Backstager, menemukan kepuasan tanpa harus jadi pusat perhatian

Suaramuslim.net – Sebuah panggung menyala oleh lampu sorot. Kemegahan tampak dari layar LED ukuran raksasa. Setiap detil di panggung menjadi perhatian. Semua harus sempurna. Lalu “pemain utama” memasuki panggung, diiringi riuh tepukan penonton, puja puji, dan kekaguman.

Di balik pemain utama itu, tak terhitung orang-orang di belakang layar yang jungkir balik mempersiapkan show agar berjalan spektakuler dan mengagumkan. Orang-orang yang namanya tidak terlalu dikenal, meski yang mereka kerjakan sangat krusial dan melelahkan.

Orang-orang yang tidak selalu menerima pujian. Bahkan mereka yang “sekedar” memastikan pemain utama tidak kelaparan, aman dan  tampil maksimal.

Bukankah demikian juga dalam hidup. Setiap dari kita memiliki perannya masing-masing.

Seorang Ibu yang 24 jam ada di rumah, seringkali mereka sendiri dengan rendah diri menyebut dirinya “Ibu Rumah Tangga saja”. Kata “saja” yang sungguh mendegradasi peran amat penting seorang istri dan ibu, yang memastikan anak dan suami makanannya terjaga. Ibarat menteri, dia adalah menteri segala urusan, yang bahkan sering lupa untuk berterima kasih pada dirinya sendiri.

Atau kuli bangunan yang  dibayar rendah untuk sebuah gedung megah, ditambah risiko keselamatan yang besar, hampir pasti tak dikenal oleh penghuni gedung megah itu.

Meja di restoran mahal yang dipenuhi sajian menarik dan menggoda selera, tidak membuat para penikmat makanan melontarkan rasa terima kasih pada petani. Para petani yang yang kadang penghasilannya tak sepadan dengan peluh keringat dan kelelahan.

Bisa dibayangkan ya, kalau kita terus menerus mengejar validasi, merasa diri adalah center of attention, ingin selalu dimengerti, ingin selalu orang lain berterima kasih. Alangkah lelahnya…

Sungguh beruntung kita punya sandaran se-Maha Besar Allah. Jika tidak, hidup akan terasa perih, berat dan tidak adil. Keluhan demi keluhan akan terus menjadi ritual.

So, ngga papa menjadi “Backstagers”. Ngga papa tidak dianugerahi piala, penghargaan ini itu. Normalisasi mengisi hati yang penuh rasa syukur. Jangan lupa berterima kasih dan memberi hadiah untuk diri sendiri.

Fetty Aisha
Announcer Suara Muslim Radio Network

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.