Pelukan Intel Natsir

Pelukan Intel Natsir

Oleh: Yusuf Maulana (Penulis Buku “Mufakat Firasat”)

Semasa menempuh jenjang sarjana di Al-Azhar, Dr. Sohirin Mohammad Solihin beberapa kali diminta bertemu sang guru, Mohammad Natsir. Jamak diketahui, Natsir begitu menyayangi para kader-kader dakwah. Di forum-forum ilmiah, apalagi terbatas dan eksklusif, kebaikan Natsir mengajak anak didiknya bukan tanpa rancangan.

Seperti dijelaskan Sohirin dalam “Seminar Pemikiran Reformis — siri VIII Mohammad Natsir” yang diadakan Islamic Renaissance Front di Malaysia 23 Juli lalu, suatu ketika dirinya diminta datang ke Arab Saudi, tepatnya di Jeddah. Natsir tengah menghadiri pertemuan Rabithah ‘Alam Islami, organisasi yang turut didirikannya. Sohirin tahu, di Arab Saudi ada mata-mata khusus pemerintah yang mengawasi Natsir. Sang intel seorang muslim, yang tugasnya memantau pergerakan mantan politikus Masyumi itu. Sebabnya: Natsir dicurigai sebagai oposisi penguasa dalam dua rezim, Sukarno dan Suharto. Sang mata-mata dikenali Sohirin sebagai sosok yang anti-Natsir.

Entah dari sumber mana, Sohirin mendengar kabar sang intel tengah sakit amat parah. “Bah, ini ada berita kabar gembira,” kata Sohirin, “Intelijen di sini sedang koma.”

Sohirin bungah dengan sakitnya intel itu karena pergerakan sang guru bakal leluasa tanpa harus dicatat sebagai aktivitas “membahayakan” dalam perspektif rezim yang berkuasa.

Tak dinyana, bukan jawaban senang atau sekadar senyum puas. “Ayo kita tengok dia,” kata Natsir.

“Gimana Abah ini? Dia kan musuh kita?” terheran Sohirin dengan jawaban sang guru.

“Tapi dia kan Muslim?” balas Natsir meyakinkan.

Akhirnya Sohirin luluh. Setelah lokasi rumah sakit sang intel diketahui, mereka pun membesuk. Benar, sang intel tengah terbaring.

Kaget bukan kepalang begitu didapati sosok yang selama ini diawasi dan begitu dibencinya. Ketika Natsir mendekat, ia pun bangkit dan memeluknya seraya menangis tersedu sedan.

“Orang yang paling saya benci ternyata orang yang paling sayang pada saya,” ucapnya. “Sahabat-sahabat kami satu aliran tak ada yang berkunjung pada saya. Ini oposisi yang benci pada saya, dia yang paling sayangi saya.”

Begitulah luas dan luwesnya pergaulan Natsir. Tindak tanduk Natsir menyajikan adab islami, yang kadang kala para pembencinya salah paham atau tak hendak tahu. Natsir sering dilabel, dan berpuas dengan label itu. Tak mau tahu bahwa label pada Natsir sebagai sosok “pemberontak”, pejuang fanatik negara Islam, pengubah Pancasila, dan banyak label tak sedap lainnya hanya tafsiran yang jauh panggang dari api.

Perlu bukti langsung di depan mata barangkali agar mata batin pembencinya terbuka, layaknya dalam kasus intel di Jeddah tadi. Hari ini pun nama Natsir masih membawa aura “angker” dan fobia bagi kalangan tertentu, yang paradoksnya di waktu lain mereka acap berkoar “saya Pancasila”, “NKRI harga mati” dan syair keindahan slogan kebangsaan semacamnya.

Ada pula sebagian anak bangsa di sini, dan mereka muslim, memandang seolah Natsir lebih hina dan buruk dengan argumen ia sebagai pejuang anti-Pancasila. Sebuah penyimpulan yang gegabah. Lupa siapa yang berjuang dalam perumusan dasar negara, mosi integral NKRI, sampai pemecah deadlock hubungan diplomatik RI-Malaysia.

“Tak saya dapati satu (pun) agenda tertulis Natsir ingin mendirikan negara Islam,” papar Sohirin, yang menulis buku laris Mohammad Natsir: Islamic Intellectualism and Activism in the Modern Age (2013) dan associate professor di International Islamic University Malaysia. Demikian juga dalam tathbiq asy-syariah, impelementasi konstitusi syariah, Natsir bukan sosok yang berobsesi (formalis) ke sana.

Islam yang dipahami Natsir tak menanti hadirnya institusi formal demi tegaknya syariat. Sebab syariat pun tegak dalam keseharian melalui adab-adab sebagaimana dalam kasus di Jeddah di atas. Di sisi lain, tanpa harus berbusa-busa mendaku diri paling Pancasilalah, cinta NKRI-lah, dan semacamnya, Natsir sudah lakukan misi-misi kebangsaan penting. Amat berbeda dengan sebagian kita yang masih berpuas dengan performa penyajian diri di media sosial hanya karena gandrung pada syair keindahan saleh mencatut Pancasila. []

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment