Suaramuslim.net – Belakangan ini, saya membaca berita “viral”. Sejumlah perwira tinggi kepolisian yang dikabarkan ditahan terkait dugaan penyadapan.
Ada hal menarik yang membuat saya berpikir.
Teknologi semakin canggih. Mengakses informasi, bahkan yang bersifat rahasia, secara teknis bisa saja dilakukan.
Tetapi, apakah karena seseorang memiliki kemampuan atau kewenangan, berarti ia boleh melakukan semuanya?
Bukankah dalam kehidupan kita juga demikian?
Di sinilah saya melihat hubungan menarik antara teknologi, keamanan data, dan integritas manusia.
Pagar tinggi, apakah sudah aman?
Pernahkah kita memperhatikan keamanan di lingkungan kampung?
Ada portal, pos keamanan dan petugas ronda.
Bahkan CCTV yang mengawasi aktivitas selama 24 jam.
Semua bertujuan menjaga keamanan warga.
Namun, saya jadi berpikir.
Bagaimana jika pelanggaran justru dilakukan oleh orang yang sudah dikenal? Orang yang setiap hari bebas melewati portal tanpa pemeriksaan?
Apakah pagar yang tinggi masih menjamin keamanan?
Pertanyaan ini mengingatkan saya pada konsep Network Security, atau keamanan jaringan komputer.
Ternyata, ada pelajaran menarik yang bisa kita hubungkan dengan kehidupan bermasyarakat.
Belajar dari keamanan jaringan
Secara sederhana, keamanan jaringan dapat kita tinjau dari dua sisi, yaitu Physical Security dan Logical Security.
Physical Security melindungi perangkat secara fisik.
Bayangkan sebuah ruang server yang menyimpan data penting institusi.
Secanggih apa pun firewall dan password yang digunakan, jika ruangannya terbuka untuk umum, orang bisa mematikan server, mencabut kabel, bahkan mengambil hard disk.
Artinya, keamanan digital tetap membutuhkan perlindungan fisik.
Sama seperti rumah. Kita membutuhkan pagar, pintu, dan kunci.
Namun, apakah seseorang yang berhasil masuk rumah berarti boleh membuka semua kamar?
Tentu tidak.
Di sinilah kita mengenal Logical Security, yaitu pengendalian akses terhadap sistem dan data.
Ada dua istilah menarik.
Authentication memastikan siapa yang masuk.
Authorization menentukan apa yang boleh dilakukan setelah masuk.
Keduanya berbeda.
Dikenal bukan berarti bebas bertindak
Seorang warga mungkin dikenal oleh seluruh tetangganya.
Namun, bukan berarti ia boleh masuk ke semua rumah, membuka lemari, atau mengambil barang milik orang lain.
Begitu pula di kampus.
Mahasiswa boleh menggunakan fasilitas pembelajaran, tetapi tidak boleh mengubah nilai akademik sesuka hati.
Dosen memiliki kewenangan akademik, tetapi tidak otomatis berhak membuka seluruh data keuangan institusi.
Di kantor pun demikian.
Pegawai yang dipercaya mengelola dokumen bukan berarti bebas menyebarkan isinya.
Bahkan seorang pimpinan tetap memiliki batas kewenangan.
Dalam teknologi, dikenal prinsip Least Privilege, yaitu memberikan hak akses hanya sesuai kebutuhan.
Kepercayaan tidak menghilangkan batas. Jabatan tidak menghapus aturan.
Saat ancaman datangnya dari dalam
Dalam keamanan jaringan, ancaman tidak selalu berasal dari luar.
Ada istilah Insider Threat, yaitu ancaman dari pihak dalam yang memiliki akses, baik karena kesengajaan maupun kelalaian.
Ada pula Social Engineering, ketika seseorang memanipulasi manusia untuk memperoleh informasi atau akses.
Bukankah kehidupan sosial juga demikian?
Ada yang membawa nama pimpinan untuk melewati prosedur.
Ada yang memanfaatkan kedekatan untuk memperoleh sesuatu yang bukan haknya.
Terkadang bukan pagar yang berhasil dibobol.
Justru kepercayaan yang disalahgunakan.
Integritas data dan integritas manusia
Dalam keamanan informasi, dikenal tiga prinsip:
Confidentiality, Integrity, dan Availability.
Kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan informasi.
Saya tertarik pada istilah integrity.
Dalam teknologi, integritas berarti menjaga data agar tetap utuh, akurat, dan tidak diubah secara tidak sah.
Dalam kehidupan, integritas berarti menjaga kejujuran, konsistensi, dan amanah.
Sistem komputer bisa membatasi akses dan mencatat perubahan data.
Namun, apakah teknologi otomatis menjadikan penggunanya jujur?
Belum tentu.
Seseorang bisa memiliki akses yang sah, tetapi menggunakannya untuk kepentingan yang tidak semestinya.
Teknologi mengatur apa yang bisa kita lakukan.
Integritas mengingatkan apa yang seharusnya kita lakukan.
Ketika tidak ada yang mengawasi
Di kampung, ada petugas ronda.
Di kantor, ada prosedur dan pengawasan.
Dalam sistem komputer, ada security log yang mencatat aktivitas pengguna.
Namun, bagaimana jika tidak ada yang mengawasi?
Di sinilah integritas manusia diuji.
Dalam Islam, Allah SWT mengingatkan dalam Q.S. An-Nisa ayat 58:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.
Data adalah amanah.
Kewenangan adalah amanah.
Jabatan juga amanah.
Keimanan menjadi fondasi, sedangkan ketakwaan mendorong kita menjaga amanah dalam tindakan nyata.
Dalam teknologi, kita mengenal Access Control.
Dalam kehidupan, kita membutuhkan Self-Control.
Sebab tidak semua yang mampu kita lakukan, pantas untuk kita lakukan.
Dari teknologi menuju makna
Pada akhirnya, keamanan jaringan tidak hanya mengajarkan cara melindungi server dan data.
Ia juga mengajarkan batas, kepercayaan, kewenangan, dan tanggung jawab.
Pagar yang tinggi dapat membatasi orang masuk.
Firewall yang kuat dapat membatasi akses jaringan.
Tetapi integritaslah yang menjaga manusia agar tidak menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan.
Teknologi boleh semakin canggih.
Namun, jangan sampai kemajuannya meninggalkan kejujuran dan amanah.
Karena keamanan bukan hanya tentang menjaga sesuatu dari orang lain, tetapi juga tentang kemampuan menjaga diri sendiri.
Inilah Sastra Teknik.
Dari Rumus Menuju Makna.
Firman Arifin
Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)

