Nyaris tak tersorot: Wajah digital NU di Tambakberas

Suaramuslim.net – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, telah berlalu. Perhatian publik pun segera kembali kepada perkara-perkara yang lazim mengiringi perhelatan lima tahunan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu: persidangan, dinamika kepemimpinan, keputusan-keputusan organisasi, serta arah NU setelah memasuki babak baru.

Namun, ada wajah lain dari Muktamar ke-35 NU yang nyaris tak tersorot. Ia tidak berada di ruang pleno. Ia tidak muncul dalam perdebatan antar kelompok. Ia juga bukan tentang siapa yang memperoleh posisi strategis dalam organisasi.

Wajah itu terlihat pada benda-benda yang mungkin tampak sederhana mulai dari kartu identitas peserta berbasis RFID, Command Center, ratusan kamera pengawas, QR code, perangkat digital, ruang interaksi yang dirancang dekat dengan budaya media sosial, dan yang paling mencolok, ratusan drone yang setiap malam mengubah langit Tambakberas menjadi layar raksasa.

Di sana, wajah para muassis NU justru diterbangkan ke langit. Ada Mbah Hasyim Asy’ari. Ada Mbah Wahab Chasbullah. Ada Mbah Bisri Syansuri.

Sejarah NU, dalam arti tertentu, sedang dipresentasikan menggunakan bahasa teknologi abad ke-21. Dan mungkin justru di situlah salah satu cerita paling menarik dari Muktamar ke-35 NU.

Setiap malam, sepanjang kurang lebih 500 meter menuju ruang pleno, orang-orang menyempatkan diri berhenti untuk menyaksikan pertunjukan drone. Langit Jombang yang biasanya gelap berubah menjadi kanvas cahaya.

Lafaz Bismillah muncul. Kemudian Allah dan Muhammad. Logo Nahdlatul Ulama dan logo Muktamar ke-35 NU menyusul. Watertoren, salah satu ikon lokal Jombang, turut ditampilkan. Setelah itu, wajah KH Muhammad Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri hadir bergantian.

Bola dunia, sembilan bintang, Merah Putih, logo Pondok Pesantren Bahrul Ulum, tulisan “PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang”, serta ikon Masjid Bahrul Ulum melengkapi rangkaian visual tersebut.

Pertunjukan ditutup dengan ikon Muktamar ke-35 NU.

Orang-orang menengadah. Ribuan layar telepon pintar menyala. Mereka yang datang dari jauh bahkan rela berjalan kaki karena kemacetan demi menyaksikannya.

Di permukaan, semua itu mungkin hanya pertunjukan cahaya. Tetapi jika diperhatikan lebih jauh, drone tersebut sebenarnya sedang membawa pesan yang jauh lebih tua daripada teknologi yang digunakannya.

Wajah para pendiri NU diterbangkan di langit pesantren. Sejarah yang selama ini akrab dengan kitab, foto hitam-putih, manuskrip, dan cerita dari para kiai dipertemukan dengan teknologi yang identik dengan generasi digital.

Ada semacam paradoks yang menarik. Teknologi paling mutakhir justru digunakan untuk menampilkan ingatan paling tua.

Pertunjukan drone tersebut bukan improvisasi. Ada 16 formasi yang dirancang sebagai sebuah narasi visual tentang NU, para muassis, Jombang, dan Pesantren Tambakberas. Setiap formasi digambar, disimulasikan, dan diuji lebih dahulu menggunakan perangkat lunak koreografi tiga dimensi.

Jalur penerbangan setiap drone diperhitungkan agar tidak saling bertabrakan. Kecepatan, ketinggian, dan pencahayaan diatur dengan presisi. Teknologi RTK GPS digunakan untuk membantu menjaga akurasi posisi.

Tim teknis bahkan harus memastikan wajah para ulama tetap dapat dikenali dari kejauhan dan tulisan Arab terbaca dari sudut pandang penonton di tanah.

Di balik sekitar sepuluh menit pertunjukan itu terdapat kerja berbulan-bulan mulai dari riset visual tokoh NU, desain tiga dimensi, simulasi jalur terbang, pengujian, hingga koordinasi keamanan di tengah kawasan pesantren yang dipadati ribuan orang.

Menariknya, sosok yang berada di balik rancangan pertunjukan tersebut juga memiliki latar pesantren. Muhammad Rizqi Kevin Melodi, alumnus Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat, Sidoarjo, disebut menjadi sutradara drone show itu. Ia merupakan putra Helmy M Noor, alumnus Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

Detail tersebut seolah memberikan pesan tambahan bahwa teknologi tidak selalu datang dari luar tradisi. Generasi pesantren sendiri dapat menjadi pelaku transformasi teknologi.

Jika drone adalah wajah digital NU yang paling mudah dilihat, ada transformasi lain yang justru lebih penting karena berlangsung di balik layar.

Muktamar ke-35 NU menggunakan kartu identitas berbasis Radio Frequency Identification (RFID) untuk mendukung identifikasi peserta dan pengaturan akses selama kegiatan, termasuk akses menuju area penginapan bertingkat.

Di Sekretariat Muktamar juga terdapat Command Center yang terhubung dengan jaringan CCTV di sekitar 110 titik pemantauan. Dari pusat kendali tersebut, panitia dapat memantau kondisi lapangan secara langsung dan melakukan koordinasi ketika muncul kebutuhan operasional atau situasi yang memerlukan respons cepat.

Di sinilah digitalisasi Muktamar sebenarnya menjadi lebih substantif.

Teknologi tidak lagi sekadar menghasilkan gambar indah di langit. Ia bekerja dalam tata kelola. Mengelola peserta dalam jumlah besar membutuhkan identifikasi yang cepat. Mengelola kawasan yang padat membutuhkan sistem pemantauan. Mengkoordinasikan berbagai kegiatan yang berlangsung serentak membutuhkan pusat kendali.

Dengan kata lain, digitalisasi bukan semata soal terlihat modern. Ia menyangkut bagaimana organisasi bekerja. Bagi organisasi sebesar NU, persoalan tersebut tentu bukan perkara kecil.

Wajah digital itu juga tampak di tempat yang mungkin paling tidak disangka yaitu sejarah dan khazanah keilmuan NU.

Di Lounge Muktamar ke-35 NU, panitia menghadirkan ruang interaksi yang dilengkapi area foto dan fasilitas pendukung aktivitas digital. Ruang tersebut menjadi salah satu cara untuk mendekatkan perhelatan kepada generasi yang hidup dalam budaya dokumentasi dan media sosial.

Di sisi lain, pengenalan para muassis dan khazanah turots mulai ditempatkan dalam medium yang lebih akrab dengan generasi digital. QR code menjadi semacam jembatan. Satu pemindaian dengan telepon pintar dapat membawa seseorang dari ruang fisik menuju informasi digital.

Ini tampak sederhana. Tetapi sesungguhnya ia menyentuh persoalan besar yang dihadapi organisasi berbasis tradisi yakni bagaimana membuat warisan masa lalu tetap memiliki hubungan dengan generasi yang cara belajarnya telah berubah?

Tradisi tidak cukup hanya disimpan. Ia harus terus dikenalkan. Harus dibaca. Harus dipahami.

Dan, bila perlu, harus disampaikan melalui medium yang dipahami generasi baru. Kitab turots tidak menjadi kurang penting hanya karena informasi tentangnya dapat diakses melalui layar telepon.

Sebaliknya, digitalisasi justru dapat menjadi pintu pertama bagi seseorang untuk kemudian mencari kitab, guru, pesantren, dan tradisi keilmuan yang lebih luas.

Perubahan lain yang menarik adalah keterlibatan generasi Z. Santri Gen-Z dilibatkan dalam sejumlah aktivitas pendukung Muktamar.

Dalam aspek lingkungan, misalnya, terdapat program Warrior Carbon Santri Gen-Z yang berlangsung pada 26-31 Agustus 2026 dengan sistem kerja 24 jam untuk membantu menjaga kebersihan kawasan kegiatan.

Hal tersebut penting dicatat. Sebab, pembicaraan tentang generasi muda sering kali berhenti pada bagaimana organisasi dapat “menarik minat” anak muda.

Padahal, regenerasi tidak hanya membutuhkan anak muda sebagai penonton. Mereka harus menjadi pelaku. Mereka harus diberi ruang untuk bekerja, berinisiatif, mengambil tanggung jawab, dan mengembangkan cara baru menyelesaikan persoalan organisasi.

Dalam konteks itu, Muktamar Tambakberas memperlihatkan bahwa generasi muda tidak hanya hadir melalui telepon pintar yang mereka genggam. Mereka juga hadir sebagai tenaga penggerak kegiatan.

Tradisional tidak sama dengan tertinggal

Ada stereotip lama yang barangkali perlu ditinggalkan bahwa organisasi tradisional dianggap identik dengan keterbelakangan teknologi. Tambakberas memberikan gambaran yang berbeda.

Pesantren tetap menjadi pesantren. Kitab tetap menjadi kitab. Para muassis tetap dihormati. Sanad keilmuan tetap memiliki tempat.

Tetapi semuanya dapat hidup berdampingan dengan RFID, CCTV, Command Center, QR code, perangkat pintar, media sosial, dan drone. Di sini kita menemukan satu pelajaran penting bahwa modernisasi tidak selalu berarti meninggalkan tradisi.

Teknologi dapat menjadi alat untuk merawat tradisi, selama teknologi ditempatkan sebagai medium dan bukan tujuan.

Drone tidak mengubah siapa Mbah Hasyim. QR code tidak menggantikan kitab turots. RFID tidak mengubah identitas pesantren. Teknologi hanya mengubah cara pesan itu sampai kepada manusia. Dan perubahan cara menyampaikan pesan menjadi penting ketika generasi penerimanya juga berubah.

Namun, ada satu catatan yang patut diberikan. Jangan sampai digitalisasi berhenti sebagai kosmetik. Muktamar yang tampak digital belum tentu berarti organisasi telah mengalami transformasi digital.

Teknologi identifikasi, misalnya, membutuhkan pengelolaan data yang aman. Semakin banyak informasi peserta yang dikelola secara elektronik, semakin besar pula tanggung jawab terhadap keamanan dan perlindungan data pribadi.

Demikian pula Command Center membutuhkan infrastruktur, operator, prosedur, dan sistem respons yang memadai.

Bahkan penyelenggara Muktamar sendiri mengakui bahwa implementasi sistem digital membutuhkan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia, termasuk perhatian terhadap keamanan sistem serta perlindungan informasi pribadi.

Karena itu, ukuran keberhasilan transformasi digital NU tidak semestinya berhenti pada pertanyaan seseberapa canggih teknologi yang digunakan? Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang berubah setelah teknologi digunakan?

Apakah pelayanan menjadi lebih baik? Apakah organisasi menjadi lebih tertib? Apakah data lebih aman? Apakah generasi muda memperoleh ruang lebih besar? Apakah khazanah pesantren menjadi lebih mudah diakses? Apakah teknologi membuat organisasi lebih terbuka dan responsif?

Jika jawabannya ya, digitalisasi bukan lagi sekadar pertunjukan. Ia telah menjadi perubahan kultur organisasi.

Wajah NU memasuki abad kedua

Mungkin inilah wajah Muktamar ke-35 NU yang nyaris tidak tersorot. Di tengah ramainya pemberitaan mengenai dinamika muktamar, ada sebuah eksperimen sosial dan organisatoris yang berlangsung hampir tanpa banyak suara.

NU sedang mencoba mempertemukan tiga dunia yaitu dunia kitab, dunia organisasi, dan dunia digital. Generasi tua membawa ingatan. Generasi tengah membawa pengalaman organisasi. Generasi muda membawa bahasa baru. Ketiganya bertemu di Tambakberas.

Karena itu, ketika drone membentuk wajah Mbah Hasyim, Mbah Wahab, dan Mbah Bisri di langit, sebenarnya terjadi sebuah simbol yang lebih besar. Para muassis tidak sedang digantikan oleh teknologi. Mereka justru sedang diperkenalkan kembali melalui teknologi.

Itulah barangkali tantangan terbesar organisasi tradisional ketika memasuki abad keduanya. Bukan memilih antara tradisi dan teknologi. Melainkan menemukan cara agar teknologi bekerja untuk memperpanjang napas tradisi.

Muktamar akhirnya selesai. Drone kembali ke darat. Ribuan peserta meninggalkan Tambakberas. Lounge kembali sepi. Command Center tidak lagi dipenuhi aktivitas sebesar hari-hari muktamar.

Tetapi wajah digital NU tidak seharusnya ikut berhenti ketika panggung muktamar dibongkar. Sebab jika digitalisasi hanya hidup selama lima hari perhelatan, ia hanyalah teknologi acara.

Namun, jika pengalaman Tambakberas tersebut diteruskan ke pesantren, lembaga, badan otonom, perguruan tinggi, layanan warga, dokumentasi turots, pendidikan, dan tata kelola organisasi, maka yang lahir bukan lagi sekadar muktamar yang modern. Yang lahir adalah NU yang belajar memasuki abad keduanya tanpa kehilangan ingatan tentang dari mana ia berasal. Semoga.

Bustomi Menggugat
Mahasiswa Program Doktoral FISIP UNAIR yang riset disertasinya mengenai NU

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.