ICMI dan energi baru peradaban

Suaramuslim.net – Setiap organisasi besar pernah sampai pada titik ketika ia perlu menyalakan ulang energinya. Bukan karena kehilangan sejarah, bukan pula karena kekurangan orang baik, tetapi karena zaman terus bergerak dan cara lama tidak selalu cukup untuk menjawab tantangan baru.

ICMI memiliki warisan besar dalam keilmuan, nilai-nilai keislaman, dan kebangsaan. Kini, warisan itu perlu diberi napas baru agar tidak hanya dikenang, tetapi kembali menjadi energi yang menggerakkan.

Sejak awal, ICMI tidak lahir sebagai organisasi biasa. Ia lahir dari kebutuhan zaman: menghimpun kaum cendekiawan muslim agar ilmu, iman, dan pengabdian bangsa bisa berjalan lebih dekat.

Dalam Anggaran Dasar, ICMI ditegaskan sebagai wadah cendekiawan muslim yang menghimpun berbagai unsur cendekiawan dari berbagai kalangan masyarakat. Kegiatan ICMI juga diarahkan untuk meningkatkan kecendekiawanan, pembelajaran, koordinasi jaringan informasi, serta pengembangan pemikiran strategis bagi masalah lokal, nasional, dan global.

Artinya, energi ICMI sejak awal bukan hanya energi pertemuan. Bukan sekadar energi rapat, seremoni, atau dokumentasi. Energi ICMI adalah energi peradaban: energi untuk membaca zaman, merumuskan gagasan, menyambungkan umat, dan ikut membangun Indonesia dengan akal sehat serta hati yang jernih.

Kalau kita menengok sejarah, ICMI pernah menunjukkan energi itu secara nyata. Dari jejaring cendekia dan semangat pengabdian, lahir berbagai kontribusi penting: BMT, Bank Muamalat, Beasiswa Orbit, pemikiran kebijakan publik, serta berbagai gerakan pendidikan dan sosial.

Semua itu bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah bukti bahwa ICMI pernah menjadi ruang tempat gagasan bertemu dengan keberanian untuk berbuat.

Namun setiap zaman punya bahasanya sendiri. Apa yang dulu cukup digerakkan lewat forum, tokoh, dan jaringan informal, hari ini perlu diperkuat dengan sistem pengetahuan, kolaborasi lintas generasi, dan ruang digital yang lebih terbuka.

Nilainya tetap sama, hanya bahasanya yang perlu disesuaikan dengan anak zamannya. Di sinilah ICMI perlu terus menjaga akar, sambil memberi ruang bagi ranting baru untuk tumbuh.

Di sinilah pentingnya menata makna. Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning mengingatkan bahwa manusia dapat bertahan ketika ia memiliki makna.

Organisasi juga begitu. Ketika makna masih terasa dekat, kerja kecil pun terasa bernilai. Tetapi ketika makna mulai kabur, kegiatan besar pun bisa terasa formal.

Maka ICMI perlu terus bertanya dengan jernih: untuk apa energi cendekia ini dihimpun, dan kepada masa depan seperti apa ia diarahkan?

Pertanyaan itu bukan tanda ragu. Organisasi besar biasanya tidak takut bercermin. Ia tahu bahwa setiap zaman meminta jawaban yang berbeda. Bukan untuk menyalahkan masa lalu, tetapi untuk memastikan bahwa warisan besar tidak berhenti menjadi nostalgia. Sebab warisan yang sehat bukan hanya disimpan, tetapi juga diteruskan dengan cara yang lebih hidup.

Makna baru ICMI hari ini bisa diletakkan pada kebangkitan pengetahuan sekaligus kebangkitan Indonesia di era digital. Umat dan bangsa sedang menghadapi perubahan besar: kecerdasan buatan, disrupsi pendidikan, krisis etika publik, kesenjangan ekonomi, dan derasnya informasi yang sering lebih cepat daripada kebijaksanaan.

Di tengah semua itu, ICMI memiliki peluang untuk hadir sebagai rumah akal sehat, rumah ilmu, dan rumah nilai.

Agar peluang itu tidak menguap, pengetahuan di tubuh ICMI perlu mengalir. Nonaka dan Takeuchi dalam The Knowledge-Creating Company menjelaskan bahwa organisasi hidup ketika pengetahuan diciptakan, dibagikan, dan diinternalisasi.

Pengetahuan bukan benda mati yang cukup disimpan di arsip. Ia bergerak dari pengalaman menjadi pelajaran, dari kegiatan menjadi catatan, dari keberhasilan menjadi contoh, dan dari kekurangan menjadi bahan perbaikan.

Dalam konteks ICMI, ini sangat penting. Banyak pengurus daerah memiliki pengalaman baik. Banyak tokoh senior menyimpan hikmah panjang. Banyak generasi muda membawa cara pandang baru. Sayangnya, semua kekayaan itu bisa kurang terasa bila tidak dihimpun dan dibagikan. Bukan karena tidak ada ilmu, tetapi karena alirannya perlu dibuat lebih lancar. Kadang niat baik sudah banyak, hanya belum nemu tempat pulang.

Maka energi baru peradaban bisa dimulai dari hal sederhana. ICMI dapat menguatkan kebiasaan mencatat praktik baik daerah, menyimpan hasil diskusi, membagikan materi kajian, dan membuka ruang belajar lintas wilayah. Tidak perlu menunggu semuanya sempurna. Kadang sesuatu yang sederhana, kalau dirawat bersama, justru bertahan lebih lama.

Di sinilah gagasan seperti Knowledge Café, StoryBank, dan forum refleksi lintas wilayah bisa menemukan tempatnya. Knowledge Café menjadi ruang percakapan yang hangat. StoryBank menjadi tempat menyimpan pengalaman dan pembelajaran. Forum refleksi menjadi ruang untuk mendengar, bukan sekadar melaporkan.

Dari sana, ICMI bisa membangun best practice dan next practice: menghargai yang sudah baik, lalu menyiapkan cara baru yang lebih sesuai zaman.

Energi baru juga perlu ditopang oleh kolaborasi antar generasi. Senior membawa kedalaman, jejaring, dan pengalaman. Generasi muda membawa teknologi, kecepatan, dan keberanian mencoba.

Orang pintar bisa ditemukan di banyak tempat. Yang lebih sulit adalah menghadirkan ruang yang membuat mereka mau terus belajar satu sama lain. Bila ruang itu tumbuh, regenerasi tidak hanya berarti mengganti orang, tetapi mengalirkan nilai.

Akhirnya, semua energi itu perlu disusun menjadi barisan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. As-Saff [61]:4).

Ayat ini memberi pelajaran mendalam bahwa niat baik perlu disusun, ilmu perlu diarahkan, dan perjuangan perlu dijalankan dalam langkah yang seirama.

Mungkin inilah saatnya ICMI menata makna, mengalirkan pengetahuan, dan menguatkan barisan. Bukan untuk kembali menjadi masa lalu, tetapi untuk melanjutkan warisan dalam bahasa zaman sekarang.

Selama ilmu masih dibagi, silaturahim masih dijaga, dan barisan masih disusun dengan hati yang jernih, ICMI akan tetap memiliki napas panjang. Bukan sekadar hidup sebagai organisasi, tetapi bergerak sebagai energi peradaban.

Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jawa Timur

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.