SURABAYA (Suaramuslim.net) – Wisuda Universitas Airlangga (UNAIR) periode 263 digelar pada Sabtu (29/8/2026) di Airlangga Convention Center (ACC), Kampus MERR-C.
Di tengah euforia dan perasaan bangga atas lulusnya putra-putri terbaik UNAIR, Rektor UNAIR Muhammad Madyan mengajak para lulusan untuk menaruh perhatian dan keprihatinan terhadap musibah bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah.
Keprihatinan tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu dan kompetensi yang dimiliki lulusan harapannya dapat hadir sebagai bagian dari upaya memberikan solusi dan kontribusi nyata bagi sesama.
Sebagaimana yang disampaikan Guru Besar FEB itu, bahwa ilmu pengetahuan tidak semata-mata menjadi bekal untuk membangun kehidupan pribadi. Melainkan juga harus dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.
“Bencana alam mengingatkan kita bahwa di luar ruang-ruang akademik, masih banyak masyarakat yang membutuhkan uluran tangan,” katanya.
Ilmu yang hadir di masyarakat
Madyan juga berpesan pada para wisudawan untuk memanfaatkan ilmunya untuk hadir di tengah masyarakat, ikut serta membantu memberikan solusi atas persoalan yang ada.
“Menjadi bagian dari UNAIR bukan hanya tentang meraih gelar, tetapi bagaimana ilmu itu hadir saat masyarakat membutuhkan,” tegas Madyan.
Lebih lanjut, Madyan menegaskan bahwa dunia yang dimasuki lulusan saat ini tak lagi mengenal batas wilayah.
Para alumni diimbau untuk tidak membatasi pilihan karier hanya di satu kota atau satu negara saja. Melainkan berani melihat dunia sebagai ruang pengabdian yang lebih luas.
Untuk menghadapi tantangan global tersebut, para alumni dibekali kompetensi, integritas, moralitas, serta karakter HEBAT (Humble, Excellent, Brave, Agile, Transcendent).
“Kecerdasan saja tidak cukup. Dunia membutuhkan manusia yang kompeten sekaligus berkarakter,” lanjutnya.
Meski UNAIR berhasil bertengger di posisi 276 dunia dan peringkat ke-3 di Indonesia versi QS World University Rankings 2027, Rektor menegaskan bahwa pemeringkatan bukanlah tujuan akhir.
Indikator keberhasilan kampus yang sesungguhnya terletak pada seberapa luas dampak yang dirasakan masyarakat dari kerja-kerja alumni.
Menutup pesannya, Rektor mengutip sebuah kalimat dari Imam Syafii, “Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan” sebagai pengingat agar para Ksatria Airlangga terus belajar dan berdampak di mana pun mereka berada.
Pewarta: Uki Syafitri
Penyunting: Muhammad Nashir

