Suaramuslim.net – Laporan Badan Geologi Kementerian ESDM, aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) sejak 2 Juli 2026 berada pada Level III atau Siaga diikuti rangkaian erupsi tipe strombolian yang menghasilkan lontaran material pijar dan abu vulkanik.
Aktivitas GAK meningkat pada 5 September 2026 sekitar pukul 23.07 WIB ketika Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh dan fenomena lava fountain. Suara gemuruh diikuti getaran yang mempengaruhi bangunan di sekitarnya.
Erupsi abu vulkanik yang berukuran < 2 mm menyebar mengikuti pola angin dan memasuki ruang udara sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra. Kondisi inilah yang kemudian mengganggu operasional penerbangan.
Sehubungan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau tersebut aplikasi MAGMA memunculkan peringatan VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) kode merah yang berarti bisa membahayakan penerbangan.
Perusahaan AirNav Indonesia mengumumkan dan menyampaikan delapan bandara tersebut yakni Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Halim Perdanakusuma Jakarta, Radin Inten II Lampung, Husein Sastranegara Bandung, Budiarto Curug Tangerang, Pondok Cabe Tangerang Selatan, Taufik Kiemas di Pesisir Barat Lampung, serta Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatra Selatan.
Kenapa ditutup? Hal ini karena abu gunung api bisa mengganggu bahkan bisa membuat mesin pesawat mati.
VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) awalnya diterapkan oleh Alaska Volcano Observatory yang kemudian diadopsi oleh beberapa negara termasuk Indonesia.
VONA ini diberlakukan berdasarkan pengalaman pesawat British Airways dengan pesawat Boeing 747 nomor penerbangan BA 009 yang lepas landas dari Bandara Udara Heathrow untuk menuju tujuan akhir Selandia Baru pada 23 Juni (waktu setempat) di tahun 1982.
Rute penerbangan melayani dari Heathrow hingga Selandia Baru dengan transit di India, Malaysia, dan Australia. Pada tanggal 24 Juni pesawat ini melintasi langit Jakarta pada pukul 20.34 WIB. Radar menunjukkan cuaca normal tanpa ada anomali apapun.
Pada 20.40 WIB, salah satu kru melihat percikan api seperti tembakan senapan mesin. Asap pun tampak dan para kru mengira akibat dari kecerobohan penumpang yang merokok.
Situasi memburuk pada pukul 20.42 WIB ketika Flight Engineer berteriak, “Engine failure number four!”. Kemudian diikuti mesin yang lain dan akhirnya salah satu kru berteriak, “They’ve all gone!”, semua mesin mati.
Pada malam pukul 20.44 WIB, pesawat melayang di langit Jakarta tanpa satu pun mesin yang menyala. Pesawat ini dapat keluar dari awan abu, dan dapat mendaratkan pesawat dengan selamat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Tak satupun orang terluka.
Hasil investigasi pada mesin BA 009 menunjukkan adanya abu vulkanik yang menempel pada keempat mesin pendorongnya.
Sebaran abu vulkanik ini tidak terdeteksi radar pesawat karena radar dirancang untuk mendeteksi uap air, sementara abu vulkanik Galunggung tersebut kering. Abu vulkanik ini masuk ke dalam mesin pesawat dan meleleh ketika melalui ruang pembakaran. Lelehan ini kemudian akan menempel pada turbin pesawat macet dan gagal mengalirkan udara. Inilah yang membuat mesin BA 009 mati.
Pada tanggal 17 Mei 1982 Gunung Galunggung Jawa Barat erupsi menghasilkan letusan yang lebih eksplosif. Erupsi utama terjadi pada 3 hingga 5 juni dan 24 hingga 25 Juni. Pada 24-25 Juni srupsi menghasilkan kolom erupsi hingga 20 km dan bergerak ke arah barat. Kolom erupsi ini memotong rute yang dilalui British airways BA 009.
Kode warna VONA
Warna Hijau: Gunung berapi berada dalam keadaan normal dan tidak meletus, atau, setelah perubahan dari tingkat yang lebih tinggi: Aktivitas gunung berapi dianggap telah berhenti, dan gunung berapi kembali ke keadaan normal dan tidak meletus.
Warna Kuning: Gunung berapi mengalami tanda-tanda peningkatan di atas tingkat sebelumnya. Aktivitas gunung berapi telah menurun secara signifikan namun tetap diawasi secara ketat untuk kemungkinan peningkatan kembali.
Warna Orange: Gunung berapi menunjukkan peningkatan dengan kemungkinan letusan dengan ketinggian kolom di bawah 6000 meter di atas permukaan laut.
Warna Merah: Letusan diperkirakan akan segera terjadi dengan emisi abu yang signifikan dengan tinggi kolom di atas 6000 meter di atas permukaan laut.
Amien Widodo
Peneliti senior di Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS

