Liberalisasi Budaya Santri dalam Film The Santri

Liberalisasi Budaya Santri dalam Film The Santri

Liberalisasi Budaya Santri dalam Film The Santri
Salah satu cuplikan adegan dalam trailer film The Santri.

Suaramuslim.net – Diluncurkannya Film “The Santri” menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Di satu sisi, film ini direkomendasi oleh ketua umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siraj, dan dikatakan kepada publik sebagai film yang bagus. Dikatakan bagus karena untuk menanamkan jiwa toleran. Film ini dinilai mengandung nilai-nilai Islam yang santun, toleran, ramah, plural, berbudaya, akhlakul karimah, dan jauh dari Islam radikal.

Di sisi sisi lain, tidak sedikit yang menentang peluncuran film ini. Penentang film ini berargumen bahwa film The Santri tidak lebih sebagai perjuangan kaum liberal yang ingin memperjuangkan kebebasan yang justru bertentangan dengan nilai-nilai kesantrian. Beberapa adegan dinilai bukan budaya santri tetapi mencerminkan budaya yang disusupkan untuk diakui sebagai budaya santri.

Budaya Santri dan Liberalisasi

Film The Santri ingin mempromosikan nilai-nilai toleransi di tengah lahirnya kelompok-kelompok radikal. Film ini menggambarkan komunitas santri yang belajar agama di pesantren dan kemudian ada santri yang memiliki kesempatan untuk belajar di negeri Barat. Belajar di Barat telah membentuk pola berpikir yang terbuka dan melihat pluralitas, sehingga memiliki spirit toleransi yang baik. Toleransi itu dibuktikan dengan sikapnya yang menghormati kepada penganut agama lain. Sedemikian toleransinya hingga membenarkan dirinya masuk gereja dan bahkan ada adegan memberikan tumpeng di dalam tempat peribadatan orang lain.

Kalau selama ini santri identik dengan seorang rajin beribadah di masjid, membaca dan mendalami Al Quran, serta bahasa arab. Maka dalam film ini seorang santri memasuki tempat ibadah agama lain, santri ini digambarkan ramah dan dekat dengan pemeluk agama lain. Bahkan, dia begitu ringan kaki untuk datang ke tempat peribadatan orang lain tanpa beban.

Pencitraan karakter santri yang toleran inilah yang ingin dilekatkan pada santri saat ini. Hal ini untuk mengkounter karakter santri yang saat ini dinilai sangat kontraproduktif. Kalau santri saat ini dinilai ekstrem dan bahkan radikal terhadap penganut agama lain, maka film ini menggambarkan santri yang relevan dengan kebutuhan modern. Sudah selayaknya seorang santri yang hidup di era modern harus menjauhkan diri dari sikap radikal dan harus bersikap toleran, santun, dan ramah terhadap penganut agama lain.

Dengan melihat film The Santri diharapkan bisa mengubah wajah santri yang selama ini digambarkan sangat individualistik dan fanatik terhadap agamanya, serta menganggap orang yang beragama lain sebagai musuh yang harus diperangi. Bahkan penganut yang beragama lain dikatakan kafir dan masuk ke dalam neraka. Cara berpikir yang demikian ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai modern yang mengedepankan sikap ramah, toleran, dan menghargai terhadap perbedaan agama.

Membentengi Karakter Santri

Film The Santri memang mengandung sejumlah kontroversial. Film ini disutradarai oleh seorang perempuan yang bernama Livi Zheng. Dari namanya saja sudah terlihat kontroversialnya, di mana bukan muslimah tapi membuat film tentang pesantren. Kemudian dari sisi narasi cerita yang tak lazim dilakukan seorang santri, seperti campur antara santriwan dan santriwati, bahkan ada adegan berduaan. Santri digambarkan demikian di tempat peribadatan agama lain, seperti gereja. Tidak sebagaimana gambaran umum santri yang dekat dengan masjid, santri ini begitu akrab dengan lingkungan gereja. Digambarkan demikian tolerannya, santri ini membawa tumpeng lalu diserahkan ke pendeta di dalam gereja. Adegan ini jelas bukan akhlak seorang santri, tapi lebih mendekati kepada perilaku seorang liberalis.

Pemahaman tentang toleransi, sebagaimana yang dilakukan santri memasuki gereja dan membawa tumpeng, merupakan hal yang kurang lazim bagi tradisi peesantren. Toleransi tidak seharusnya dipahami dengan mendatangi tempat ibadah dan bergaul secara akrab dengan penganut agama lain. Toleransi seharusnya dimaknai sebagai sikap memberi peluang dan kebebasan kepada pemeluk agama lain untuk nyaman dalam melaksanakan ibadahnya.

Toleransi yang digambarkan dalam film The Santri terlihat sekali sebagai pesan terselubung dari kelompok liberal. Mereka ingin memaknai dan mengusung toleransi dalam perspektif liberal, untuk diakui sebagai bagian dari tradisi pesantren. Dalam jangka panjang, toleransi yang demikian liar ini akan melahirkan sikap-sikap toleran yang menyimpang. Bolehnya mengucapkan kalimat “Selamat Natal” atau menghadiri acara ibadah atau ritual agama lain, bisa jadi lahir karena sikap toleran yang salah pemahaman.

Toleransi itu bukan ikut-ikutan merayakan perayaan agama lain. Toleransi juga bukan saling mengucapkan dan membenarkan keyakinan penganut agama lain. Bahkan toleransi itu bukan bebas masuk gereja atau tempat-tempat ibadah agama lain lalu memberikan hadiah, sehingga dengan bersikap demikian Islam dianggap agama toleran. Namun toleransi adalah membiarkan pemeluk agama lain merayakan hari-hari agung mereka, membiarkan mereka beribadah secara nyaman.

Film ini tergambar dengan jelas bahwa santri yang selama ini merupakan produk Islam yang salah karena telah melahirkan santri yang tidak toleran terhadap pemeluk agama lain. Islam yang benar ketika mengajarkan sikap santun dan ramah kepada pemeluk agama lain, sebagaimana merujuk pada tradisi Barat. Sebagai umat Islam, sudah cukup meyakini Nabi Muhammad sebagai pembawa petunjuk terbaik, khususnya dalam mengajarkan toleransi. Sudah cukup bagi umat Islam untuk mengimani bahwa Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, sebagaimana yang diajarkan Nabi, bukan merujuk pada pemahaman kelompok-kelompok liberal.*

Surabaya, 24 September 2019

*Opini yang terkandung dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial suaramuslim.net.

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment