Malam tasyakuran kemerdekaan, jangan asal makan-makan

Harus Diakui, Umat Islam Tombak Keberhasilan Kemerdekaan RI

Suaramuslim.net – Hari ini (nanti malam, 16 Agustus 2026, malam 17 Agustus 2026), di berbagai penjuru negeri, masyarakat akan berkumpul.

Di halaman kampung, balai desa, kantor pemerintahan, sekolah, kampus, pesantren, masjid, hingga lingkungan-lingkungan kecil di tengah masyarakat. Tumpeng dan berbagai sajian makanan mungkin disiapkan. Dan tentu saja doa terbaik akan dipanjatkan.

Kita menyebutnya sebagai malam tasyakuran kemerdekaan.

Tetapi jangan sampai malam tasyakuran hanya berhenti sebagai malam makan-makan. Jadikan malam ini untuk kita menundukkan kepala dan mengingat dari mana kemerdekaan itu berasal.

Para pendiri republik ini telah memberikan jawabannya dalam Pembukaan UUD 1945: bahwa kemerdekaan yang kita peroleh adalah “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…” Kalimat itu maknanya sangat dalam.

Para pendiri bangsa tidak menafikan perjuangan para pejuang kemerdekaan. Mereka justru mengabadikan seluruh perjuangan itu dalam sejarah. Tetapi mereka juga sadar bahwa setelah manusia mengerahkan seluruh ikhtiarnya, tetap ada tangan Tuhan yang menentukan. Manusia berjuang. Allah yang memberikan hasil.

Maka kemerdekaan adalah ikhtiar manusia sekaligus rahmat Allah. Dan karena ia adalah rahmat, kemerdekaan harus disyukuri. Tetapi syukur tidak cukup hanya dengan ucapan, kegembiraan, dan makan-makan. Syukur harus melahirkan kesadaran untuk menjaga nikmat.

Bagi warga Indonesia yang muslim, momentum ini harus menjadi refleksi mendalam. Di dalam Q.S. Al-A’raf ayat 96 Allah berfirman yang maknanya: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi…”

Ayat ini mengandung pelajaran sosial yang sangat besar. Allah berbicara tentang “ahlul-qurā” penduduk negeri-negeri. Artinya, ada dimensi kehidupan bersama di dalamnya. Ada masyarakat. Ada negeri. Ada kehidupan sosial. Dan Allah memberikan sebuah pelajaran penting, bahwa: iman dan takwa memiliki hubungan dengan keberkahan kehidupan.

Maka malam tasyakuran kemerdekaan sesungguhnya merupakan momentum yang sangat tepat untuk mengingatkan kembali bangsa ini tentang takwa. Untuk melakukan introspeksi bersama.

Kita sering berbicara tentang Indonesia maju. Kita berbicara tentang Indonesia Emas 2045. Kita berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, bonus demografi, hilirisasi, transformasi digital, kecerdasan buatan, daya saing global, pembangunan infrastruktur dan kemajuan teknologi.

Tetapi ada pertanyaan yang tidak kalah penting, yaitu: Manusia seperti apa yang akan membawa Indonesia menuju 2045?

Apakah manusia yang hanya cerdas tetapi kehilangan integritas? Apakah manusia yang menguasai teknologi tetapi tidak memiliki moral? Apakah manusia yang mengejar kekayaan tetapi tidak mengenal keadilan? Apakah manusia yang memiliki kekuasaan tetapi kehilangan rasa takut kepada Tuhan?

Kalau itu yang terjadi, kita mungkin akan memiliki Indonesia yang maju secara material, tetapi belum tentu Indonesia yang diberkahi.

Karena itu, pembangunan bangsa tidak cukup hanya membangun infrastruktur. Kita juga harus membangun karakter. Tidak cukup membangun kecerdasan. Kita harus membangun ketakwaan.

Ketakwaan dalam konstitusi kita

Menariknya, kata “ketakwaan” bukan sesuatu yang asing dalam bangunan kehidupan bernegara kita. Bahkan UUD 1945 Pasal 31 ayat (3) secara eksplisit menyebut keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia sebagai bagian dari tujuan penyelenggaraan sistem pendidikan nasional.

Ini penting. Artinya, ketika kita berbicara tentang ketakwaan dalam konteks Indonesia, maka sebetulnya Ketakwaan itu sendiri sudah merupakan bagian dari cita-cita membangun manusia Indonesia.

Pancasila menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama. Pembukaan UUD 1945 mengawali kemerdekaan dengan pengakuan “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.” Dan konstitusi kita berbicara tentang peningkatan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia.

Semua itu menunjukkan bahwa sejak awal para pendiri bangsa ini menyadari bahwa: bangsa yang besar membutuhkan manusia yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki arah moral.

Hubungan erat iman-takwa dan kemerdekaan

Lalu apa hubungan iman dan takwa dengan kemerdekaan? Hubungannya sangat dekat. Kemerdekaan memberi kita kebebasan. Takwa memberi kita arah dalam menggunakan kebebasan itu.

Tanpa ketakwaan, kebebasan dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan. Kekuasaan dapat berubah menjadi kesombongan. Kekayaan dapat berubah menjadi kerakusan. Ilmu dapat berubah menjadi alat penghancur. Teknologi dapat digunakan untuk menipu. Demokrasi dapat kehilangan substansi.

Karena itu, kemerdekaan membutuhkan moralitas. Dan moralitas membutuhkan manusia yang memiliki kesadaran bahwa di atas kekuasaan manusia masih ada kekuasaan Allah.

Mentalitas manusia merdeka

Para pahlawan kita telah memberikan pelajaran yang sangat berharga. Mereka berjuang. Mereka berkorban. Mereka tidak menyerah. Tetapi para pendiri republik akhirnya menundukkan kepala dan mengakui: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…”

Inilah keseimbangan yang perlu diwariskan kepada generasi muda. Jangan pernah mengajarkan kepada mereka bahwa keberhasilan cukup dicapai hanya dengan doa.

Tetapi jangan pula mengajarkan bahwa manusia dapat mencapai segala sesuatu hanya dengan kekuatannya sendiri.

Ajarkan: Beriman. Bertakwa. Berikhtiar. Bekerja keras. Berilmu. Berjuang. Lalu bertawakal. Inilah mentalitas manusia merdeka.

Cita-cita Indonesia merdeka

Dan jika kita ingin melihat gambaran sebuah negeri yang baik, Al-Qur’an memberi kita satu ungkapan yang sangat indah: “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafūr.” Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun. Ungkapan ini terdapat dalam Q.S. Saba’ ayat 15, ketika Al-Qur’an menggambarkan negeri Saba.

Kita tentu tidak boleh menyederhanakannya menjadi rumus mekanis bahwa setiap bangsa yang bertakwa otomatis akan menjadi negeri ideal tanpa ujian dan perjuangan.

Tetapi kita dapat mengambil hikmah besarnya: Bahwa sebuah negeri yang baik bukan hanya negeri yang kaya. Bukan hanya negeri yang maju. Bukan hanya negeri yang memiliki gedung-gedung tinggi dan teknologi canggih.

Tetapi negeri yang kehidupan masyarakatnya mewujudkan kemaslahatan, dan manusia di dalamnya memiliki hubungan yang baik dengan Tuhannya.

Itulah yang semestinya kita cita-citakan untuk Indonesia. Bukan sekedar Indonesia maju. Tetapi Indonesia yang maju dan diberkahi. Bukan sekedar Indonesia Emas. Tetapi Indonesia Emas yang beriman, bertakwa, berakhlak, adil dan bermartabat.

Maka malam ini, ketika masyarakat berkumpul dalam tasyakuran, mari kita jangan hanya bersyukur karena Indonesia telah merdeka. Mari kita juga memohon agar kemerdekaan itu terus diberkahi Allah.

Mari kita doakan para pemimpin agar diberi amanah. Para ilmuwan agar diberi kejernihan ilmu. Para guru dan dosen agar diberi kekuatan mendidik. Para pengusaha agar diberi rezeki yang halal dan keberanian membuka lapangan pekerjaan. Para penegak hukum agar diberi keberanian menegakkan keadilan.

Dan terutama anak-anak muda kita: agar mereka menjadi generasi yang cerdas pikirannya, bersih hatinya, kuat ikhtiarnya dan kokoh ketakwaannya. Sebab merekalah yang akan menerima estafet republik ini.

Menerjemahkan makna kemerdekaan

Besok pagi 17 agustus 2026, Merah Putih akan dikibarkan. Kita akan menyanyikan Indonesia Raya. Kita akan mengenang para pahlawan. Tetapi setelah upacara selesai, pekerjaan besar kita belum selesai.

Kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi pendidikan. Pendidikan harus melahirkan ilmu. Ilmu harus melahirkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan harus melahirkan keadilan. Dan semuanya harus bermuara pada kemaslahatan manusia dan keberkahan kehidupan.

Malam ini mari kita bersyukur. Bukan dengan kesombongan sebagai bangsa yang telah merdeka. Tetapi dengan kerendahan hati sebagai bangsa yang menyadari bahwa kemerdekaan adalah nikmat sekaligus amanah. Kita telah berjuang untuk meraih kemerdekaan. Sekarang tugas kita adalah menjaga agar kemerdekaan itu tetap menjadi jalan menuju keberkahan.

Dan kepada generasi muda kita titipkan pesan: Jangan hanya bercita-cita menjadi generasi emas. Jadilah generasi yang beriman dan bertakwa. Sebab Al-Qur’an telah mengingatkan: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (Terjemah Q.S Al-A’raf: 96)

Maka mari kita jadikan iman dan takwa bukan sekadar kata dalam pidato, tetapi karakter dalam kehidupan. Karena inilah salah satu kunci perjalanan Indonesia menuju 2045, yaitu: ilmu yang tinggi, teknologi yang maju, ekonomi yang kuat, demokrasi yang sehat, tetapi semuanya dituntun oleh iman dan takwa.

Sehingga cita-cita kita bukan sekedar menjadi negara maju. Tetapi menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafūr: negeri yang baik, kehidupan yang membawa kemaslahatan, dan masyarakat yang senantiasa berada dalam ampunan serta rahmat Allah.

Selamat menyambut 17 Agustus 2026. 81 tahun Indonesia merdeka. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Mari bersyukur. Mari bertakwa. Mari berikhtiar. Mari menjaga Indonesia. Agar kemerdekaan menjadi berkah, dan Indonesia menjadi negeri yang “Baldatun Thayyibatun Warobbun Ghofuur”.

Ulul Albab
Akademisi Unitomo Surabaya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.