari karya terjemah  perempuan-intelektual kelahiran Inggris, Şükran Vahide, Biografi Intelektual Badiuzzaman Said Nursi: Transformasi Dinasti Usmani menjadi Republik Turki (2007). Menarik untuk dikutip pula bagian lain di buku yang sama dari pesan Said Nursi.

“Persatuan tidak dapat terjadi melalui kebodohan. Persatuan merupakan peleburan berbagai pemikiran, sedangkan peleburan berbagai pemikiran terjadi melalui sinar-sinar elektrik ilmu pengetahuan,” ungkap Said Nursi.

Jujur, halaman buku Vahide mengejar kuat di benak patik selepas membaca “diorama hati” beberapa al-akh tanah air yang absen (kabarnya) dalam pertemuan soal Palestina di Istanbul belum lama ini hanya karena ada “seteru” sejamaah. Cara baca kita merespons zaman masihlah jauh di bawah level Said Nursi. Tapi, bahkan untuk sekadar bersatu dan menerima beda yang ada pun sukar. Jiwa kita belum kokoh kiranya menapaki beda yang disangka sebentuk perseteruan.

Sebagian al-akh di sini lain pula menyikapi lautan protes dan kepedihan Muslimin atas derita genosida saudara mereka di Xinjiang. Muslimin Uighur hari per hari belakangan ini masif jadi pihak yang dibela pelbagai pihak. Bahkan, kalangan bukan-Islam pun di banyak negara terpanggil menyuarakan protes dan kecaman. Kita tak perlu tahu sampai detail apa motif mereka. Menjadi naif dan mengiris hati manakala ada para al-akhi di sini menyamakan Muslimin Uighur selaiknya separatis yang berhak diperangi penguasa China. Tidak ada jejak untuk berempati selain ingin membeda bahwa kita tak pantas membelanya.

Bilalah karena separatis belaka, mengapa sampai sebiadab itu penguasa China menindas? Bukankah banyak investigasi objektif yang berlawanan dengan asumsi para al-akh yang acap getol paling gandrung teriak cinta NKRI? Entahlah apa yang ada di benak mereka; apakah objektif dan—setidaknya—tidak tergesa-gesa membuat pernyataan menyalahkan saudaranya di sini yang sekadar ingin peduli, begitu susah. Tampaknya, kita lebih kokoh melisankan slogan, alih-alih menajamkan mata hati kepedulian bahkan persatuan, sebagaimana dipesankan Badiuzzaman Said Nursi di atas. Pengetahuan kita hanya secarik kertas yang tumpul untuk menghadirkan rasa kemanusiaan.

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment