Tiket konser mahal ludes terjual, bukan indikator daya beli tinggi

SURABAYA (Suaramuslim.net) – Mendekati akhir tahun, banyak tiket konser maupun ajang hiburan berskala besar yang dibanderol dengan harga fantastis. Bahkan meski kerap melampaui Upah Minimum Regional (UMR) pun selalu ludes terjual dalam hitungan menit (sold out).

Beberapa orang menjadikan ini sebagai indikator bahwa daya beli masyarakat Indonesia sedang tinggi dan perekonomian nasional dalam kondisi baik-baik saja. 

Guru Besar Bidang Perilaku Konsumen Berkelanjutan UNAIR Gancar Candra Premananto, menegaskan bahwa maraknya fenomena tiket mahal yang habis terjual bukan merupakan indikator kuat tingginya daya beli masyarakat secara umum.

Fanatisme dan ilusi semu daya beli

Menurut Gancar, fenomena sold out tiket konser lebih berhubungan dengan faktor fanatisme dan loyalitas konsumen yang sangat kuat. Bukan semata-mata tingkat kesejahteraan ekonomi.

“Bukan masalah daya beli tinggi. Namun, lebih karena fanatisme tinggi dari para penggemar yang menjadikan mereka rela melakukan berbagai hal agar bisa membeli tiket. Seperti berhemat hingga memanfaatkan pinjaman online (pinjol),” ujar Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBUNAIR.

“Bagi mereka, pertunjukkan yang belum tentu terjadi setahun sekali tersebut layak menjadi prioritas untuk membahagiakan diri (self-reward),” imbuhnya.

Ia menambahkan, perdebatan di media sosial yang menganggap ekonomi Indonesia dalam kondisi aman hanya karena tiket konser habis terjual adalah sebuah ilusi.

Konsumsi tiket hiburan mahal dikategorikan sebagai pemenuhan kebutuhan tersier. 

“Padahal, pemenuhan kebutuhan tersier yang dilakukan saat ini merupakan bentuk konsumsi dengan short-term orientation (orientasi jangka pendek). Mengingat perekonomian jangka panjang penuh dengan ketidakpastian, konsumen memilih untuk membahagiakan dirinya dalam jangka pendek,” jelasnya.

Realitas makroekonomi dan bubble effect

Dari sudut pandang indikator makroekonomi seperti inflasi dan tingkat pengangguran, fenomena tiket konser mahal ini tidak serta-merta merefleksikan kondisi ekonomi nasional yang sesungguhnya.

Gancar menerangkan bahwa jumlah pembeli tiket konser ini sebenarnya hanya merepresentasikan porsi kecil dari total populasi (bubble effect).

Segmentasi pembeli tiket konser berdasarkan pada loyalitas konsumen yang sangat fanatik (hardcore loyalist).

Kondisi ini tidak bisa terukur dari konsumsi kebutuhan tersier yang sifatnya tidak rutin.

“Kapasitas stadion besar seperti GBK atau JIS mampu menampung 70 hingga 80 ribu penonton. Jumlah tersebut bahkan tidak sampai 1 persen dari total penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa. Porsinya sangat kecil dan sama sekali tidak merepresentasikan kondisi seluruh penduduk Indonesia,” paparnya.

Dampak ekonomi lokal dan pentingnya literasi keuangan

Sebagai penutup, Gancar mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dalam mengelola keuangan pribadi di tengah tren hiburan berbiaya tinggi.

Meski short-term orientation memiliki sisi positif. Seperti meningkatkan destination awareness dan ekonomi daerah secara sporadis, perhatian terhadap manfaat jangka panjang tidak boleh diabaikan.

“Sosialisasi dan literasi berinvestasi untuk produk-produk primer dan sekunder jangka panjang tetap perlu diperhatikan dan disikapi secara serius oleh masyarakat,” pungkasnya.

Pewarta: Mutia Arifin
Penyunting: Muhammad Nashir

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.