Menjadi Muslimah Tangguh Di Masa Pandemi, Belajar Dari Bunda Hajar

Menjadi Muslimah Tangguh Di Masa Pandemi, Belajar Dari Bunda Hajar

Artikel ini disarikan dari program Mozaik Suara Muslim Radio Network.

Suaramuslim.net – Bunda Siti Hajar merupakan sosok perempuan tangguh yang selalu dijadikan teladan bagi muslimah. Kesabaran, keikhlasan, dan daya juangnya yang membuat Allah ridha hingga Allah pancarkan mata air dari jejak kaki kecil Ismail.

Dalam keadaan bingung menghadapi masalah yang sangat hebat, tidak menjadikan Bunda Hajar panik dan berkeluh kesah. Beliau ikhlas dan berserah diri kepada Allah. Tetap dalam keyakinan penuh agar mendapat rahmat Allah.

Bunda Kurniati Laila, S.Pd., dalam talkshow Mozaik Suara Muslim Radio Network, Rabu (14/7/21) mengatakan, di tengah pandemi seperti ini perlu kita hadirkan sosok seperti Bunda Hajar dalam diri kita, agar kita bisa senantiasa tangguh dan sabar.

Berikut adalah kisah tangguhnya Bunda Hajar yang bisa kita jadikan teladan

Hajar dan Sarah adalah istri-istri Nabi Ibrahim. Allah menakdirkan Bunda Sarah yang tidak kunjung hamil menyampaikan kepada suaminya agar Hajar menjadi istrinya untuk mendapatkan keturunan.

Akhirnya menikahlah Bunda Hajar dengan Nabi Ibrahim. Hingga saat Hajar hamil rasa cemburu itu muncul. Namun tak berselang lama, ketika Ismail lahir kecemburuan itu seketika hilang. Bunda Sarah sangat menyayangi Ismail layaknya anak sendiri.

Kemudian firman Allah turun kepada Ibrahim, Allah memerintahkannya untuk membawa Hajar dan Ismail ke lembah Mekkah yang saat itu belum ada penghuninya. Nabi Ibrahim pun membawa dan meninggalkan anak istrinya di tempat yang sangat jauh dari Palestina, ribuan kilometer jaraknya.

“Saat-saat inilah yang menunjukkan betapa Bunda Hajar itu sangat tangguh. Bersama bayinya yang masih merah, ia ditinggal oleh sosok suami yang sangat dicintainya,” tutur Bunda Kurnia yang juga pemerhati perempuan anak dan keluarga ini.

Namun karena akhlak yang sangat mulia serta budi pekerti yang elok dari Bunda Hajar, beliau berkata kepada Nabi Ibrahim, ”Wahai suamiku ke manakah kau akan pergi? Mengapa engkau tinggalkan kami di sini?”

Ini adalah pertanyaan yang mengedepankan rasa sebagai perempuan. Namun tidak dijawab oleh Nabi Ibrahim. Maka dengan kecerdasan Bunda Hajar, beliau mengganti redaksi pertanyaan yang penuh keimanan, ”Apakah Allah yang memintamu untuk melakukan perjalanan?”

Saat itulah Nabi Ibrahim menjawab, ”Betul.”

Bunda Hajar menjawab, “Sekarang aku mengerti, dan Allah tidak akan menyia-nyiakanku.”

Dari sini kita bisa mengambil sebuah tips agar kita tangguh, berusahalah untuk mengubah sudut pandang.

Mengubah dari pertanyaan yang bersifat perasaan, diganti dengan pertanyaan keimanan. Jika kita kaitkan di masa sekarang, kalau kita lewati hanya dengan perasaan, kita akan mudah lelah dan kecewa. Tapi kalau merasakan pandemi ini dengan keimanan, dijamin, kita tidak akan mudah menyalahkan dan bisa lebih sabar menghadapinya.

Setelah Nabi Ibrahim pergi, Bunda Hajar melihat kepergian suaminya hingga titik bayangan suaminya tidak terlihat. Sungguh menujukkan kecintaan seorang istri ketika melepas suami.

Setelah itu, barulah Hajar berusaha mencari air dari Shafa ke Marwah, berlari-lari (sa’i). Itulah ikhtiar dari seorang Bunda Hajar. Berikhtiar dulu hingga tujuh kali, baru setelah itu tawakkal satu kali. Akhirnya dengan kuasa Allah, muncullah mata air dari kaki kecil Ismail.

Di sini kita bisa belajar dari kisah Bunda Hajar, beliau melakukan sa’i mencari air dari Shafa ke Marwah. Inilah poin penting yang dibutuhkan para ibu agar bisa tangguh.

Shafa bermakna memiliki kebersihan hati, memiliki husnudzon pada Allah bahwa semua akan baik-baik saja. Marwah memiliki arti cemerlang. Dua karakter inilah yang akan menjadikan kita pribadi tangguh ketika terus mengilmuinya dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita bisa menjadikan potret Bunda Hajar, bagaimana beliau tidak terlalu berharap kepada manusia, namun banyak berharap pada Allah. Dengan cara menghadirkan iman di manapun berada, ikhtiar, banyak berdoa dan selalu husnudzon kepada Allah,” pungkas Bunda Kurnia.

Kontributor: Sarah Syahida
Editor: Muhammad Nashir

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment