Banyak pakar, mengapa organisasi jadi tidak tambah pintar?

Suaramuslim.net – Suatu organisasi bisa memiliki banyak pakar, profesor, doktor, konsultan, dan tenaga profesional. Hampir setiap persoalan memiliki ahlinya sendiri. Tetapi ketika keahlian itu harus disinergikan dan digunakan bersama, urusannya justru bisa menjadi rumit.

Setiap bidang mempunyai target dan ukuran keberhasilan masing-masing. Rapat bahkan bisa berakhir dengan pembentukan tim baru untuk mengoordinasikan tim yang sudah ada.

Kita pandai mengumpulkan orang pintar, tetapi belum tentu pandai membuat mereka bekerja bersama.

Inilah salah satu paradoks pengelolaan organisasi di Indonesia. Begitu banyak kepintaran tersedia, tetapi mengapa sulit sekali menjadikannya kekuatan bersama?

Banyak pakar tapi gagal bersinergi

Dalam rapat pimpinan sebuah perguruan tinggi, setiap fakultas melaporkan prestasinya. Publikasi meningkat, kurikulum diperbarui, dan indikator kinerja tercapai. Namun, ketika muncul gagasan pembelajaran lintas disiplin, persoalan mulai muncul.

Siapa yang membiayai? Bagaimana pembagian tugasnya? Fakultas mana yang mendapat pengakuan kinerja? Siapa yang bersedia mengalahkan kepentingan fakultasnya demi kepentingan universitas? Jadi ruwet urusane.

Di perusahaan, persoalannya bisa berbeda. Bagian pemasaran berhasil meningkatkan penjualan, tetapi bagian produksi kewalahan memenuhi pesanan. Bagian keuangan bangga berhasil menekan biaya, sementara pelanggan mulai mengeluhkan kualitas pelayanan.

Masing-masing merasa telah bekerja dengan benar. Masing-masing telah mencapai targetnya, tetapi perusahaan secara keseluruhan justru menghadapi masalah.

Birokrasi pun mengenal persoalan serupa. Sebuah program pemerintah dapat melibatkan beberapa kementerian atau dinas yang masing-masing mempunyai kewenangan, anggaran, dan target sendiri.

Koordinasi menjadi pekerjaan tersendiri. Kadang lebih sibuk membicarakan siapa yang berwenang daripada bagaimana menyelesaikan persoalan.

Pola semacam ini juga bisa muncul dalam rumah sakit, organisasi profesi, dan organisasi kemasyarakatan. Pembagian keahlian memang diperlukan. Mustahil semua orang menguasai semua bidang.

Masalah muncul saat batas pekerjaan berubah menjadi batas kepedulian. Artinya, setiap bagian hanya peduli pada tugas dan targetnya sendiri, sementara persoalan yang menyangkut organisasi secara keseluruhan justru terabaikan.

Menghubungkan berbagai keahlian

David Epstein, melalui Range (2019), mengajak kita memahami manfaat pengalaman luas dan kemampuan melihat hubungan antarbidang.

Ketika persoalan semakin kompleks, pengetahuan yang mendalam saja belum tentu cukup. Kita juga membutuhkan kemampuan melihat masalah dari berbagai sudut.

Bukan berarti generalis selalu lebih unggul. Dokter spesialis, insinyur, ahli keuangan, dan pakar hukum tetap diperlukan. Keahlian mereka tidak tergantikan. Namun, siapa yang menghubungkan berbagai pengetahuan itu ketika sebuah persoalan tidak bisa diselesaikan oleh satu bidang saja?

Di sinilah orang dengan perspektif lintas disiplin memiliki peran penting. Ia tidak harus menjadi pakar dalam segala hal. Kemampuannya terletak pada memahami hubungan antarpersoalan, mempertemukan keahlian, dan membantu menemukan jalan keluar bersama.

Penelitian Uzzi dan koleganya (2013) terhadap 17,9 juta artikel ilmiah menemukan bahwa penelitian yang banyak dikutip umumnya bertumpu pada ilmu yang sudah mapan, lalu menghubungkan gagasan-gagasan yang sebelumnya jarang dipertemukan.

Temuan ini menunjukkan bahwa inovasi bisa lahir dari cara baru menggabungkan pengetahuan yang sudah ada.

Dalam organisasi, potensi semacam itu sering terhambat oleh sistem kerja. Anggaran terpisah, penilaian kinerja berjalan sendiri-sendiri, dan keputusan harus melewati banyak meja.

Seminar kolaborasi semakin ramai. Foto bersama juga lengkap. Sertifikat telah dibagi. Tetapi setelah kembali ke kantor, setiap orang kembali sibuk dengan urusannya.

Job description tidak berubah, target kinerja tetap sendiri-sendiri, dan anggaran masih terkotak-kotak. Kolaborasi ramai dibicarakan, tetapi tidak banyak mengubah cara organisasi bekerja.

Kita rajin membicarakan sinergi, tetapi belum tentu pandai menjalankannya.

Siapa yang menjahit semua kepintaran itu?

Robert M. Grant (1996) menjelaskan pentingnya mengintegrasikan pengetahuan khusus yang tersebar pada individu. Artinya, kekuatan organisasi tidak cukup ditentukan oleh banyaknya pakar, tetapi juga oleh kemampuan memanfaatkan pengetahuan mereka secara bersama.

Di sinilah pentingnya knowledge management. Pengetahuan para pakar tidak boleh berhenti pada keahlian masing-masing.

Pengalaman, temuan, dan solusi perlu dibagikan agar menjadi pengetahuan bersama. Dengan begitu, organisasi tidak harus terus bergantung pada orang tertentu atau mengulang kesalahan yang sama.

Di sinilah kepemimpinan diuji.

Pemimpin tidak harus menjadi orang paling pintar. Ia perlu memahami kapan sebuah persoalan membutuhkan keahlian berbeda, siapa yang harus dipertemukan, dan bagaimana mereka diberi ruang untuk bekerja bersama. Para pakar pun harus bersedia mendengarkan pandangan di luar bidangnya.

Perubahan bisa dimulai dari cara organisasi menangani persoalan. Daripada langsung menyerahkannya kepada satu unit, pimpinan dapat membentuk kerja lintas bidang berdasarkan kebutuhan masalah. Kewenangan, anggaran, dan ukuran keberhasilannya dirancang bersama.

Ada lima langkah yang bisa dicoba:

  • Mulai dari persoalan, bukan struktur. Tentukan masalah yang harus diselesaikan, baru pilih keahlian yang diperlukan.
  • Pertemukan para pakar. Jangan biarkan keahlian terkurung dalam unit kerja masing-masing.
  • Tunjuk penghubung lintas bidang. Pastikan ada yang mengawal kerja sama sampai menghasilkan keputusan.
  • Satukan ukuran keberhasilan. Nilai hasil organisasi, bukan hanya prestasi setiap bagian.
  • Hargai kerja kolaboratif. Berikan kewenangan, waktu, dan pengakuan bagi mereka yang bekerja melampaui batas unitnya.

Tidak semua persoalan membutuhkan tim baru. Kadang cukup mempertemukan orang yang tepat, memperjelas tanggung jawab, lalu memberi mereka kewenangan mengambil keputusan. Organisasi juga perlu belajar dari hasilnya, bukan sekadar mengarsipkan laporan kegiatan.

Kita patut bangga memiliki banyak profesor, doktor, konsultan, dan tenaga ahli. Namun, gelar dan kepakaran belum cukup jika pengetahuan mereka sulit bekerja bersama.

Apa artinya begitu banyak orang pintar jika persoalan masyarakat tetap menunggu jawaban?

Mungkin sudah waktunya kita berhenti menghitung jumlah pakar, lalu bertanya: sudah berapa banyak persoalan yang berhasil diselesaikan karena kepintaran mereka? Berapa banyak kehidupan masyarakat yang menjadi lebih baik berkat keahlian mereka?

Bagus Suminar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.